Posts made by Alisya Harada Yuza 2411012039

1. Konsep dan pentingnya studi kelayakan bisnis

Studi kelayakan bisnis merupakan proses untuk menilai apakah suatu ide usaha layak dijalankan berdasarkan berbagai pertimbangan. Analisis ini penting dilakukan sebelum memulai usaha untuk mengetahui peluang, kebutuhan sumber daya, keuntungan, serta risiko yang mungkin terjadi. Dengan demikian, keputusan bisnis dapat dibuat lebih matang dan penggunaan modal maupun waktu dapat lebih efektif.

2. Aspek yang dianalisis dalam studi kelayakan

Beberapa aspek utama yang perlu dianalisis yaitu:

1.Aspek pasar, untuk mengetahui kebutuhan konsumen, target pasar, tren, dan kondisi persaingan.
2.Aspek teknis, untuk menilai lokasi, proses produksi, bahan baku, peralatan, dan teknologi yang dibutuhkan.
3.Aspek manajemen, untuk melihat kesiapan sumber daya manusia, pembagian tugas, dan kemampuan mengelola usaha.
4.Aspek finansial, untuk menghitung modal, biaya operasional, pendapatan, keuntungan, dan titik impas.
5.Aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan, untuk mengetahui manfaat serta dampak usaha terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

3. Cara menganalisis kelayakan ide bisnis untuk mengurangi kegagalan risiko

Analisis dapat dimulai dengan melihat kebutuhan konsumen dan melakukan riset pasar untuk mengetahui target, permintaan, serta pesaing. Selanjutnya ide bisnis dinilai dari aspek teknis, manajemen, dan keuangan, termasuk perhitungan modal, biaya, pendapatan, dan potensi keuntungan. Risiko seperti perubahan tren, persaingan, dan kenaikan biaya juga perlu diperhitungkan. Dengan analisis tersebut, keputusan bisnis dapat dibuat berdasarkan data dan pertimbangan yang lebih objektif.

4. Keterampilan dalam menilai potensi usaha

Keterampilan tersebut dapat dikembangkan melalui kemampuan melakukan penelitian, menganalisis data, memahami kebutuhan konsumen, serta melihat peluang dan risiko secara kritis. Selain itu, pengalaman mempelajari studi kasus, berdiskusi dengan pelaku usaha, dan mengikuti perkembangan pasar juga dapat meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan. Dengan keterampilan tersebut, pelaku usaha dapat menentukan langkah yang lebih tepat dan meningkatkan peluang keberhasilan bisnis.

Technopreneur 2026 -> responsi 3 -> responsi 3 -> Re: responsi 3

by Alisya Harada Yuza 2411012039 -
Nama : Alisya Harada Yuza
NPM : 2411012039

1. Bagaimana memahami kebutuhan dan peluang usaha?
 Kami melihat bahwa banyak anak kos membutuhkan lauk yang praktis karena memiliki aktivitas yang cukup padat. Dari kebutuhan tersebut, muncul peluang untuk menyediakan kentang mustofa sebagai lauk siap makan yang praktis dan mudah dinikmati.

2. Bagaimana cara menemukan dan menilai ide usaha?
Ide usaha MUSTIQ berasal dari melihat kebutuhan sehari-hari, terutama kebutuhan anak kos akan makanan yang praktis. Ide ini kemudian dinilai dari minat pasar, harga yang sesuai untuk mahasiswa, kualitas produk, serta kemampuan produk untuk bersaing.

3. Bagaimana memahami cara memulai dan mengembangkan usaha?
 Usaha dimulai dengan menyiapkan produk, menentukan resep, kemasan, harga, dan target konsumen. Untuk pengembangannya, MUSTIQ dapat menambah pilihan rasa dan ukuran kemasan serta membuat paket hemat agar lebih menarik bagi konsumen.

4. Bagaimana memanfaatkan teknologi dalam pengembangan usaha?
Teknologi dapat digunakan untuk membantu pemasaran dan penjualan, misalnya melalui media sosial dan marketplace. Selain itu, teknologi juga dapat membantu kami menerima masukan dari pelanggan dan mengetahui produk seperti apa yang lebih diminati.
KELOMPOK 5
MUSTIQ
1. Azahra Tri Meilani — 2411012005
2. Arfabian Shelby Havilah — 2411012010
3. Alisya Harada Yuza — 2411012039
4. Ajeng Ayu Maulidiah — 2451012012
5. Azizah Syandia — 2451012014


MUSTIQ merupakan UMKM kuliner yang menjual kentang mustofa sebagai lauk praktis. Nama MUSTIQ berasal dari gabungan kata Mustofa dan Unique, yang menggambarkan produk kentang mustofa dengan keunikan dan cita rasa tersendiri.

1. Discover (Menemukan)

Anak kos biasanya sibuk dengan kuliah, organisasi, atau pekerjaan sehingga tidak selalu sempat memasak. Karena itu, muncul ide untuk menjual kentang mustofa sebagai lauk praktis yang siap dimakan dan cocok dimakan bersama nasi.

1. Evaluate (Mengevaluasi)

Kentang mustofa memiliki peluang karena banyak anak kos membutuhkan makanan yang praktis, tahan lama, dan mudah dimakan. Produk ini dibuat dengan rasa gurih, renyah, dan harga yang terjangkau untuk mahasiswa. Namun, rasa, kerenyahan, kemasan, dan daya tahan produk harus tetap dijaga agar kualitasnya baik.

1. Exploit (Mewujudkan)

Kentang mustofa dijual dalam kemasan praktis dengan beberapa pilihan ukuran dan rasa. Produk dapat dipromosikan melalui Instagram, WhatsApp, dan marketplace agar mudah dipesan oleh anak kos. Ke depannya, produk dapat dikembangkan dengan berbagai rasa, ukuran kemasan, dan paket hemat.
Nama : Alisya Harada Yuza
NPM : 2411012039
1. Pemikiran Desain sebagai Alat Transformasi Organisasi!

Design Thinking dapat menjadi sarana penting dalam mengubah organisasi. Pendekatan ini mendorong cara pandang yang berpusat pada manusia, di mana empati, kreativitas, dan kolaborasi menjadi kunci. Dengan mengadopsi design thinking, perusahaan tidak hanya berfokus pada efisiensi semata, melainkan juga pada penciptaan nilai baru. Proses ini mengubah budaya organisasi, membuat karyawan lebih terbuka terhadap perubahan, serta menjadikan inovasi sebagai bagian inti dari strategi bisnis.

2. Dampak Inisiatif Inovasi terhadap Kinerja Bisnis?

Inisiatif inovasi memiliki peranan besar dalam menentukan keberhasilan perusahaan. Kehadirannya mampu meningkatkan daya saing melalui penciptaan produk dan layanan baru, sekaligus memperkuat kepuasan serta loyalitas pelanggan. Dalam jangka panjang, inovasi juga membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dan membuka peluang ekspansi ke pasar baru. Tidak hanya itu, proses inovasi yang efektif dapat meningkatkan efisiensi operasional, sehingga kinerja bisnis menjadi lebih optimal.
3. Mengembangkan Keterampilan Kepemimpinan dalam Inovasi!

Kepemimpinan inovatif adalah keterampilan yang harus dikembangkan secara berkelanjutan. Seorang pemimpin perlu memiliki empati terhadap kebutuhan pelanggan maupun tim, berani menghadapi ketidakpastian, serta mampu mengelola risiko secara terukur. Kepemimpinan yang mendorong kolaborasi lintas divisi akan memperkaya proses ideasi. Selain itu, pemimpin dengan growth mindset yang terbuka terhadap perubahan dan tidak takut gagal akan menjadi teladan penting dalam membangun budaya inovasi.

4. Dampak Budaya Perusahaan terhadap Pemikiran Desain?

Budaya organisasi sangat menentukan keberhasilan penerapan design thinking. Jika perusahaan memiliki budaya yang terbuka, menghargai ide baru, serta mendukung eksperimen, maka pemikiran desain akan berkembang dengan pesat. Sebaliknya, jika budaya perusahaan kaku, hierarkis, dan menolak risiko, maka kreativitas dan inovasi akan sulit tumbuh. Oleh karena itu, membangun budaya yang fleksibel dan kolaboratif merupakan syarat utama agar design thinking dapat diimplementasikan dengan baik.

5. Analisis Kekuatan Korporat yang Menghambat Inovasi!

Ada sejumlah faktor internal yang sering kali menghambat inovasi dalam sebuah korporasi, antara lain:
birokrasi yang berlebihan sehingga memperlambat pengambilan keputusan,
struktur hierarki yang terlalu kaku dan membatasi aliran ide dari bawah,
orientasi jangka pendek yang hanya fokus pada keuntungan cepat,
resistensi terhadap perubahan karena rasa nyaman dengan cara lama, serta
keterbatasan sumber daya baik dari segi dana, SDM, maupun teknologi.
Analisis semacam ini penting agar organisasi mengetahui faktor-faktor mana yang perlu diperbaiki untuk mendukung proses inovasi.

6. Langkah-langkah Transformasi Menuju Budaya Design Thinking!

Transformasi menuju budaya design thinking tidak dapat terjadi secara instan, melainkan harus melalui tahapan tertentu, seperti:
membangun komitmen kuat dari pimpinan,
memberikan pelatihan kepada seluruh anggota organisasi,
membentuk tim lintas fungsi untuk menjalankan proyek inovasi,
mengadopsi metode prototyping cepat untuk menguji ide,
melibatkan pelanggan dalam proses umpan balik,
menghargai keberanian bereksperimen, meski berisiko gagal, dan
membangun ekosistem kolaboratif dengan mitra eksternal.

7. Mengaplikasikan Konsep Design Thinking dalam Strategi Bisnis?

Dalam praktik strategi bisnis, design thinking dapat diaplikasikan melalui beberapa tahap: memahami kebutuhan konsumen (empathize), merumuskan permasalahan inti (define), menghasilkan berbagai ide kreatif (ideate), membuat purwarupa sederhana (prototype), serta menguji purwarupa tersebut langsung dengan pengguna (test). Dengan cara ini, strategi yang dihasilkan akan benar-benar berakar pada kebutuhan pasar dan lebih relevan untuk mendukung pertumbuhan bisnis.