Nama : Eris Ana Dita
Npm : 2413031017
1. Tentukan tujuan kuesioner terlebih dahulu
Sebelum menyusun pertanyaan, peneliti harus mengetahui apa yang ingin diukur. Misalnya, apakah ingin mengetahui pendapat, kebiasaan, tingkat kepuasan, atau persepsi responden terhadap suatu masalah. Tujuan yang jelas akan membantu pertanyaan tetap fokus dan tidak melebar ke mana-mana.
2. Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami
Pertanyaan sebaiknya memakai kalimat yang singkat, lugas, dan tidak berbelit-belit. Hindari istilah yang terlalu teknis jika responden belum tentu memahaminya. Bahasa yang terlalu sulit dapat membuat responden bingung dan menjawab secara tidak tepat.
3. Setiap pertanyaan harus satu ide pokok
Tidak membuat pertanyaan ganda dalam satu kalimat, misalnya: “Apakah Anda puas dengan harga dan pelayanan?” Pertanyaan seperti ini membingungkan karena responden bisa puas pada harga tetapi tidak pada pelayanan. Sebaiknya pertanyaan dipisah menjadi dua.
4. Susun pertanyaan secara runtut
Mulailah dari pertanyaan umum ke khusus, atau dari yang mudah ke yang lebih sulit. Susunan yang baik membuat responden lebih nyaman mengisi kuesioner dan tidak merasa terbebani sejak awal.
5. Hindari pertanyaan yang mengarahkan jawaban
Pertanyaan harus netral agar responden bisa menjawab secara jujur. Misalnya, daripada bertanya “Bukankah pelayanan ini sudah sangat baik?”, lebih baik gunakan “Bagaimana pendapat Anda tentang pelayanan ini?” Pertanyaan yang mengarahkan dapat mengurangi objektivitas data.
6. Uji coba terlebih dahulu
Kuesioner yang baik sebaiknya diuji kepada beberapa orang terlebih dahulu untuk melihat apakah ada pertanyaan yang membingungkan, terlalu panjang, atau kurang relevan. Dari uji coba ini, peneliti bisa memperbaiki kuesioner sebelum digunakan secara luas.
7. Pastikan sesuai dengan responden
Kuesioner untuk siswa, guru, pedagang, atau masyarakat umum tentu berbeda. Oleh karena itu, isi pertanyaan harus disesuaikan dengan latar belakang responden agar mereka dapat menjawab dengan tepat.