Posts made by zara nur rohimah

TA C2025 -> CASE STUDY

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C

1. Identifikasi dan jelaskan dua basis pengukuran yang relevan dalam kasus ini. Bandingkan kelebihan dan kekurangannya.
Jawab :
Dua basis pengukuran utama yang relevan dalam kasus ini adalah Biaya Historis (Historical Cost) dan Nilai Wajar (Fair Value).
- Biaya Historis Kelebihannya Keandalan Tinggi: Mudah diverifikasi karena didasarkan pada harga transaksi aktual di masa lalu. Kekurangannya Kurang Relevan: Nilai aset tidak mencerminkan harga pasar, terutama jika terjadi perubahan teknologi atau inflasi yang signifikan (seperti kasus PT Surya Terang di 2025).

- Nilai Wajar Kelebihannya Relevansi Tinggi: Mencerminkan kondisi pasar dan nilai ekonomi aktual mesin saat ini ($400 juta), sangat berguna untuk keputusan investasi. Kekurangannya Keandalan Rendah: Lebih subjektif karena didasarkan pada estimasi dan penilaian independen, yang dapat menimbulkan ketidakpastian pengukuran.


2. Jika PT Surya Terang memilih untuk menggunakan model revaluasi, sebutkan implikasi akuntansinya terhadap laporan keuangan, khususnya pada laporan posisi keuangan dan laba rugi.
Jawab :
Jika PT Surya Terang menggunakan model revaluasi dan nilai tercatat ($600 juta) lebih besar dari nilai wajar ($400 juta), maka terjadi Defisit Revaluasi atau Penurunan Nilai (Impairment) sebesar Rp200.000.000 ($600 juta - $400 juta).

A. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
-Aset Mesin: Nilai aset (mesin) akan diturunkan menjadi Rp400.000.000.
-Ekuitas: Penurunan nilai Rp200 juta ini akan mengurangi Laba Ditahan karena diakui sebagai beban di Laporan Laba Rugi.

B. Laporan Laba Rugi
-Beban Penurunan Nilai: Seluruh selisih kerugian revaluasi sebesar Rp200.000.000 akan diakui sebagai Beban Penurunan Nilai (Loss on Impairment).
-Dampak Laba: Laba Bersih tahun 2025 akan turun sebesar Rp200.000.000 akibat pengakuan beban tersebut.


3. Apakah pengukuran menggunakan nilai wajar lebih memenuhi karakteristik kualitatif relevansi dan keandalan dibandingkan biaya historis dalam konteks ini? Jelaskan dengan alasan kritis.
Jawab : Dalam konteks kasus ini, pengukuran menggunakan Nilai Wajar lebih memenuhi karakteristik kualitatif relevansi dan representasi jujur dibandingkan Biaya Historis.
- Relevansi: Nilai Wajar ($400 juta) jauh lebih relevan karena mencerminkan nilai ekonomi aktual mesin pasca guncangan teknologi. Informasi ini sangat penting bagi pengguna laporan untuk memprediksi arus kas masa depan dan menilai risiko aset. Nilai Biaya Historis ($600 juta) dianggap tidak relevan karena didasarkan pada kondisi pasar yang sudah tidak berlaku lagi.

- Keandalan (Representasi Jujur): Meskipun Biaya Historis unggul dalam aspek verifikasi (sangat objektif), ia gagal memberikan representasi yang jujur (faithful representation) atas kondisi ekonomi aset saat ini. Melaporkan aset yang hanya bernilai Rp400 juta sebagai Rp600 juta menyesatkan. Oleh karena itu, penurunan nilai ke Nilai Wajar, meskipun menggunakan estimasi, lebih jujur dalam menyajikan realitas ekonomi PT Surya Terang kepada para pemangku kepentingan.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C


Studi ini berpendapat bahwa tujuan Laporan Keuangan saat ini tidak kompatibel dengan prinsip-prinsip teori pengukuran, khususnya Teori Pengukuran Representasional (Representational Theory of Measurement), yang merupakan teori yang mendasari pengukuran dalam ilmu sosial. Masalah utama yang diangkat adalah bahwa akuntansi saat ini dianggap sebagai disiplin pengukuran yang memiliki tujuan yang lengkap, namun tidak didukung oleh teori pengukuran yang memadai. Teori pengukuran yang benar harus menetapkan tujuan, mendeskripsikan proses, dan menentukan standar serta skala pengukuran.

Kritik Utama terhadap Akuntansi:
1. Ketidakjelasan Objek Ukur: Akuntansi belum menentukan secara spesifik objek atau properti yang harus diukur, seperti "nilai" atau "kekayaan", yang dianggap ambigu dan tidak objektif.
2. Masalah Akurasi: Akuntansi menyiratkan adanya akurasi atau nilai "faktual" yang tidak konsisten dengan konsep ilmiah bahwa pengukuran selalu merupakan perkiraan (approximation) dan harus mencakup unsur kesalahan (error).
3. Ketidakcocokan Tujuan: Banyak tujuan laporan keuangan, seperti penggunaan asumsi kelangsungan usaha (going concern) yang membuat pengukuran bergantung pada peristiwa masa depan, tidak sesuai dengan prinsip pengukuran yang menyatakan bahwa pengukuran terjadi pada titik waktu tertentu.

TA C2025 -> DISKUSI

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
NPM : 2413031070
Kelas : 2024C

Menurut pendapat saya, video tersebut merupakan sumber belajar yang sangat efektif dan terstruktur mengenai dasar-dasar pengukuran (measurement bases) yang digunakan untuk menentukan nilai aset dan liabilitas dalam Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan. Video ini berhasil menjelaskan topik yang cukup teknis, seperti perbedaan antara Biaya Historis (harga perolehan awal), Nilai Wajar (Fair Value), Biaya Saat Ini (Current Cost), dan Nilai Pakai/Pemenuhan (Value in Use/Fulfillment Value), dengan menggunakan contoh numerik yang jelas dan mudah diikuti, sehingga sangat berharga bagi mahasiswa atau profesional yang mempelajari standar akuntansi (ACCA/IFRS). Secara keseluruhan, video ini memberikan fondasi yang kuat dan pemahaman yang baik mengenai pentingnya memilih metode pengukuran yang tepat untuk memastikan bahwa informasi keuangan yang disajikan dapat mencapai kriteria kualitas, yaitu representasi yang jujur dan relevan.

TA C2025 -> CASE STUDY

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C

Beberapa anggota dewan komisaris mempertanyakan:

1. Apakah penggunaan kerangka konseptual global (IFRS) sah diterapkan untuk perusahaan di Indonesia?
Jawab : Ya, penggunaan kerangka konseptual global (IFRS) sah diterapkan untuk perusahaan di Indonesia. Hal ini karena PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) yang berlaku di Indonesia secara substansial telah mengadopsi IFRS. Proses adopsi ini dilakukan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dengan tujuan utama untuk menyelaraskan standar pelaporan keuangan nasional dengan standar internasional. Dengan demikian, laporan keuangan yang disusun oleh PT Garuda Sejahtera menjadi komparabel dengan perusahaan global lainnya, yang sangat penting untuk menarik investor asing.
2. Apakah kerangka konseptual PSAK sudah cukup memadai untuk menjawab dinamika bisnis global?
Jawab : Kerangka konseptual PSAK sudah sangat memadai untuk menjawab dinamika bisnis global. Karena PSAK adalah adopsi dari IFRS, kerangkanya dirancang untuk menangani kompleksitas transaksi bisnis modern dan internasional, seperti instrumen keuangan dan pengakuan pendapatan. Kerangka ini berfokus pada penyediaan informasi yang relevan dan memiliki representasi yang jujur, dua karakteristik fundamental yang esensial agar laporan keuangan dapat dipercaya dan berguna bagi para pengambil keputusan di seluruh dunia.
3. Apakah nilai wajar benar-benar mencerminkan realitas ekonomi yang bisa diandalkan dalam konteks Indonesia?
Jawab : Nilai wajar tidak selalu dapat diandalkan dalam konteks Indonesia, terutama untuk aset yang tidak memiliki pasar aktif. Keandalan informasi akuntansi sangat bergantung pada keterverifikasian. Ketika pasar untuk aset (seperti pesawat) sangat terbatas, penentuan nilai wajar menjadi sangat subjektif dan mengandalkan estimasi. Hal ini dapat menyebabkan nilai yang dilaporkan tidak mencerminkan realitas ekonomi yang sesungguhnya dan berpotensi menyesatkan investor. Oleh karena itu, kekhawatiran auditor tentang penggunaan biaya historis yang lebih konservatif dan dapat diandalkan adalah sangat valid dan relevan.

Pertanyaan:

1. Kritisi keputusan PT Garuda Sejahtera dalam memilih nilai wajar sebagai dasar pengukuran. Apakah keputusan tersebut dapat dibenarkan secara konseptual dalam konteks Indonesia? Jelaskan dengan mengacu pada prinsip-prinsip dalam kerangka konseptual PSAK dan IFRS.
Jawwab : Keputusan PT Garuda Sejahtera untuk menggunakan nilai wajar sebagai basis pengukuran dapat dikritik dan dibenarkan dari sudut pandang konseptual. Secara konseptual, keputusan ini dapat dibenarkan karena sejalan dengan tujuan utama kerangka konseptual PSAK dan IFRS, yaitu menyediakan informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan. Nilai wajar mencerminkan kondisi ekonomi terkini dan sangat penting bagi investor global yang menjadi target PT Garuda Sejahtera. Penerapan nilai wajar juga mendukung prinsip "substance over form", di mana esensi ekonomi lebih diutamakan daripada bentuk legalnya.

Namun, keputusan ini juga bisa dikritik, terutama dalam konteks pasar Indonesia. Sesuai dengan catatan auditor, pasar aktif untuk pesawat di Indonesia sangat terbatas. Hal ini membuat penentuan nilai wajar menjadi sangat subjektif dan mengurangi keterverifikasian (verifiability) dan keandalan (reliability) informasi tersebut. Jika nilai wajar tidak dapat diverifikasi secara objektif, informasi tersebut berisiko menyesatkan pengguna laporan keuangan, yang bertentangan dengan karakteristik representasi yang jujur (faithful representation).

2. Bandingkan kerangka konseptual PSAK (Indonesia) dan IFRS dalam hal:
Jawab :
- Tujuan laporan keuangan : Kerangka Konseptual PSAK (Indonesia) Memberikan informasi yang bermanfaat bagi investor, pemberi pinjaman, dan kreditor dalam membuat keputusan ekonomi. dan Kerangka Konseptual IFRS Sama persis dengan PSAK.
- Karakteristik kualitatif informasi : Kerangka Konseptual PSAK (Indonesia) Memiliki dua karakteristik fundamental (Relevansi dan Representasi Jujur) dan empat karakteristik peningkat (Komparabilitas, Keterverifikasian, Ketepatan Waktu, dan Keterpahaman). dan Kerangka Konseptual IFRS Sama persis dengan PSAK.
- Basis pengukuran : Kerangka Konseptual PSAK (Indonesia) Memungkinkan penggunaan biaya historis dan nilai wajar, tergantung pada standar spesifik. Adopsi IFRS menyebabkan banyak standar PSAK mengarah ke nilai wajar. Sedangkan Kerangka Konseptual IFRS Sangat menekankan penggunaan nilai wajar sebagai basis pengukuran utama, terutama untuk aset yang memiliki pasar aktif.
- Asumsi entitas dan kelangsungan usaha : Kerangka Konseptual PSAK (Indonesia) Didukung oleh asumsi entitas akuntansi (bisnis sebagai entitas terpisah) dan kelangsungan usaha (perusahaan akan beroperasi untuk waktu yang tidak terbatas). dan Kerangka Konseptual IFRS Sama persis dengan PSAK.

Apakah Anda setuju bahwa Indonesia sebaiknya mengikuti sepenuhnya kerangka konseptual IFRS tanpa penyesuaian lokal? Jelaskan pendapat Anda dengan argumen kritis, mempertimbangkan faktor ekonomi, sosial, dan tingkat kematangan pasar di Indonesia.
Jawab : Saya tidak setuju bahwa Indonesia sebaiknya mengadopsi sepenuhnya kerangka konseptual IFRS tanpa penyesuaian lokal. Meskipun harmonisasi global membawa manfaat besar, ada beberapa alasan yang perlu dipertimbangkan:
- Faktor Ekonomi dan Kematangan Pasar: Tidak semua pasar aset di Indonesia selikuid di negara-negara maju. Penerapan nilai wajar secara penuh bisa menjadi tidak praktis dan tidak andal, sehingga penyesuaian lokal (seperti yang memungkinkan penggunaan biaya historis) diperlukan untuk menjaga kualitas dan keandalan laporan keuangan.
- Faktor Sosial dan Budaya: Budaya bisnis dan kerangka hukum di Indonesia berbeda. Standar yang sangat ketat dan seragam mungkin tidak selalu cocok dengan praktik bisnis lokal. PSAK, dengan adopsi IFRS yang fleksibel, memberikan keseimbangan yang diperlukan.
- Tingkat Kesiapan: Adopsi penuh membutuhkan kesiapan tinggi dari segi sumber daya manusia dan sistem informasi. Transisi yang terlalu cepat tanpa penyesuaian dapat menyebabkan kesulitan teknis dan kesalahan dalam pelaporan.
Oleh karena itu, strategi yang telah dilakukan Indonesia saat ini, yaitu mengadopsi IFRS namun tetap memiliki fleksibilitas dalam PSAK untuk membuat penyesuaian lokal, adalah pendekatan yang lebih bijak.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

by zara nur rohimah -
Nama : Zara Nur Rohimah
Npm : 2413031070
KeLAS : 2024C

Jurnal ini menyoroti bahwa penelitian empiris yang ada sebagian besar berorientasi pada US GAAP dan penelitian tentang batasan-batasan dalam CFW untuk IFRS (Standar Pelaporan Keuangan Internasional) masih terbatas. Tujuan utama dari kerangka konseptual adalah untuk menyediakan informasi keuangan yang berguna bagi investor, pemberi pinjaman, dan kreditor saat membuat keputusan tentang alokasi sumber daya. Namun, laporan keuangan bertujuan umum tidak menyediakan semua informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Oleh karena itu, pengguna harus mempertimbangkan informasi dari sumber lain, seperti kondisi ekonomi umum dan peristiwa politik.

Jurnal ini mengidentifikasi beberapa batasan spesifik dalam kerangka konseptual, di antaranya adalah:
1. Biaya Historis (Historical Cost): Nilai ini dianggap lebih dapat diandalkan (reliable) daripada nilai wajar (fair value) karena didasarkan pada catatan pembelian, meskipun nilai wajar dianggap lebih relevan. Namun, penggunaan biaya historis dapat menyebabkan informasi dalam laporan keuangan tidak memadai, terutama saat terjadi inflasi.
2. Kebijakan dan Estimasi Akuntansi: Kerangka konseptual berfungsi sebagai panduan ketika tidak ada standar akuntansi spesifik yang berlaku. Perubahan dalam estimasi akuntansi dapat muncul dari informasi atau perkembangan baru dan harus didasarkan pada informasi yang paling mutakhir dan dapat diandalkan.
3. Kesalahan dan Kecurangan Akuntansi: Adanya kesalahan dan kecurangan dapat mengurangi kualitas dan keandalan laporan keuangan.
4. Konservatisme: Konservatisme didefinisikan sebagai reaksi yang bijaksana terhadap ketidakpastian. Prinsip ini seringkali mengakui kerugian lebih cepat daripada keuntungan dan dapat membantu membatasi perilaku oportunistik manajemen. Namun, Kerangka Konseptual terbaru menyatakan bahwa informasi keuangan harus tidak bias, yang berpotensi berkonflik dengan prinsip konservatisme.