Kiriman dibuat oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088

TA C2025 -> DISKUSI

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
​​‎NPM : 2413031088
‎Kelas : 2024C
‎ ‎
Tanggapan saya mengenai video tersebut.
Video ini membahas cara sebuah perusahaan menentukan nilai asetnya di neraca
‎1. Masalah Penilaian Aset
‎Aset yang dimiliki perusahaan, seperti kantor, mungkin dibeli bertahun-tahun yang lalu dengan harga yang jauh lebih rendah daripada nilai pasar saat ini. Contohnya, sebuah kantor yang dibeli 20 tahun lalu seharga $5 juta bisa bernilai lebih dari $35 juta hari ini.
‎2. Dua Pilihan Metode Pencatatan
‎Perusahaan diizinkan memilih salah satu dari dua metode ini untuk mencatat aset mereka :
‎a. Biaya Historis (Historical Cost): Aset dicatat berdasarkan harga pembelian sebenarnya (misalnya, $5 juta).
b. Nilai Wajar (Nilai Wajar): Aset dicatat berdasarkan harga pasar saat ini (misalnya, $35 juta).
3 Aturan Utama
‎a. Konsistensi Wajib: Perusahaan tidak boleh mengganti metode sesuka hati. Setelah memilih satu metode, mereka harus menerapkannya untuk semua aset dalam kategori yang sama (misalnya, jika memilih Nilai Wajar untuk satu properti, mereka harus menggunakannya untuk semua tanah dan bangunan yang dimiliki).
b. Penentuan Nilai Wajar
‎Nilai Wajar adalah topik yang rumit dan biasanya perusahaan menyewa ahli untuk melakukan penilaian. Ahli ini menentukan nilai dengan melihat transaksi aset sejenis di pasar.
‎4. Kategori Aset yang Sering Menggunakan Nilai Wajar
‎Nilai Wajar paling sering digunakan untuk jenis aset dan kewajiban tertentu, seperti:
‎a. Real estat (properti)
b. Nilai merek (nilai merek)
‎c. Merek dagang (merek dagang)
‎d. Kewajiban pensiun (pensiun

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -

 Nama : Grescie Odelia Situkkir

NPM : 2413031088

Kelas : 2024C

Pertanyaan:

  1. Identifikasi dan jelaskan dua basis pengukuran yang relevan dalam kasus ini. Bandingkan kelebihan dan kekurangannya.
  2. Jika PT Surya Terang memilih untuk menggunakan model revaluasi, sebutkan implikasi akuntansinya terhadap laporan keuangan, khususnya pada laporan posisi keuangan dan laba rugi.
  3. Apakah pengukuran menggunakan nilai wajar lebih memenuhi karakteristik kualitatif relevansi dan keandalan dibandingkan biaya historis dalam konteks ini? Jelaskan dengan alasan kritis.

Jawaban :

1.  Identifikasi dan Penjelasan Dua Dasar Pengukuran yang Relevan

Dalam kasus PT Surya Terang, dua dasar pengukuran yang paling relevan adalah biaya historis dan nilai wajar. Biaya historis adalah nilai mesin saat dibeli, yaitu Rp1 miliar. Nilai ini kemudian disusutkan selama 10 tahun dengan metode garis lurus, sehingga pada tahun 2025, nilai tercatatnya menjadi Rp600 juta. Kelebihan dari biaya historis adalah konsistensi dan kepastian. Nilai ini mudah dihitung, tidak perlu penilaian eksternal, dan tidak berubah-ubah dari waktu ke waktu, sehingga memudahkan perbandingan antar periode pelaporan. Namun, kelemahannya sangat jelas: nilai ini sudah tidak mencerminkan kenyataan pasar. Dengan teknologi baru yang muncul, mesin tersebut kini jauh lebih murah di pasar, namun masih tercatat dengan harga tinggi. Hal ini bisa mengacaukan  karena memberi kesan bahwa aset masih bernilai tinggi meskipun kinerjanya sudah tidak efisien.Sementara itu, nilai wajar adalah harga pasar aktual dari mesin saat ini, yang telah dinilai secara independen sebesar Rp400 juta. Nilai ini jauh lebih mencerminkan realitas di lapangan. Jika perusahaan ingin membuat keputusan strategis seperti mengganti mesin atau menilai kinerja aset nilai wajar memberikan gambaran yang lebih akurat. Dengan begitu, manajemen bisa melihat bahwa mesin tersebut sudah tidak layak digunakan lagi, meskipun secara akuntansi masih tercatat sebagai aset. Namun, nilai wajar memiliki kekurangan: perlu penilai eksternal yang profesional, yang bisa menambah biaya dan waktu. Selain itu, karena nilai wajar bisa berubah-ubah tiap tahun, hal ini bisa mengurangi konsistensi dalam penyajian laporan keuangan. Jadi, secara garis besar, biaya historis lebih stabil tetapi kurang relevan, sedangkan nilai wajar lebih realistis tetapi lebih rumit.

2. Dampak Penggunaan Model Revaluasi terhadap Laporan Keuangan

Jika PT Surya Terang memilih model revaluasi, maka pengaruhnya terhadap laporan keuangan sangat penting, terutama pada laporan posisi keuangan (neraca) dan laporan laba rugi. Di laporan posisi keuangan, nilai mesin akan direvaluasi dari Rp600 juta menjadi Rp400 juta. Selisihnya sebesar Rp200 juta tidak akan langsung dimasukkan ke laba rugi. Menurut PSAK 16, kerugian revaluasi ini akan dicatat dalam ekuitas khusus, bukan di laba rugi. Artinya, laba bersih tidak langsung terganggu. Hal ini penting karena menjaga stabilitas laba, meskipun asetnya sudah tidak bernilai tinggi lagi. Namun, pencatatan ini akan mengurangi ekuitas perusahaan, yang bisa berpengaruh pada rasio keuangan seperti rasio kesehatan atau rasio utang terhadap ekuitas. Di sisi lain, laporan laba rugi juga akan terdampak secara tidak langsung. Karena dasar penyusutan dihitung dari nilai wajar (Rp400 juta), maka beban penyusutan tahunan akan lebih rendah dibandingkan jika menyusutkan dari nilai tercatat Rp600 juta. Akibatnya, laba operasional bisa terlihat lebih tinggi, meskipun mesinnya sudah tidak efisien. Ini bisa menimbulkan kesan positif pada laporan keuangan, tetapi perlu dijelaskan bahwa kenaikan laba ini bukan karena kinerja bisnis yang lebih baik, melainkan karena penyesuaian nilai aset yang lebih realistis. Secara keseluruhan, model revaluasi membuat laporan keuangan menjadi lebih transparan dan mencerminkan pasar nyata, meskipun membutuhkan pengelolaan lebih hati-hati terutama dalam pelaporan ekuitas dan pengungkapan informasi.

3.  Pembandingan Relevansi dan Konsistensi Nilai Wajar vs Biaya Historis

Apakah nilai wajar lebih baik dari biaya historis dalam hal relevansi dan konsistensi, dalam studi kasus ini? Ya, karena nilai wajar lebih unggul dalam relevansi, meskipun agak kalah dalam konsistensi. Relevansi adalah kemampuan informasi akuntansi untuk membantu pengambilan keputusan. Dalam kondisi PT Surya Terang, teknologi baru telah membuat mesin menjadi ketinggalan zaman. Jika perusahaan tetap menggunakan biaya historis, mereka akan terus melihat mesin sebagai aset bernilai tinggi, padahal di pasar nyata nilainya hanya Rp400 juta. Ini bisa mengelabui manajemen, investor, dan bank. Dengan nilai wajar, semua pihak bisa melihat betapa buruknya kondisi aset itu, sehingga bisa membuat keputusan lebih cepat, misalnya: harus ganti mesin atau tidak? Informasi ini sangat relevan dan membantu strategi jangka panjang. Bahkan, berdasarkan PSAK 16, perusahaan diperbolehkan untuk menggunakan model revaluasi sebagai pilihan, menunjukkan bahwa standar keuangan mendukung nilai wajar untuk keperluan informasi yang lebih baik. Di sisi lain,  konsistensi adalah keseragaman metode akuntansi dari waktu ke waktu. Biaya historis memang lebih konsisten karena tidak berganti-ganti nilai. Tapi, ini bukan jaminan keakuratan. Konsistensi yang tinggi tetapi tidak relevan justru bisa merugikan. Jika informasi tetap konsisten tetapi sudah tidak mencerminkan realitas, maka manfaatnya berkurang. Seorang manajer yang melihat laporan dengan nilai historis Rp600 juta mungkin akan menghindari mengganti mesin karena "asetnya masih bernilai tinggi", padahal sebenarnya itu adalah ilusi. Oleh karena itu, dalam dunia bisnis modern yang cepat berubah, relevansi harus lebih diutamakan daripada konsistensi semata. Walaupun nilai wajar sedikit mengurangi konsistensi karena perlu penilaian berkala, kualitas informasinya jauh lebih baik. Dalam situasi perusahaan seperti PT Surya Terang yang bergerak di industri teknologi manufaktur, dimana kecepatan perubahan sangat tinggi, nilai wajar memang lebih memenuhi prinsip akuntansi yang sehat karena menekankan pada keterwakilan nyata dan kegunaan informasi bagi semua pihak yang berkepentingan.