Posts made by Dera Lediana

TA2025 -> DISKUSI

by Dera Lediana -
Dalam vidio tersebut mengajarkan mengenai apa itu teori akuntansi. Di masa lalu, ketika perdagangan masih dilakukan dengan kertas catatan sederhana. Orang berdagang gandum, kain, atau rempah, tapi sering bingung: berapa sebenarnya untung yang didapat? Di situlah akuntansi lahir. Akuntansi hadir bukan hanya untuk menghitung angka, tapi untuk menghadirkan keteraturan dan rasa percaya.

Cerita dalam video ini membawa kita mengenal Luca Pacioli, seorang biarawan Italia di abad ke-15. Luca Pacioli yang memperkenalkan pembukuan berpasangan. Setiap transaksi punya dua sisi, debit dan kredit. Dari ide itu, dunia belajar bahwa uang bisa dicatat secara sistematis. Sejak saat itu, akuntansi tumbuh menjadi bahasa universal bisnis.

Lalu, ada prinsip-prinsip yang hingga kini masih dijunjung. Misalnya, pendapatan diakui ketika benar-benar diperoleh, bukan hanya saat kas masuk. Atau, setiap biaya harus disandingkan dengan pendapatan yang relevan. Prinsip-prinsip ini seolah mengajarkan kita nilai hidup: jujur, adil, dan bertanggung jawab.

kemudian, di zaman modern ini dunia makin terhubung. Perusahaan di Asia, Eropa, dan Amerika perlu berbicara dengan bahasa yang sama. Dari sanalah lahir IFRS, standar akuntansi global yang membuat laporan keuangan bisa dimengerti lintas negara. Dengan ini, keterbukaan dan transparansi bisa dijaga, tidak peduli di mana kita berada.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Dera Lediana -
RESUME JURNAL

Bridging the gap between theory and practice in management accounting: Reviewing the literature to shape interventions

Penulis: E. Pieter Jansen
Jurnal: Accounting, Auditing & Accountability Journal, Vol. 31 No. 5, 2018, pp. 1486-1509

Penelitian ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik akuntansi manajemen, yang sering dikritik karena hasil penelitian tidak berdampak pada praktik. Akuntansi manajemen sebagai bidang terapan seharusnya menyediakan solusi untuk masalah praktis, namun sebagian besar literatur diklasifikasikan sebagai popularist science (rendah ketegasan teoritis dan metodologis, tinggi relevansi praktis) atau pedantic science (tinggi ketegasan, rendah relevansi praktis), dengan kurangnya pragmatic science yang menggabungkan kedua aspek tersebut.

Penulis menggunakan pengalaman proyek penelitian intervensi di perusahaan otomotif Van den Udenhout (VdU) sebagai dasar. Permasalahan praktis di VdU adalah kurangnya fokus pada hubungan pelanggan dan kerja sama antar departemen, yang mengakibatkan loyalitas pelanggan rendah meskipun kepuasan pelanggan tinggi. Dalam mengembangkan intervensi, pengetahuan teoritis dari literatur preskriptif dan akademis digunakan secara implisit, termasuk gagasan tentang fokus pelanggan, pengukuran kinerja non-keuangan, dan partisipasi karyawan.

Penelitian ini mengusulkan pendekatan tinjauan literatur sistematis yang terinspirasi dari teknik di bidang teknik dan kedokteran, yang disesuaikan untuk akuntansi manajemen. Tinjauan semacam ini harus fokus pada masalah praktis spesifik dan mengklasifikasikan solusi menurut empat pendekatan penerapan pengetahuan teoritis: (1) praktik berbasis bukti, (2) indikasi solusi potensial, (3) penjelasan praktik dan efeknya, serta (4) rekomendasi berbasis penalaran logis.

Setelah intervensi, analisis efek yang tidak terduga dapat memberikan dasar untuk menyempurnakan teori yang diidentifikasi dalam tinjauan literatur. Penelitian intervensi menjadi wadah yang efektif untuk mengembangkan pragmatic science, sementara publikasi hasil tinjauan literatur sistematis di jurnal akademis dapat membantu memperkuat hubungan antara teori dan praktik akuntansi manajemen.

TA2025 -> CASE STUDY

by Dera Lediana -
JAWABAN TERKAIT KASUS PT GARUDA SEJAHTERA

1. APAKAH PENGGUNAAN KERANGKA KONSEPTUAL GLOBAL (IFRS) SAH DITERAPKAN UNTUK PERUSAHAAN DI INDONESIA?

Secara hukum dan regulasi, penggunaan kerangka konseptual IFRS oleh perusahaan publik di Indonesia tunduk pada ketentuan yang berlaku:

- Kepatuhan terhadap Peraturan: Perusahaan publik di Indonesia wajib mengikuti PSAK yang disusun oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI. DSAK IAI telah menyelaraskan sebagian besar PSAK dengan IFRS, sehingga kerangka konseptual PSAK pada intinya memiliki kesamaan dengan IFRS terkait tujuan pelaporan keuangan, kualitas informasi akuntansi, dan elemen akuntansi.
- Penggunaan IFRS Secara Langsung: Sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perusahaan publik yang memiliki aktivitas bisnis global atau mengeluarkan surat berharga di pasar internasional dapat mengajukan permohonan untuk menggunakan IFRS secara langsung, namun harus tetap menyediakan informasi tambahan yang sesuai dengan ketentuan Indonesia jika diperlukan.
- Sifat Kerangka Konseptual: Kerangka konseptual IFRS dapat digunakan sebagai dasar interpretasi jika terdapat hal yang tidak diatur secara jelas dalam PSAK. Namun, perusahaan tidak boleh mengabaikan ketentuan spesifik dalam PSAK hanya dengan mengacu pada kerangka konseptual IFRS.

Kesimpulan: Penggunaan kerangka konseptual IFRS dapat diterapkan secara sah jika tidak bertentangan dengan PSAK dan peraturan lokal, serta jika perusahaan memenuhi syarat yang ditetapkan oleh regulator. Namun, penggunaan nilai wajar harus tetap sesuai dengan ketentuan dalam PSAK 16 (Aset Tetap) atau PSAK yang relevan untuk pesawat penerbangan.

2. APAKAH KERANGKA KONSEPTUAL PSAK SUDAH CUKUP MEMADAI UNTUK MENJAWAB DINAMIKA BISNIS GLOBAL?

Kerangka konseptual PSAK yang telah diselaraskan dengan IFRS memiliki kemampuan untuk menjawab dinamika bisnis global, namun terdapat beberapa pertimbangan:

- Kesamaan Inti: Kerangka konseptual PSAK memiliki tujuan yang sama dengan IFRS, yaitu menyediakan informasi keuangan yang relevan dan dapat dipercaya bagi pemangku kepentingan. Hal ini memudahkan perusahaan Indonesia untuk berkomunikasi dengan investor global dan melakukan perbandingan dengan perusahaan internasional.
- Adopsi Bertahap: DSAK IAI terus memperbarui PSAK untuk mengikuti perkembangan bisnis global, seperti penyelarasan dengan perubahan pada IFRS terkait pengukuran nilai wajar, instrumen keuangan, dan pelaporan berkelanjutan.
- Keterbatasan Potensial: Meskipun telah diselaraskan, terdapat beberapa area di mana kerangka konseptual PSAK mungkin perlu disesuaikan lebih lanjut dengan kondisi khusus bisnis di Indonesia, seperti pada pengukuran aset di pasar yang belum matang atau perlakuan terhadap transaksi yang khas untuk sektor tertentu di Indonesia. Selain itu, kapasitas praktisi akuntansi dan auditor di Indonesia dalam menerapkan standar yang kompleks masih perlu ditingkatkan agar dapat mengikuti dinamika bisnis global dengan efektif.

Kesimpulan: Kerangka konseptual PSAK secara umum sudah memadai untuk menjawab dinamika bisnis global, terutama karena telah diselaraskan dengan IFRS. Namun, perlu adanya pembaruan berkelanjutan dan penguatan kapasitas profesional untuk memastikan penerapannya yang efektif dan relevan dengan kondisi lokal.

3. APAKAH NILAI WAJAR BENAR-BENAR MENCERMINKAN REALITAS EKONOMI YANG BISA DIANDALKAN DALAM KONTEKS INDONESIA?

Penerapan nilai wajar dalam konteks Indonesia memiliki sisi positif dan tantangan yang perlu diperhatikan:

- Kondisi yang Mendukung Keandalan:
- Sektor dengan Pasar Aktif: Pada sektor tertentu seperti instrumen keuangan atau properti investasi di kota besar, nilai wajar dapat mencerminkan realitas ekonomi dengan baik karena terdapat data transaksi yang cukup dan pasar yang relatif aktif.
- Dukungan untuk Investasi Global: Penggunaan nilai wajar membuat laporan keuangan perusahaan Indonesia lebih mudah dipahami oleh investor asing, sehingga dapat meningkatkan daya tarik investasi dan integrasi dengan pasar modal global.
- Tantangan dalam Menjamin Keandalan:
- Pasar yang Terbatas: Seperti pada kasus pesawat penerbangan, pasar aktif untuk aset tertentu di Indonesia sangat terbatas. Hal ini menyebabkan penentuan nilai wajar harus bergantung pada estimasi dan asumsi yang subjektif, seperti penggunaan model penilaian atau referensi pasar internasional yang mungkin tidak mencerminkan kondisi ekonomi lokal (misalnya perbedaan biaya operasional, regulasi, dan permintaan pasar).
- Kapasitas Penilai Independen: Meskipun jumlah penilai yang berkwalifikasi terus bertambah, masih terdapat ketidaksejajaran dalam kapasitas dan standar penilaian di berbagai wilayah di Indonesia. Hal ini dapat menyebabkan perbedaan dalam hasil penilaian dan mengurangi keandalan informasi.
- Volatilitas Pasar: Pasar ekonomi Indonesia dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti fluktuasi kurs, inflasi, dan ketidakpastian politik, yang dapat membuat nilai wajar menjadi tidak stabil dan sulit untuk mencerminkan realitas ekonomi jangka panjang.

Kesimpulan: Nilai wajar dapat mencerminkan realitas ekonomi yang dapat diandalkan jika terdapat pasar aktif dan data yang memadai. Namun, dalam konteks Indonesia di mana pasar untuk beberapa aset masih terbatas, penggunaan nilai wajar perlu didukung oleh pengendalian yang ketat, pengungkapan yang transparan, dan penyesuaian terhadap kondisi lokal agar dapat menjamin keandalan informasi.

TA2025 -> DISKUSI

by Dera Lediana -
Pendapat saya setelah menyimak video ACCA Financial Reporting (FR) dari OpenTuition tentang kerangka pengukuran dalam pelaporan keuanganya:
Video tersebut memberikan penjelasan mendalam dan sistematis pengukuran aset dan kewajiban dalam laporan keuangan berdasarkan kerangka konseptual IFRS. Fokus utama adalah bagaimana menentukan nilai yang tepat untuk aset dan liabilitas agar laporan keuangan dapat menyajikan informasi kuantitatif yang relevan dan dapat dipercaya.

Beberapa poin penting yang dijelaskan di dalamnya:
- Pengukuran harus mengikuti kriteria fundamental dalam kerangka konseptual yaitu relevansi dan representasi setia (representasi yang andal dan lengkap). Angka yang dipilih tidak bisa sembarang, melainkan harus menggunakan metode pengukuran yang tepat.
Ada beberapa dasar pengukuran utama yang dibahas, seperti:
- Historical cost (biaya historis) yaitu nilai perolehan awal aset atau kewajiban dikurangi depresiasi.
- Nilai wajar (nilai wajar) yang didasarkan pada harga pasar saat ini, sesuai IFRS 13 yang secara khusus mengukur pengukuran nilai wajar. Contohnya nilai wajar bisa lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan biaya historis.
- Current cost (biaya penggantian saat ini) yang menunjukkan berapa biaya untuk membeli aset yang sama pada saat kini, cocok untuk aset khusus yang pasar aktifnya terbatas.
- Value in use(nilai guna) yaitu nilai kini arus kas masa depan dari penggunaan aset tersebut, menjelaskan manfaat ekonomi yang diharapkan.