Posts made by zara nur rohimah

AKM C2025 -> Diskusi

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C

Menurut saya hal tersebut mnunjukkkan sejumlah uang yang dimiliki hari ini bernilai lebih tinggi daripada jumlah yang sama di masa depan. Prinsip ini berlaku karena uang yang ada saat ini dapat segera diinvestasikan atau tabung untuk menghasilkan keuntungan (bunga), yang membuatnya "tumbuh" seiring waktu, dan juga karena adanya inflasi yang akan mengurangi daya beli uang di masa mendatang. Oleh karena itu, semua keputusan keuangan penting menggunakan Time Value of Money untuk menghitung Nilai Sekarang (Present Value) atau Nilai Masa Depan (Future Value) dari suatu arus kas.

TA C2025 -> CASE STUDY

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C

Pertanyaan Evaluatif:

1. Evaluasilah kelebihan dan kekurangan penggunaan fair value dibandingkan dengan historical cost dalam konteks pelaporan aset tetap di PT Nusantara Properti.
Jawab :
Kelebihan Nilai Wajar (Fair Value) :
- Relevansi Informasi: Nilai Wajar menyediakan informasi yang lebih relevan bagi investor untuk menilai posisi keuangan dan prospek perusahaan. Ini karena Nilai Wajar mencerminkan kondisi ekonomi dan harga pasar aset saat ini, yang sangat penting dalam pasar properti yang fluktuatif.
- Pengambilan Keputusan: Nilai Wajar lebih bermanfaat bagi pengguna eksternal karena mencerminkan ekspektasi pasar.
- Pencegahan Erosi Modal Fisik: Dalam jangka panjang, Nilai Wajar membantu manajemen mengenali biaya yang ditentukan pada nilai pasar saat ini, sehingga mencegah erosi kemampuan perusahaan untuk mendanai reproduksi input penuh (physical capital maintenance erosion).

Kekurangan Nilai Wajar (Fair Value):
- Keandalan (Reliability) dan Subjektivitas: Jika tidak ada pasar aktif, penentuan Nilai Wajar seringkali didasarkan pada asumsi pasar yang subyektif dan menggunakan data spesifik entitas, yang dapat mengurangi tingkat bukti dan keandalan (verifiability) pengukuran. Lonjakan nilai tercatat aset yang dihasilkan mungkin dipertanyakan oleh pemangku kepentingan.
- Risiko Keuntungan yang Belum Terealisasi: Keuntungan yang timbul dari revaluasi aset (Nilai Wajar lebih tinggi dari biaya) seharusnya tidak dimasukkan dalam laba bersih, terutama jika aset tetap tersebut tidak tersedia untuk dijual, karena ini dapat meningkatkan risiko erosi modal fisik jika laba tersebut didistribusikan.
- Kurangnya Komparabilitas Awal: Nilai Historis didasarkan pada kondisi yang dicapai pada pengakuan awal yang objektif, sedangkan Nilai Wajar mengubah basis pengukuran tersebut.

Kelebihan Biaya Historis (Historical Cost):
-Keandalan dan Objektivitas: Biaya Historis didasarkan pada harga transaksi aktual yang objektif dan terverifikasi.
-Stabilitas: Nilai Historis hanya berkurang jika terjadi penurunan nilai (impairment).

Kekurangan Biaya Historis (Historical Cost) :
- Relevansi Rendah: Untuk aset yang nilainya meningkat pesat, seperti properti komersial, Biaya Historis memiliki potensi informasi yang rendah dan dikritik oleh pengguna eksternal.


2. Dalam konteks Indonesia dan standar global (IFRS), sejauh mana penggunaan nilai wajar dapat meningkatkan relevansi tanpa mengorbankan keandalan informasi akuntansi?
Jawab : Dalam konteks IFRS, penggunaan Nilai Wajar dapat meningkatkan relevansi secara signifikan, tetapi berisiko
mengorbankan keandalan dalam beberapa situasi:
- Peningkatan Relevansi (Tinggi): Bagi PT Nusantara Properti yang bergerak di sektor properti yang volatil, informasi Nilai Wajar aset properti komersialnya jauh lebih relevan bagi investor dibandingkan biaya perolehan 20 tahun lalu. IFRS/PSAK 16 memang memberikan opsi revaluasi (Nilai Wajar) karena pembuat standar melihat relevansi sebagai kriteria utama.
- Pengorbanan Keandalan (Potensial): Keandalan terancam ketika penentuan Nilai Wajar sangat bergantung pada Model Penilaian (Level 2 atau 3 dalam hierarki IFRS 13) yang menggunakan input yang tidak dapat diamati di pasar aktif. Jika penilaian pihak ketiga didasarkan pada asumsi pasar yang terlalu subyektif, verifiability (kemampuan untuk diverifikasi) sebagai atribut keandalan akan rendah.
- Pengendalian Risiko: Untuk menjaga keandalan, standar IFRS 13 mengatur hierarki nilai wajar untuk memprioritaskan input pasar yang dapat diamati (Level 1 dan 2) dan meminimalkan penggunaan input spesifik entitas (Level 3). Dalam kasus properti, pengungkapan asumsi kunci dan sensitivitas (sesuai IFRS 13/PSAK 68) menjadi penting untuk memastikan transparansi dan keandalan informasi.

Secara keseluruhan, IFRS berupaya menyeimbangkan keduanya dengan memilih Nilai Wajar karena relevan, tetapi menuntut pengungkapan dan hierarki yang ketat untuk mempertahankan keandalan yang dapat diterima.


3. Jika Anda adalah anggota Komite Standar Akuntansi Keuangan (DSAK IAI), apa rekomendasi kebijakan Anda terkait penggunaan nilai wajar dalam pelaporan aset tetap di sektor properti? Berikan argumen yang didasarkan pada prinsip-prinsip pelaporan keuangan.
Jawab :
Sebagai anggota Komite Standar Akuntansi Keuangan (DSAK IAI), rekomendasi kebijakan terkait penggunaan Nilai Wajar dalam pelaporan aset tetap di sektor properti adalah sebagai berikut:
1. Mempertahankan Opsi Model Revaluasi (Nilai Wajar) pada PSAK 16, tetapi dengan Persyaratan Pengungkapan yang Lebih Ketat.
- Argumen (Relevansi): Keputusan ini harus dipertahankan karena Nilai Wajar memberikan informasi yang paling relevan bagi investor di sektor properti yang dinamis, memungkinkan mereka membuat keputusan yang lebih baik berdasarkan nilai aset saat ini.
- Argumen (Keandalan): Untuk mengatasi kekhawatiran tentang subjektivitas penilaian, DSAK IAI harus memperkuat persyaratan pengungkapan (sesuai adopsi IFRS 13/PSAK 68) untuk properti yang dinilai menggunakan Level 2 dan 3 dalam hierarki Nilai Wajar. Perusahaan harus diwajibkan mengungkapkan secara detail:
Asumsi kunci yang digunakan dalam penilaian (misalnya, tingkat kapitalisasi, pertumbuhan sewa).
Hubungan antara input yang tidak dapat diamati dan Nilai Wajar.
Analisis sensitivitas yang menunjukkan dampak perubahan asumsi kunci terhadap nilai aset.

2. Mewajibkan Pengakuan Keuntungan Revaluasi ke dalam Penghasilan Komprehensif Lain (OCI) secara Ketat.
- Argumen (Prinsip Kehati-hatian & Keandalan): Keuntungan revaluasi properti harus diakui di OCI dan bukan pada laba bersih. Hal ini didasarkan pada prinsip kehati-hatian dan untuk mencegah risiko erosi modal fisik. Keuntungan tersebut bersifat belum terealisasi dan tidak tersedia untuk dibagikan sebagai dividen. Pengakuan di OCI memastikan relevansi nilai aset tercapai di neraca tanpa memberikan sinyal laba yang menyesatkan di laporan laba rugi.

3. Mendorong Penggunaan Informasi Biaya Historis sebagai Informasi Tambahan.
Argumen (Keandalan dan Komparabilitas): Perusahaan yang memilih Model Revaluasi harus didorong (atau diwajibkan) untuk mengungkapkan nilai aset bersih berdasarkan Biaya Historis sebagai informasi tambahan (misalnya, di catatan atas laporan keuangan). Ini akan memastikan bahwa pengguna yang memprioritaskankeandalan dan verifiability tetap memiliki dasar yang kuat untuk perbandingan.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C

"Historical Costs versus Fair Value Measurement in Financial Accounting," membahas perdebatan utama dalam akuntansi mengenai cara menilai aset dan liabilitas pada tanggal akuisisi dan tanggal neraca. Standar IFRS semakin mendorong penggunaan Nilai Wajar (Fair Value), yang mencerminkan harga pasar dan kondisi ekonomi terkini, karena Nilai Wajar dianggap menawarkan potensi informasi yang lebih tinggi, membantu pemeliharaan modal fisik, dan meningkatkan objektivitas dibandingkan Biaya Historis. International Accounting Standards Board (IASB) bahkan pernah mengusulkan agar Nilai Wajar digunakan untuk semua aset dan liabilitas sejak pengakuan awal. Meskipun demikian, mayoritas standar saat itu masih hanya mewajibkan Nilai Wajar pada tanggal neraca dan Biaya Historis pada pengakuan awal.

Penggunaan Nilai Wajar memunculkan risiko signifikan, terutama untuk aset non-keuangan, karena penentuan nilainya seringkali didasarkan pada estimasi yang subjektif ketika pasar aktif tidak ada, sehingga menimbulkan keraguan atas keandalan data. Selain itu, memasukkan keuntungan revaluasi yang belum terealisasi ke dalam laba bersih dapat meningkatkan risiko erosi modal fisik. Isu ini semakin diperparah selama krisis keuangan, di mana pasar yang bergejolak membuat penentuan Nilai Wajar menjadi sulit, memicu desakan dari politisi dan ekonom untuk menangguhkan atau memodifikasi aturan tersebut dan kembali menggunakan pengukuran yang spesifik untuk entitas (entity-specific measurement). Penulis menyimpulkan bahwa akuntansi harus menggunakan kedua pendekatan untuk memberikan informasi yang lengkap, tetapi menyarankan agar informasi Nilai Wajar disajikan sebagai alternatif untuk mencegah distribusi keuntungan yang belum direalisasi kepada pemilik.

TA C2025 -> DISKUSI

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C

Video tersebut membahas dua cara utama perusahaan mencatat nilai aset dan liabilitas di neraca mereka. Biaya Historis adalah harga aset saat pertama kali dibeli, sedangkan Nilai Wajar adalah nilai pasar aset saat ini. Perusahaan harus memilih salah satu metode, tetapi setelah memilih, mereka harus menerapkannya secara konsisten pada semua aset dalam kategori yang sama. Nilai Wajar, yang sering membutuhkan penilai profesional untuk aset seperti real estate atau merek dagang, memberikan gambaran nilai yang lebih terkini, tetapi Biaya Historis memberikan nilai yang lebih pasti dan tidak memerlukan estimasi.