Kiriman dibuat oleh Shafa Djiana Wardani

TA C2025 -> e-journal

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Artikel ini menekankan bahwa pelaporan keberlanjutan memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Inti pembahasannya adalah bahwa perusahaan tidak cukup hanya menjalankan aktivitas bisnis, tetapi juga perlu secara transparan mengukur dan melaporkan dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi dari kegiatannya. Pelaporan yang terhubung dengan SDGs membantu pemangku kepentingan menilai kontribusi nyata perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan. Jurnal ini juga menyoroti tantangan dalam praktik pelaporan keberlanjutan, seperti kurangnya standar yang seragam dan kecenderungan pelaporan yang bersifat simbolis. Namun, jika SDGs diintegrasikan ke dalam strategi dan sistem pelaporan perusahaan, maka akuntabilitas dan kualitas informasi dapat meningkat. Secara keseluruhan, artikel ini menegaskan bahwa pelaporan SDGs bukan sekadar formalitas, melainkan alat strategis untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi perusahaan dan masyarakat.

TA C2025 -> DISKUSI

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Setelah menyimak video yang berjudul "Reporting on SDGs" tersebut, saya memahami bahwa pelaporan SDGs menjadi semakin penting bagi perusahaan karena kinerja bisnis saat ini tidak lagi dinilai hanya dari sisi keuangan, tetapi juga dari dampak sosial dan lingkungan. Video ini menekankan bahwa SDGs memberikan kerangka global yang membantu perusahaan menunjukkan kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan secara terukur dan transparan. Menurut saya, pesan utama video ini adalah bahwa pelaporan SDGs seharusnya terintegrasi dengan strategi bisnis, bukan sekadar kegiatan formal atau pelengkap laporan tahunan. Dengan pelaporan yang baik, perusahaan dapat membangun kepercayaan pemangku kepentingan dan meningkatkan daya tarik bagi investor yang peduli pada keberlanjutan.

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

1. Analisis perilaku manajemen dan dampaknya bagi stakeholders
Pilihan manajemen PT Lestari Mineral menggunakan pendekatan akuntansi konservatif dalam pengakuan biaya lingkungan jangka panjang dapat dipahami sebagai upaya mengelola risiko dan menjaga legitimasi sosial. Dalam industri tambang yang memiliki dampak lingkungan besar, pendekatan konservatif mencerminkan kehati-hatian dan tanggung jawab terhadap kewajiban masa depan, khususnya terkait reklamasi tambang. Motivasi perilaku ini tidak semata karna ekonomi, tetapi juga bersifat institusional, yaitu untuk memenuhi ekspektasi regulator, masyarakat, dan pemerintah. Dampaknya bagi stakeholders cukup beragam. Investor jangka pendek mungkin melihat laba yang lebih rendah, namun kreditor, pemerintah, dan masyarakat justru memperoleh sinyal positif terkait komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan dan kepatuhan. Dalam jangka panjang, pendekatan ini dapat meningkatkan kepercayaan dan reputasi perusahaan.

2. Sikap akuntan terhadap tekanan investor dan etika profesi
Sebagai akuntan perusahaan, tekanan dari investor luar negeri perlu disikapi secara profesional dan berimbang. Akuntan wajib memastikan bahwa setiap kebijakan akuntansi yang diterapkan tetap sesuai standar yang berlaku dan mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Mengikuti keinginan investor untuk menaikkan laba melalui pendekatan agresif berpotensi bertentangan dengan prinsip etika profesi, khususnya integritas dan objektivitas, jika perubahan tersebut tidak didasarkan pada substansi ekonomi. Akuntan seharusnya berperan sebagai penjaga kualitas pelaporan keuangan, bukan sekadar pelaksana kepentingan pemilik modal. Oleh karena itu, dialog yang transparan dengan investor menjadi penting untuk menjelaskan dasar kebijakan konservatif dan implikasinya.

3. Pengaruh ekonomi politik dalam penetapan standar akuntansi
Proses penetapan standar akuntansi sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan politik, baik di tingkat nasional maupun global. Dalam kasus PT Lestari Mineral, pemerintah Indonesia berupaya merumuskan standar yang menekankan keberlanjutan, tetapi menghadapi tekanan dari asosiasi industri yang khawatir terhadap peningkatan biaya dan penurunan laba. Secara global, IFRS juga tidak lepas dari pengaruh kepentingan negara maju, investor internasional, dan pelaku pasar modal. Contoh nyata adalah perdebatan penggunaan nilai wajar pasca krisis keuangan global, di mana tekanan politik dan ekonomi memengaruhi arah standar akuntansi internasional. Hal ini menunjukkan bahwa standar akuntansi bukan produk netral, melainkan hasil kompromi berbagai kepentingan.

4. Perbandingan pendekatan berbasis prinsip dan berbasis aturan
Pendekatan berbasis prinsip seperti IFRS memberikan fleksibilitas dan menekankan substansi ekonomi di atas bentuk hukum, sehingga cocok untuk menghadapi kompleksitas transaksi modern. Namun, fleksibilitas ini menuntut tingkat profesionalisme dan penegakan etika yang tinggi. Sebaliknya, pendekatan berbasis aturan seperti GAAP memberikan panduan yang lebih rinci dan mengurangi ruang interpretasi, tetapi berisiko mendorong kepatuhan formal tanpa memahami substansi. Dalam konteks Indonesia, pendekatan berbasis prinsip lebih relevan diterapkan karena memungkinkan penyesuaian dengan kondisi ekonomi dan sosial yang beragam. Namun, pendekatan ini harus didukung oleh pengawasan yang kuat, edukasi profesi yang memadai, dan komitmen etika agar tidak disalahgunakan.

TA C2025 -> DISKUSI

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

Mengacu pada kedua jurnal tersebut, menurut saya aspek perilaku dalam akuntansi merupakan elemen yang sangat fundamental karena praktik akuntansi pada dasarnya tidak pernah netral. Laporan keuangan, kebijakan akuntansi, hingga standar yang berlaku adalah hasil dari keputusan manusia yang dipengaruhi oleh motivasi, persepsi, kepentingan, dan tekanan lingkungan. Positive Accounting Theory menegaskan bahwa manajer bertindak rasional untuk memaksimalkan utilitasnya sendiri melalui pilihan akuntansi, sementara kajian behavioral accounting menunjukkan bahwa keputusan tersebut juga dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial seperti sikap, nilai, emosi, dan etika. Dengan kata lain, akuntansi bukan hanya sistem teknis, tetapi juga sistem perilaku.

Urgensi aspek perilaku dalam akuntansi
Urgensi aspek perilaku dalam akuntansi terletak pada kemampuannya menjelaskan kesenjangan antara standar akuntansi dan praktik nyata. Banyak kasus manipulasi laporan keuangan, manajemen laba, hingga skandal seperti Enron tidak dapat dipahami hanya dari sudut pandang aturan, tetapi harus dilihat dari perilaku individu dan budaya organisasi. Behavioral accounting membantu menjelaskan mengapa individu yang memahami standar tetap melakukan penyimpangan, misalnya karena tekanan bonus, target kinerja, rasa takut, atau rasionalisasi moral. Oleh karena itu, pemahaman perilaku menjadi penting untuk meningkatkan kualitas pelaporan, desain sistem pengendalian, serta pendidikan etika akuntansi .

Terkait proses standard-setting, kedua jurnal secara implisit menunjukkan bahwa standar akuntansi tidak lahir di ruang hampa. Proses penyusunan standar melibatkan banyak aktor (pihak) seperti regulator, profesi akuntan, perusahaan besar, investor, dan pemerintah. Dalam kerangka Positive Accounting Theory, proses ini dapat dipahami sebagai arena kepentingan di mana masing-masing pihak berusaha memengaruhi standar agar sesuai dengan kepentingannya, misalnya terkait pajak, kontrak utang, atau biaya politik. Dari sudut behavioral accounting, preferensi, persepsi risiko, serta nilai yang dianut oleh para penyusun standar juga ikut membentuk hasil akhirnya.

Sementara itu, dari perspektif ekonomi politik akuntansi, standar akuntansi mencerminkan distribusi kekuasaan dan kepentingan dalam masyarakat. Perusahaan besar cenderung memiliki pengaruh lebih kuat dalam proses standard-setting dibandingkan pihak lain, sehingga standar yang dihasilkan sering kali lebih mengakomodasi kepentingan pasar modal dan perusahaan. Dalam konteks ini, akuntansi berfungsi tidak hanya sebagai alat pelaporan, tetapi juga sebagai instrumen legitimasi dan pengendalian sosial. Oleh karena itu, memahami aspek perilaku dan ekonomi politik dalam akuntansi menjadi penting agar standar yang dihasilkan tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga adil dan bertanggung jawab secara sosial.

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Shafa Djiana Wardani -
Nama: Shafa Djiana Wardani
NPM: 2413031080
Kelas: 24C

1. Teori positif akuntansi berfokus pada upaya menjelaskan dan memprediksi perilaku manajemen dalam memilih kebijakan akuntansi, terutama ketika pilihan tersebut berkaitan dengan kepentingan ekonomi tertentu. Dalam kasus PT IndoEnergi, perubahan metode depresiasi dapat dijelaskan melalui beberapa pendekatan utama teori positif. Pertama adalah bonus plan hypothesis, yang menyatakan bahwa manajemen cenderung memilih kebijakan akuntansi yang memengaruhi laba sesuai dengan skema kompensasi. Jika target laba jangka panjang lebih penting dibanding laba jangka pendek, metode saldo menurun ganda dapat digunakan untuk menekan laba saat ini. Kedua adalah political cost hypothesis, di mana perusahaan besar atau yang mendapat sorotan publik cenderung menurunkan laba untuk menghindari tekanan politik, pajak yang lebih tinggi, atau tuntutan distribusi dividen. Ketiga adalah debt covenant hypothesis, yang menjelaskan bahwa kebijakan akuntansi dipilih untuk menjaga kepatuhan terhadap perjanjian utang. Dalam konteks ini, perubahan depresiasi dapat menjadi strategi manajemen untuk mengatur pola laba sesuai kepentingannya.

2. Di bawah IFRS maupun AS (GAAP), perubahan metode depresiasi diperbolehkan selama mencerminkan perubahan estimasi pola konsumsi manfaat ekonomi aset. Metode saldo menurun ganda merupakan metode yang diakui, terutama untuk aset yang manfaatnya lebih besar di awal masa penggunaan. Praktik seperti yang dilakukan PT IndoEnergi bukanlah hal yang asing secara internasional. Namun, standar internasional menekankan bahwa perubahan tersebut harus didasarkan pada alasan ekonomi yang mendasar, diterapkan secara konsisten, dan diungkapkan secara memadai dalam catatan laporan keuangan. Jika perubahan dilakukan semata-mata untuk tujuan manajemen laba atau pajak, maka kualitas pelaporan keuangan dapat dipertanyakan, meskipun secara formal masih sesuai standar.

3. Menurut saya, teori positif cukup kuat dalam menjelaskan kemungkinan motivasi ekonomi di balik keputusan manajemen, seperti insentif pajak, dividen, dan tekanan pasar. Dalam kasus PT IndoEnergi, teori ini membantu memahami mengapa perubahan kebijakan akuntansi sering kali bertepatan dengan dampak laba yang signifikan. Namun, teori positif memiliki keterbatasan karena cenderung mengasumsikan bahwa manajemen selalu bertindak oportunistis. Dalam konteks global dan perusahaan yang berorientasi jangka panjang, keputusan akuntansi juga bisa dipengaruhi oleh nilai tata kelola, reputasi, dan tuntutan transparansi investor internasional. Oleh karena itu, teori positif sebaiknya digunakan bersama pendekatan normatif dan kerangka konseptual akuntansi agar penilaian terhadap kebijakan manajemen menjadi lebih seimbang dan kontekstual.