གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Fadhilah Izdihar

TA B 2025 -> DISKUSI

Fadhilah Izdihar གིས-
Nama : Fadhilah Izdihar
NPM : 2413031068
Kelas : 2024B
Respons saya terhadap video “Reporting on SDGs” adalah bahwa video tersebut mampu menjelaskan secara jelas mengapa pelaporan SDGs menjadi semakin penting bagi perusahaan. Isinya menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak lagi dilihat sebagai kegiatan tambahan, tetapi sebagai bagian dari strategi inti yang dapat mendorong inovasi dan meningkatkan posisi kompetitif perusahaan. Penekanan pada transparansi serta akuntabilitas juga selaras dengan Target 12.6, karena laporan yang terbuka membantu membangun kepercayaan investor, konsumen, dan karyawan. Selain itu, pelaporan SDGs membuat perusahaan lebih sadar terhadap dampak operasional mereka, sekaligus membantu mengidentifikasi risiko dan peluang di tengah isu global seperti perubahan iklim. Video ini menegaskan bahwa pelaporan SDGs bukan sekadar kewajiban, melainkan praktik strategis yang mendukung legitimasi dan ketahanan perusahaan dalam jangka panjang.

TA B 2025 -> DISKUSI

Fadhilah Izdihar གིས-
Nama : Fadhilah Izdihar
NPM : 2413031068

Aspek perilaku dalam akuntansi menekankan bahwa laporan dan aturan akuntansi selalu memengaruhi, sekaligus dipengaruhi oleh, cara manusia bertindak. Karena itu, urgensinya terletak pada kebutuhan untuk memahami motivasi, bias, dan reaksi para pelaku agar standar yang dibuat tidak hanya benar secara teknis, tetapi juga realistis diterapkan dan tidak memicu perilaku oportunistik.

Proses standard-setting berjalan dari identifikasi isu, penyusunan konsep, publikasi draf, hingga finalisasi, namun seluruh tahap tersebut berada dalam konteks ekonomi politik. Artinya, standar dibentuk melalui tarik-menarik kepentingan—perusahaan, auditor, investor, regulator—yang masing-masing terdampak secara ekonomi. Hasil akhirnya merupakan kompromi antara pertimbangan teknis, perilaku, dan kepentingan politik-ekonomi

AKM B2025 -> Diskusi

Fadhilah Izdihar གིས-
Nama : Fadhilah Izdihar
NPM : 2413031068

Aset tak berwujud diakui dalam laporan keuangan ketika aset tersebut dapat diidentifikasi, mampu memberikan manfaat ekonomi di masa depan, dan nilai perolehannya dapat diukur secara andal. Aset dapat berasal dari pembelian, pertukaran, atau kegiatan pengembangan yang memenuhi syarat, sedangkan biaya penelitian tidak boleh diakui sebagai aset. Setelah dicatat, aset tak berwujud dinilai menggunakan model biaya, yaitu sebesar biaya perolehannya setelah dikurangi amortisasi dan penurunan nilai, atau menggunakan model revaluasi jika tersedia pasar aktif, meskipun cara ini jarang digunakan. Aset dengan umur manfaat terbatas harus diamortisasi secara sistematis, sedangkan aset dengan umur tak terbatas tidak diamortisasi tetapi diuji penurunan nilainya setiap tahun. Dalam penyajiannya, aset tak berwujud ditampilkan pada bagian aset tidak lancar dalam neraca, dan perusahaan perlu mengungkapkan metode amortisasi, umur manfaat, nilai tercatat, serta perubahan atau penurunan nilai yang terjadi. Beban amortisasi disajikan dalam laporan laba rugi sebagai bagian dari biaya periode berjalan.