Nama : Ni Made Dwi Agustini
Npm : 2413031086
Kelas : 24 C
A. Perkembangan Anggaran Sektor Publik
Dari materi yang saya baca, anggaran sektor publik sekarang sudah menjadi instrumen kebijakan yang fungsinya banyak, bukan cuma alat pengawasan dan pertanggungjawaban yang terpusat seperti dulu. Ada dua pendekatan utamanya, yaitu anggaran tradisional dan New Public Management (NPM).
B. Anggaran Tradisional
Ciri utamanya adalah incrementalism, yaitu anggaran hanya ditambah atau dikurangi dari data tahun sebelumnya tanpa kajian mendalam, dan line-item, yaitu pos yang sudah ada sulit dihapus walaupun sudah tidak relevan. Menurut saya di sinilah letak masalahnya: orientasinya ke input, bukan output, sehingga kinerja sulit dinilai secara akurat. Ditambah anggaran tahunannya tidak nyambung dengan rencana jangka panjang dan antar departemen terkesan berjalan sendiri-sendiri.
C. Pendekatan New Public Management (NPM)
NPM hadir dengan fokus pada kinerja, bukan sekadar kebijakan. Konsekuensinya pemerintah dituntut lebih efisien, memangkas biaya, dan bahkan bersaing lewat tender. Ini sejalan dengan konsep reinventing government dari Osborne dan Gaebler, di mana pemerintah diharapkan berorientasi pada hasil dan masyarakat sebagai pelanggan.
D. Perubahan Pendekatan Anggaran
Pendekatan barunya lebih komprehensif, terintegrasi lintas departemen, berjangka panjang, dan menghitung total cost dan benefit. Yang paling terasa bedanya, penilaiannya tidak berhenti di input saja tetapi sampai ke output dan outcome, dengan adanya pengawasan kinerja.
E. Anggaran Kinerja
Anggaran ini menekankan value for money, jadi yang dilihat bukan hanya berapa dana yang keluar, tetapi manfaat yang dihasilkan. Pengawasannya lewat internal cost awareness, audit keuangan, dan evaluasi kinerja eksternal.
F. Zero Based Budgeting (ZBB)
ZBB menyusun anggaran dari nol berdasarkan kebutuhan, bukan meneruskan angka tahun lalu. Tahapannya identifikasi unit keputusan, penyusunan paket keputusan, lalu perangkingan. Kelebihannya alokasi sumber daya lebih efisien dan mudah melihat pemborosan, tetapi prosesnya lama, melelahkan, dan butuh staf yang ahli.
G. Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS)
PPBS berorientasi pada output dan tujuan dengan alokasi sumber daya berdasarkan analisis ekonomi. Alurnya dari menentukan tujuan, mengidentifikasi program, mengevaluasi alternatif, memilih yang manfaatnya terbesar, baru dialokasikan. Kelebihannya bisa menghilangkan program yang tumpang tindih, tetapi butuh sistem informasi canggih dan biaya besar, jadi bagus di teori tapi sulit dipraktikkan.
Penutup
Menurut saya, ZBB dan PPBS sama-sama lahir untuk menutup kelemahan anggaran tradisional, tetapi keduanya terbentur masalah yang mirip: keterbatasan analisis (bounded rationality), data pembanding yang kurang, ketidakpastian politik dan ekonomi, serta hambatan birokrasi. Jadi tidak ada model yang benar-benar sempurna, semuanya tergantung kesiapan organisasi yang menerapkannya.
Npm : 2413031086
Kelas : 24 C
A. Perkembangan Anggaran Sektor Publik
Dari materi yang saya baca, anggaran sektor publik sekarang sudah menjadi instrumen kebijakan yang fungsinya banyak, bukan cuma alat pengawasan dan pertanggungjawaban yang terpusat seperti dulu. Ada dua pendekatan utamanya, yaitu anggaran tradisional dan New Public Management (NPM).
B. Anggaran Tradisional
Ciri utamanya adalah incrementalism, yaitu anggaran hanya ditambah atau dikurangi dari data tahun sebelumnya tanpa kajian mendalam, dan line-item, yaitu pos yang sudah ada sulit dihapus walaupun sudah tidak relevan. Menurut saya di sinilah letak masalahnya: orientasinya ke input, bukan output, sehingga kinerja sulit dinilai secara akurat. Ditambah anggaran tahunannya tidak nyambung dengan rencana jangka panjang dan antar departemen terkesan berjalan sendiri-sendiri.
C. Pendekatan New Public Management (NPM)
NPM hadir dengan fokus pada kinerja, bukan sekadar kebijakan. Konsekuensinya pemerintah dituntut lebih efisien, memangkas biaya, dan bahkan bersaing lewat tender. Ini sejalan dengan konsep reinventing government dari Osborne dan Gaebler, di mana pemerintah diharapkan berorientasi pada hasil dan masyarakat sebagai pelanggan.
D. Perubahan Pendekatan Anggaran
Pendekatan barunya lebih komprehensif, terintegrasi lintas departemen, berjangka panjang, dan menghitung total cost dan benefit. Yang paling terasa bedanya, penilaiannya tidak berhenti di input saja tetapi sampai ke output dan outcome, dengan adanya pengawasan kinerja.
E. Anggaran Kinerja
Anggaran ini menekankan value for money, jadi yang dilihat bukan hanya berapa dana yang keluar, tetapi manfaat yang dihasilkan. Pengawasannya lewat internal cost awareness, audit keuangan, dan evaluasi kinerja eksternal.
F. Zero Based Budgeting (ZBB)
ZBB menyusun anggaran dari nol berdasarkan kebutuhan, bukan meneruskan angka tahun lalu. Tahapannya identifikasi unit keputusan, penyusunan paket keputusan, lalu perangkingan. Kelebihannya alokasi sumber daya lebih efisien dan mudah melihat pemborosan, tetapi prosesnya lama, melelahkan, dan butuh staf yang ahli.
G. Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS)
PPBS berorientasi pada output dan tujuan dengan alokasi sumber daya berdasarkan analisis ekonomi. Alurnya dari menentukan tujuan, mengidentifikasi program, mengevaluasi alternatif, memilih yang manfaatnya terbesar, baru dialokasikan. Kelebihannya bisa menghilangkan program yang tumpang tindih, tetapi butuh sistem informasi canggih dan biaya besar, jadi bagus di teori tapi sulit dipraktikkan.
Penutup
Menurut saya, ZBB dan PPBS sama-sama lahir untuk menutup kelemahan anggaran tradisional, tetapi keduanya terbentur masalah yang mirip: keterbatasan analisis (bounded rationality), data pembanding yang kurang, ketidakpastian politik dan ekonomi, serta hambatan birokrasi. Jadi tidak ada model yang benar-benar sempurna, semuanya tergantung kesiapan organisasi yang menerapkannya.