Nama: Rizky Widyaningrum
NPM: 2413031060
Jurnal ini membahas perbedaan antara biaya historis (historical cost) dan nilai wajar (fair value) dalam akuntansi. Biaya historis memakai harga beli awal suatu aset, sehingga lebih stabil dan mudah dicek, tetapi kadang kurang sesuai dengan kondisi ekonomi sekarang. Sedangkan nilai wajar menilai aset sesuai harga pasar saat ini, jadi lebih relevan dan informatif, meskipun bisa berisiko karena harga pasar sering berubah-ubah dan tidak selalu ada data yang jelas. Dalam standar akuntansi internasional (IFRS), nilai wajar makin sering dipakai, terutama untuk instrumen keuangan dan properti, walaupun pencatatan awal biasanya masih pakai biaya historis.
Saat terjadi krisis keuangan, penggunaan nilai wajar menuai perdebatan karena jatuhnya harga pasar bisa membuat laporan keuangan terlihat lebih buruk. Karena itu, beberapa pihak memberi kelonggaran untuk tidak sepenuhnya menggunakan nilai wajar. Penulis menyimpulkan bahwa tidak ada metode yang paling tepat untuk semua situasi. Sebaiknya, keduanya digabung: nilai wajar cocok untuk aset keuangan, sedangkan biaya historis lebih sesuai untuk aset non-keuangan. Dengan begitu, laporan keuangan bisa tetap relevan sekaligus dapat dipercaya.
NPM: 2413031060
Jurnal ini membahas perbedaan antara biaya historis (historical cost) dan nilai wajar (fair value) dalam akuntansi. Biaya historis memakai harga beli awal suatu aset, sehingga lebih stabil dan mudah dicek, tetapi kadang kurang sesuai dengan kondisi ekonomi sekarang. Sedangkan nilai wajar menilai aset sesuai harga pasar saat ini, jadi lebih relevan dan informatif, meskipun bisa berisiko karena harga pasar sering berubah-ubah dan tidak selalu ada data yang jelas. Dalam standar akuntansi internasional (IFRS), nilai wajar makin sering dipakai, terutama untuk instrumen keuangan dan properti, walaupun pencatatan awal biasanya masih pakai biaya historis.
Saat terjadi krisis keuangan, penggunaan nilai wajar menuai perdebatan karena jatuhnya harga pasar bisa membuat laporan keuangan terlihat lebih buruk. Karena itu, beberapa pihak memberi kelonggaran untuk tidak sepenuhnya menggunakan nilai wajar. Penulis menyimpulkan bahwa tidak ada metode yang paling tepat untuk semua situasi. Sebaiknya, keduanya digabung: nilai wajar cocok untuk aset keuangan, sedangkan biaya historis lebih sesuai untuk aset non-keuangan. Dengan begitu, laporan keuangan bisa tetap relevan sekaligus dapat dipercaya.