གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Az Zahra Syahlia Putri

AKM B2025 -> Diskusi

Az Zahra Syahlia Putri གིས-
Nama : Az Zahra Syahlia Putri
Npm : 2413031041

Izin menjawab, Selama periode harga meningkat, metode LIFO (Last In, First Out) cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan dengan metode FIFO (First In, First Out). Hal ini karena LIFO mengasumsikan bahwa barang yang terakhir masuk adalah yang pertama keluar, sehingga biaya persediaan yang lebih tinggi (yaitu harga beli yang lebih tinggi) akan dibebankan ke harga pokok penjualan (HPP), sehingga laba kotor dan laba bersih akan lebih rendah.

Sebaliknya, FIFO mengasumsikan bahwa barang yang pertama masuk adalah yang pertama keluar, sehingga biaya persediaan yang lebih rendah (yaitu harga beli yang lebih rendah) akan dibebankan ke HPP, sehingga laba kotor dan laba bersih akan lebih tinggi.

Selama periode penurunan harga, situasi akan berbalik. LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi karena biaya persediaan yang lebih rendah (yaitu harga beli yang lebih rendah) akan dibebankan ke HPP, sehingga laba kotor dan laba bersih akan lebih tinggi. Sebaliknya, FIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah karena biaya persediaan yang lebih tinggi (yaitu harga beli yang lebih tinggi) akan dibebankan ke HPP.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih rendah selama periode harga meningkat dan lebih tinggi selama periode penurunan harga, sedangkan FIFO menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi selama periode harga meningkat dan lebih rendah selama periode penurunan harga.

TA B 2025 -> CASE STUDY

Az Zahra Syahlia Putri གིས-
Nama : Az Zahra Syahlia Putri
Npm : 2413031041
Izin menjawab studi kasus nya Bu/pak
Indonesia sebaiknya tidak mengikuti sepenuhnya kerangka konseptual IFRS tanpa penyesuaian lokal hal itu disebabkan oleh beberapa alasan seperti:
1. kondisi ekonomi dan pasar yang mana Indonesia memiliki kondisi ekonomi dan pasar yang unik sehingga penyesuaian lokal diperlukan untuk memastikan bahwa laporan keuangan mencerminkan realitas ekonomi yang sebenarnya
2. Tingkat kematangan pasar yang mana pasar modal Indonesia masih berkembang sehingga perlu penyesuaian untuk memastikan bahwa laporan keuangan dapat dipahami dan dipercaya oleh investor
3. Kebutuhan investor lokal yang mana investor lokal memiliki kebutuhan yang berbeda dengan investor asing sehingga penyesuaian lokal diperlukan untuk memastikan bahwa laporan keuangan mencerminkan kebutuhan investor lokal.
Dalam kesimpulannya PT Garuda sejahtera perlu mempertimbangkan penggunaan kerangka konseptual PSAK yang telah disesuaikan dengan kebutuhan lokal serta memastikan bahwa penggunaan nilai wajar sebagai dasar pengukuran dapat diandalkan dan mencerminkan realitas ekonomi yang sebenarnya di Indonesia.