Posts made by Adinda Putri Zahra

TA C2025 -> CASE STUDY

by Adinda Putri Zahra -
Nama : Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083

1. Manajemen laba atau earnings management adalah cara manajemen memanipulasi laporan keuangan agar angka laba terlihat lebih baik, biasanya dengan mempercepat pengakuan pendapatan atau mengurangi biaya operasional. Di PT Karya Sentosa, terjadi kenaikan laba bersih sebesar 45% pada tahun 2022, dan analisis menunjukkan kemungkinan adanya manipulasi jenis accrual-based. Berikut penjelasan indikator-indikator utama yang mendukung dugaan ini, berdasarkan teori akuntansi:

1) Kenaikan besar pada akun piutang usaha:
Piutang usaha yang meningkat tajam bisa menunjukkan bahwa perusahaan mempercepat pengakuan pendapatan dari penjualan kredit, meskipun uang belum diterima. Ini adalah tanda bahwa perusahaan mungkin mencoba membengkakkan laba dengan metode accrual, meskipun belum ada arus kas yang nyata.
2) Penurunan cadangan kerugian piutang:
Biasanya, cadangan ini dibuat untuk menyiapkan dana menghadapi piutang yang tidak akan dibayar.Jika penurunan cadangan ini tidak wajar, bisa jadi manajemen mengurangi perkiraan kerugian agar laba terlihat lebih besar. Hal ini bertentangan dengan prinsip konservatisme dalam akuntansi (GAAP/IFRS), yang menuntut cadangan dibuat secara realistis berdasarkan data sebelumnya.
3) Peningkatan pendapatan yang tidak sesuai dengan arus kas operasi: Jika laba akuntansi meningkat tajam tetapi arus kas operasi tetap rendah, ini menunjukkan adanya perbedaan antara pendapatan yang diperhitungkan (accrual) dan kas yang benar-benar masuk.Ini bisa menjadi tanda bahwa laba dihitung berdasarkan metode accrual yang tidak didukung oleh arus kas yang cukup.

2. Dalam jurnal Abu Afifa, M., Saleh, I., Al-shoura, A., & Vo Van, H. (2024). Nexus among board characteristics, earnings management and dividend payout: evidence from an emerging market. International Journal of Emerging Markets, 19(1), 106-133 menggunakan pendekatan empiris-eksplanatori yang didasarkan pada Teori Keagenan, bertujuan untuk menguji hubungan kausal tertentu antara karakteristik dewan direksi, ML, dan kebijakan dividen di negara-negara berkembang. Metode yang mereka pilih adalah analisis regresi dengan data panel tingkat perusahaan, yang sering memanfaatkan teknik ekonometri canggih seperti GMM untuk mengatasi masalah endogenitas. Hasil utama yang didapatkan menunjukkan bahwa karakteristik dewan memiliki pengaruh signifikan dalam memoderasi hubungan antara ML dan kebijakan dividen, di mana ML dimanfaatkan oleh manajer untuk memastikan kestabilan pembayaran dividen. Sedangkan dalam jurnal Wardani, M. S., Saribu, Y. A. S. D., & Kesuma, S. A. (2023). Earnings management in corporate governance: A systematic literature review. Utsaha: Journal of Entrepreneurship, 74-94 menggunakan pendekatan Tinjauan Literatur Sistematis (SLR) dengan tujuan untuk menyatukan pemahaman mengenai hubungan antara Manajemen Laba (ML) dan Tata Kelola Perusahaan (CG). Metode yang diterapkan adalah proses SLR yang ketat, di mana dilakukan identifikasi, penyaringan, dan analisis terhadap penelitian-penelitian empiris yang relevan dari beragam basis data akademis, tanpa melakukan pengumpulan data keuangan primer. Hasil utama dari sintesis literatur ini menegaskan kesepakatan dalam Teori Keagenan, yang menunjukkan bahwa mekanisme CG yang kuat dan independen, seperti dewan yang lebih mandiri dan komite audit yang efisien, umumnya berhasil membatasi tindakan ML yang dilakukan oleh manajer. Namun, kajian ini juga menekankan adanya kekurangan dalam penelitian, terutama perlunya penyelidikan lebih lanjut mengenai peran mekanisme CG yang baru (contohnya keberagaman dewan) dan dampaknya terhadap Manajemen Laba Riil (REM), yang masih kurang dibahas dalam literatur dibandingkan dengan Manajemen Laba Berbasis Akrual.

3.Tidak, penerapan manajemen laba tidak selalu bersifat negative itu bergantung pada situasi, niat, dan konsekuensinya. Meskipun sering diasosiasikan dengan tindakan oportunis (seperti penipuan demi keuntungan pribadi), beberapa dari praktik ini dapat bersifat efisien atau menstabilkan. Manajemen laba dapat diterapkan untuk "penghalusan pendapatan", yang membantu mengurangi fluktuasi dalam laporan keuangan dan memperkuat kepercayaan para investor. Teori signaling (Spence, 1973) menjelaskan bahwa manajemen dapat mengubah laba untuk mengkomunikasikan informasi pribadi mengenai prospek ke depan, seperti mengakui pendapatan lebih cepat untuk menunjukkan adanya pertumbuhan. Riset yang dilakukan oleh Healy dan Wahlen (1999) menunjukkan bahwa perataan laba dapat menurunkan biaya modal, terutama di perusahaan yang memiliki risiko tinggi. Selain itu, dalam konteks pasar berkembang, sedikit manipulasi dapat membantu perusahaan untuk memenuhi syarat pinjaman atau investasi tanpa merusak nilai sebenarnya.

4.Kesimpulannya adalah indikator di PT Karya Sentosa menunjukkan adanya kemungkinan tindakan manajemen laba berbasis akrual yang dapat merusak kepercayaan pasar, meskipun tidak selalu berdampak negatif. Perbandingan catatan menunjukkan bahwa manipulasi akrual cenderung merugikan nilai, sedangkan kegiatan nyata dapat meningkatkan risiko. Secara keseluruhan, manajemen laba dapat memberikan dampak positif jika digunakan untuk penyeimbangan, tetapi sering kali memiliki efek negatif akibat adanya informasi yang tidak simetris.Rekomendasi untuk skateholder sendiri adalah untuk
melakukan adopsi tata kelola yang lebih baik, seperti pembentukan komite audit independen, untuk menghindari praktik manipulasi. Jika terbukti ada masalah, lakukan pernyataan ulang laporan untuk mengembalikan tingkat transparansi.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Adinda Putri Zahra -
Nama : Adinda Putri Zahra
NPM: 2413031083

Manajemen Laba (Earnings Management atau EM) adalah metodologi akuntansi yang rumit, di mana para manajer memanfaatkan kebebasan dalam pelaporan keuangan untuk mencapai target laba yang telah ditentukan, berada di antara batasan moral dan hukum. Aktivitas ini dipicu oleh dua motivasi: sebagian besar studi (sekitar 75%) menganggapnya sebagai perilaku yang oportunistik, di mana para manajer melakukan manipulasi laba seringkali dengan menggunakan EM Berbasis Akrual atau waktu transaksi aktual untuk meningkatkan kepentingan pribadi mereka melalui bonus atau ketentuan utang, yang pada akhirnya dapat menyesatkan para pemangku kepentingan. Namun, ada juga sejumlah kecil penelitian yang mendukung perspektif pensinyalan, di mana manajer menerapkan EM untuk menyampaikan informasi insider dengan lebih efisien dan menghasilkan arus laba yang lebih konsisten dan dapat diprediksi, yang bisa menguntungkan bagi para investor. Dengan demikian, EM menjadi masalah yang sangat penting karena dapat merusak kepercayaan terhadap informasi keuangan, meskipun di sisi lain diakui bahwa kebebasan manajerial bisa meningkatkan relevansi nilai laba.

Menurut pendapat saya, pengelolaan laba (Earnings Management/EM) adalah sebuah metode akuntansi yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, banyak penelitian menunjukkan bahwa EM sering kali dipicu oleh kepentingan pribadi manajer mereka mengubah angka laba demi keuntungan mereka sendiri (seperti bonus atau kontrak pinjaman), yang jelas berdampak negatif pada kualitas laporan keuangan. Namun, di sisi lain, EM bisa juga berfungsi sebagai alat sinyal yang logis, dimana manajer memanfaatkan kebijaksanaan untuk membuat laba lebih konsisten dan dapat diprediksi, sehingga meningkatkan pentingnya informasi bagi para investor. Oleh sebab itu, tantangan utama bukanlah melarang EM, tetapi membangun sistem pengawasan dan metode audit yang efektif untuk membedakan antara praktik pengelolaan laba yang memberikan informasi dan manipulasi yang hanya merugikan, terutama yang dilakukan melalui aktivitas nyata yang sulit terdeteksi.