Kiriman dibuat oleh Rizky Widyaningrum

TA B 2025 -> DISKUSI

oleh Rizky Widyaningrum -
Nama: Rizky Widyaningrum
NPM: 2413030160

Berdasarkan kedua jurnal tersebut, yaitu jurnal “Exploring the Impact of Behavioral Factors on Accounting Systems and Financial Decision-Making” oleh Muhammad Daham Sabbar, Lince Bulutoding, dan Farid Fajrin (2024) serta jurnal “Concepts of Behavioral Accounting from Psychological, Social, and Human Behavior Aspects” oleh Sri Trisnaningsih dan Gempita Asmaul Husna (2022), dapat disimpulkan bahwa aspek perilaku dalam akuntansi berperan penting dalam memahami bagaimana manusia memengaruhi proses dan hasil akuntansi. Akuntansi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan budaya organisasi. Sabbar menekankan bahwa keputusan keuangan sering kali tidak rasional karena adanya bias kognitif seperti overconfidence, framing, dan confirmation bias yang memengaruhi cara seseorang menafsirkan serta menggunakan informasi akuntansi. Sementara itu, Trisnaningsih dan Husna menjelaskan bahwa aspek perilaku dalam akuntansi mencakup sikap, motivasi, persepsi, nilai, dan kepribadian yang berperan dalam pembentukan perilaku etis serta pengambilan keputusan ekonomi di lingkungan organisasi.

Urgensi aspek perilaku dalam akuntansi terlihat dari perannya dalam meningkatkan kualitas keputusan dan mencegah penyimpangan etika, seperti kasus Enron yang muncul karena kegagalan memahami perilaku dan moral pelaku akuntansi. Dengan memahami perilaku individu dan organisasi, sistem akuntansi dapat dirancang lebih adaptif terhadap cara berpikir dan kebiasaan pengguna sehingga informasi keuangan menjadi lebih relevan dan bermanfaat. Selain itu, dalam proses penyusunan standar akuntansi, aspek perilaku juga berkaitan erat dengan ekonomi politik, karena proses standard setting sering kali dipengaruhi oleh kekuatan politik, kepentingan ekonomi, dan tekanan institusional yang mencerminkan perilaku para pembuat kebijakan. Oleh karena itu, pendekatan perilaku dalam akuntansi penting untuk menjembatani teori dan praktik agar sistem akuntansi tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga manusiawi, adaptif, dan mencerminkan kondisi sosial ekonomi yang nyata.

AKM B2025 -> Diskusi

oleh Rizky Widyaningrum -
Nama: Rizky Widyaningrum
NPM: 2413031060

Menurut saya, saat harga barang meningkat, metode LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan FIFO karena LIFO menggunakan harga pembelian terakhir yang lebih tinggi sebagai dasar perhitungan harga pokok penjualan, sehingga biaya yang diakui lebih besar dan laba bersih menjadi lebih kecil. Sementara itu, metode FIFO menggunakan harga pembelian yang lebih lama dan lebih rendah, sehingga biaya lebih kecil dan laba bersih terlihat lebih tinggi. Namun, ketika harga barang menurun, kondisinya berbalik — metode LIFO akan menggunakan harga terakhir yang lebih rendah, sehingga biaya yang diakui juga lebih rendah dan laba bersih menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan FIFO yang masih memakai harga lama yang lebih mahal.