Kiriman dibuat oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088

AKM C2025 -> Diskusi

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama : Grescie Odelia Situkkir
​​‎NPM : 2413031088
‎Kelas : 24 C

‎Menurut saya, ketika membandingkan metode kalkulasi biaya persediaan FIFO (First In, First Out) dan LIFO (Last In, First Out), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terhadap laba bersih dalam kondisi harga yang berubah-ubah.Saat Periode Harga Meningkat Pada masa meningkat, metode LIFO cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan dengan FIFO. Hal ini karena metode LIFO mengasumsikan bahwa persediaan yang masuk terakhir (dengan harga lebih tinggi) yang dijual terlebih dahulu, sehingga biaya barang yang terjual (COGS) menjadi lebih tinggi. Akibatnya, laba kotor dan laba bersih menjadi lebih rendah, walaupun jumlah kas yang tersedia bisa lebih besar karena pajak yang lebih kecil. Sebaliknya, metode FIFO menggunakan harga persediaan awal yang lebih rendah sebagai biaya barang yang terjual, sehingga laba bersih yang tercatat biasanya lebih tinggi pada periode kenaikan harga.
sebuah. Saat Periode Harga Menurun
‎Dalam kondisi harga menurun, masalah menjadi kebalikannya. Metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi karena biaya barang yang terjual berasal dari persediaan yang diperoleh terakhir dengan harga yang lebih rendah. Sementara itu, metode FIFO menggunakan persediaan awal yang lebih mahal untuk menghitung biaya barang yang terjual, sehingga laba bersih yang dihasilkan biasanya lebih rendah.
B.
Pengaruh Komparatif terhadap Laba Bersih
‎- Metode LIFO memberikan keuntungan berupa pengurangan beban pajak ketika harga meningkat karena laba yang lebih kecil, meskipun laba bersih ini tampak lebih rendah pada laporan keuangan.
‎- Metode FIFO menunjukkan laba bersih yang lebih baiksecara nominal dalam kondisi harga naik, tapi beban pajaknya bisa lebih besar.
‎- Selama harga menurun, peran metode ini bisa berubah dan menghasilkan pola yang berlawanan. ‎ ‎

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -

Nama : Grescie Odelia Situkkir

NPM : 2413031088

Kelas : 24C

Analisis keputusan akuntansi PT IndoEnergi Tbk dari sudut pandang Teori Akuntansi Positif. 

​1. Jelaskan bagaimana teori positif akuntansi menjelaskan perilaku PT IndoEnergi dalam mengubah kebijakan depresiasi. Gunakan pendekatan utama dari teori ini.

Jawab : Teori Akuntansi Positif (TAP) berupaya menjelaskan mengapa manajer memilih metode akuntansi tertentu. TAP didasarkan pada asumsi bahwa manajer bertindak demi kepentingan diri sendiri (oportunistik) dalam kerangka kontrak perusahaan (seperti kontrak bonus atau utang). Dalam kasus PT IndoEnergi yang mengubah metode depresiasi dari garis lurus depresiasi lebih lambat, laba lebih tinggi di awal menjadi menurun saldo ganda (depresiasi lebih cepat, laba lebih rendah di awal).

​Hipotesis Utama TAP:

  1. Hipotesis Biaya Politik (Political Cost Hypothesis) ​Hipotesis ini berlaku untuk perusahaan besar yang diawasi ketat. Manajer akan memilih metode yang menurunkan laba saat ini untuk menghindari perhatian publik atau pemerintah yang bisa berujung pada regulasi, denda, atau pajak yang lebih tinggi. ​Penjelasan Kasus PT IndoEnergi sebagai perusahaan energi terbarukan yang terdaftar (Tbk), manajemen PT IndoEnergi mungkin memilih depresiasi yang dipercepat untuk mengurangi laba yang dilaporkan (dan laba kena pajak). Tujuannya adalah untuk menghindari biaya politik karena dianggap memiliki keuntungan yang terlalu besar di sektor strategis. Ini sesuai dengan kesimpulan analis bahwa tujuannya adalah menurunkan penghasilan pajak.
  2. ​Hipotesis Kontrak Bonus (Bonus Plan Hypothesis) ​Hipotesis ini menjelaskan bahwa manajer akan memilih metode yang memengaruhi laba agar sesuai dengan perjanjian bonus mereka. Perubahan yang menurunkan laba di awal bisa berarti dua hal: Manajer sudah mencapai batas maksimum bonus mereka, sehingga penurunan laba saat ini tidak merugikan dan justru menyimpan laba untuk periode mendatang. Manajer berusaha meratakan laba (income smoothing), dengan mengambil kerugian sekarang (depresiasi besar) untuk memastikan laba yang lebih stabil dan lebih mudah dicapai di tahun-tahun berikutnya .
  3. ​Hipotesis Kontrak Utang (Debt Covenant Hypothesis) Perusahaan dengan rasio utang tinggi akan memilih metode yang meningkatkan laba agar tidak melanggar perjanjian utang  misalnya, rasio utang/ekuitas. ​Penjelasan Kasus PT IndoEnergi: Karena laba perusahaan menurun, TAP akan memprediksi bahwa PT IndoEnergi tidak sedang dalam bahaya melanggar perjanjian utang. Manajer merasa aman untuk mengorbankan laba demi keuntungan lain seperti penghematan pajak

3.  Bandingkan pendekatan kebijakan akuntansi seperti yang dilakukan PT IndoEnergi dengan praktik serupa di negara lain, seperti AS (GAAP) atau di bawah IFRS. Apakah tindakan tersebut umum terjadi? Jelaskan.

Jawab :

  • IFRS dianggap sebagai Perubahan Estimasi Akuntansi (IAS 8 dan IAS 16). IFRS mengizinkan perubahan jika metode baru lebih akurat mencerminkan pola konsumsi manfaat ekonomi aset alasan yang diklaim manajemen. Penerapannya adalah prospektif hanya memengaruhi periode berjalan dan masa depan.
  • US GAAP (AS) Dianggap sebagai Perubahan Estimasi yang Diperoleh Melalui Perubahan Prinsip. GAAP juga mengizinkan perubahan jika metode baru lebih disukai dan lebih tepat dalam mencerminkan alokasi biaya aset. Penerapannya juga prospektif.

Perbandingan Keputusan PT IndoEnergi untuk menggunakan depresiasi yang dipercepat seperti menurun saldo ganda adalah praktik akuntansi yang sah di bawah standar global (IFRS dan GAAP), karena standar mengakui bahwa manajer harus menyesuaikan metode agar sesuai dengan pola penggunaan aset yang sebenarnya. Namun, fleksibilitas inilah yang menjadi celah bagi manajer untuk bertindak memanfaatkan situasi untuk kepentingan sendiri .

3. Buatlah penilaian kritis: Apakah Anda setuju bahwa teori positif cukup kuat dalam menjelaskan motivasi manajemen seperti kasus di atas? Atau adakah keterbatasan dari teori tersebut jika diterapkan dalam konteks global? Jelaskan dan beri argumen.

Jawab : Kekuatan TAP sangat kuat dalam menjelaskan motivasi manajer di studi kasus ini karena ​fokus pada mengapa TAP berhasil menjelaskan mengapa manajer memilih laba yang lebih rendah menghemat pajak, mengurangi dividen meskipun ada pilihan lain. Ini membuktikan bahwa angka akuntansi memiliki konsekuensi ekonomi riil yang memengaruhi perilaku manajer. Menurut saya, teori akuntansi positif cukup kuat untuk menjelaskan motivasi manajemen seperti yang dilakukan PT IndoEnergi. Teori ini realistis karena tidak menganggap manajer selalu bertindak ideal, tetapi memahami bahwa mereka bisa memilih kebijakan akuntansi yang menguntungkan dirinya atau perusahaan dalam jangka pendek. Dalam kasus ini, penurunan laba lewat metode depresiasi yang baru dapat dilihat sebagai bentuk strategi untuk mengurangi beban pajak dan mengatur ekspektasi investor.

​Keterbatasan TAP dalam Konteks Global

  • ​Terlalu Fokus pada Oportunisme TAP cenderung melihat semua keputusan manajer sebagai upaya oportunistik (untuk memaksimalkan keuntungan pribadi).​Keterbatasan: TAP mengabaikan kemungkinan bahwa manajer benar-benar memilih metode yang efisien (misalnya, depresiasi saldo menurun benar-benar lebih akurat mencerminkan penggunaan aset pada proyek energi baru). Manajer juga memiliki motivasi untuk membangun reputasi pelaporan yang baik (kualitas pelaporan) untuk mengurangi biaya modal jangka panjang, yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan oportunisme.
  • ​Mengabaikan Faktor Institusional TAP awalnya dikembangkan di AS dan berfokus pada kontrak swasta (bonus dan utang). Keterbatasan: Di banyak negara (termasuk Indonesia), sistem pajak dan akuntansi keuangan sering terkait erat. 

TA C2025 -> ACTIVITYl RESUME

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -
Nama: Grescie Odelia Situkkir
‎NPM:2413031088
‎Kelas:2024C

‎Resume POSITIVE ACCOUNTING THEORY (PAT) Shabrina Tri Asti Nasution dkk (2020)
‎1. Latar Belakang dan Konsep Dasar PAT Positive Accounting Theory (PAT) muncul pada akhir 1970-an sebagai bentuk kritik terhadap dominasi teori akuntansi normatif yang dianggap terlalu idealis. Teori normatif fokus pada pertanyaan "apa yang seharusnya dilakukan" (what ought to be), sementara PAT beralih ke pendekatan ilmiah dengan pertanyaan "apa yang sesungguhnya terjadi" (what it is). Dikembangkan oleh Watts dan Zimmerman (1978, 1986), PAT menggunakan pendekatan ekonomi dan berasumsi bahwa manajer adalah pelaku ekonomi rasional (homo economicus) yang akan bertindak untuk memaksimalkan utilitas atau kepentingan pribadinya. Perbedaan mendasar ini menjadikan PAT lebih empiris dan dapat diuji dalam praktik dunia nyata.

‎2. Tiga Hipotesis Utama PAT
‎a) Bonus Plan Hypothesis
‎Hipotesis ini menyatakan bahwa manajer yang memiliki rencana bonus berbasis kinerja akan cenderung memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi yang dapat meningkatkan laba periode berjalan.Contoh penerapannya termasuk memilih untuk mengkapitalisasi biaya daripada membebankannya, menggunakan metode depresiasi yang lebih lambat, atau mengakui pendapatan lebih awal. Tujuan utamanya adalah memaksimalkan bonus yang akan diterima, terutama ketika laba perusahaan berada di ambang batas minimal untuk memperoleh bonus.
‎b) Debt Covenant Hypothesis
‎Hipotesis ini memprediksi bahwa ketika perusahaan mendekati pelanggaran perjanjian utang(debt covenants), manajer akan cenderung memilih kebijakan akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan. Tindakan ini dilakukan untuk menghindari konsekuensi pelanggaran perjanjian, seperti denda, tuntutan hukum, atau percepatan pelunasan utang. Dengan "mempercantik" laporan keuangan, manajer berusaha menjaga kelangsungan operasional perusahaan dan reputasinya di mata kreditur.
‎c) Political Cost Hypothesis
‎Perusahaan besar dengan exposure politik tinggi cenderung memilih kebijakan akuntansi yang menurunkan laba yang dilaporkan.Tujuannya adalah untuk mengurangi perhatian regulator dan publik, sehingga terhindar dari intervensi politik seperti regulasi baru, pajak tambahan, atau investigasi anti-monopoli. Dengan melaporkan laba yang lebih rendah, perusahaan berusaha terlihat tidak terlalu menguntungkan dan mengurangi biaya politik yang mungkin timbul.

‎3. Perbandingan Normatif vs. Positif
‎a) Teori Akuntansi Normatif
‎Bersifat preskriptif (mengatur apa yang seharusnya dilakukan), Fokus pada penciptaan standar ideal yang netral dan adil, Mempertimbangkan prinsip-prinsip etika dan kemanfaatan bagi semua pemangku kepentingan, dan cenderung abstrak dan sulit diuji secara empiris
‎b) Teori Akuntansi Positif (PAT)
‎Bersifat deskriptif (menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi), Fokus pada perilaku nyata manajer dan motif ekonomi di balik keputusan akuntansi, Tidak mempertimbangkan aspek etika dalam analisisnya dan dapat diuji secara empiris dengan data dunia nyata.

‎4. Kritik, Kontribusi, dan Relevansi PAT
‎a) Kritik terhadap PAT
‎PAT mendapat beberapa kritik penting,antara lain:
‎- Dianggap terlalu reduksionis dengan menyederhanakan perilaku manusia hanya pada motif ekonomi
‎- Mengabaikan aspek etika, tanggung jawab sosial, dan faktor non-ekonomi lainnya
‎- Tidak memberikan panduan moral untuk perbaikan praktik akuntansi
‎- Terlalu fokus pada kepentingan manajemen dan mengabaikan kepentingan stakeholders lain
‎b) Kontribusi dan Relevansi PAT
‎Meskipun mendapat kritik,PAT memberikan kontribusi yaitu
‎- Mengarahkan riset akuntansi ke pendekatan yang lebih empiris dan ilmiah.
‎- Menyediakan kerangka kerja yang dapat diuji untuk menganalisis hubungan antara kondisi ekonomi dan keputusan akuntansi.
‎- Tetap relevan dalam menjelaskan fenomena kontemporer seperti earnings management dan strategi pelaporan keuangan.
‎- Membantu memahami kompleksitas perilaku manajerial dalam konteks bisnis modern.
‎Positive Accounting Theory telah memberikan kontribusi fundamental dalam memahami praktik akuntansi di dunia nyata. PAT berhasil menjembatani kesenjangan antara teori akuntansi abstrak dengan realitas praktik bisnis. Namun, untuk pengembangan teori akuntansi yang lebih komprehensif di masa depan, diperlukan integrasi antara pendekatan positif dan normatif. Kombinasi ini akan menghasilkan kerangka teori yang tidak hanya mampu menjelaskan perilaku nyata (seperti PAT) tetapi juga mampu memberikan panduan etis dan berkelanjutan (seperti teori normatif). Dengan demikian, akuntansi dapat berkembang menjadi disiplin ilmu yang lebih utuh, realistis, dan bertanggung jawab.