Kiriman dibuat oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088

AKM C2025 -> Diskusi

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -

Nama : Grescie Odelia Situkkir

NPM : 2413031088

Aset tak berwujud adalah aset nonfisik yang digunakan perusahaan untuk jangka panjang, seperti hak paten, merek dagang, hak cipta, dan goodwill.

a. Pencatatan aset tak berwujud .  Aset tak berwujud dicatat di laporan keuangan jika memenuhi dua syarat utama: (1) perusahaan diperkirakan akan mendapatkan manfaat ekonomi di masa depan dari aset tersebut, dan (2) nilai aset tersebut dapat diukur dengan andal. Pencatatan dilakukan berdasarkan dokumen yang sah dan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh atau mengembangkan aset tersebut, seperti biaya tenaga kerja, bahan, dan jasa profesional yang langsung terkait . Aset tak berwujud yang dibeli dari pihak lain biasanya lebih mudah dicatat karena nilainya jelas. Sedangkan aset tak berwujud yang dibuat sendiri (misal: hasil riset dan pengembangan) lebih sulit diakui karena manfaat ekonominya seringkali sulit dipastikan

b. Penilaian aset tak berwujud . Penilaian awal aset tak berwujud umumnya menggunakan biaya perolehan, yaitu semua biaya yang dikeluarkan hingga aset siap digunakan. Setelah itu, aset tak berwujud dapat dinilai dengan dua metode:
  1. Model biaya: aset dicatat berdasarkan biaya perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan penurunan nilai.
  2. Model revaluasi: aset dinilai kembali berdasarkan nilai wajar, jika ada pasar aktif untuk aset tersebut 

Amortisasi dilakukan selama masa manfaat aset, kecuali jika masa manfaatnya tidak terbatas (misal: goodwill), maka dilakukan uji penurunan nilai secara berkala.

c.  Penyajian dalam laporan keuangan .  Aset tak berwujud disajikan di neraca pada bagian aset tidak lancar. Dalam catatan atas laporan keuangan, perusahaan wajib mengungkapkan informasi seperti nilai awal, akumulasi amortisasi, metode amortisasi, masa manfaat, dan jika ada, hasil revaluasi. Jika ada aset tak berwujud yang tidak bisa diukur nilainya secara andal, biasanya tidak dicatat di neraca, tapi bisa diungkapkan dalam catatan . Banyak aset tak berwujud yang tidak tercatat di laporan keuangan karena sulit diukur atau tidak memenuhi kriteria pengakuan, sehingga nilai perusahaan di laporan keuangan bisa lebih rendah dari nilai sebenarnya. Oleh karena itu, standar akuntansi terus dikembangkan agar pelaporan aset tak berwujud lebih relevan dan transparan 

AKM C2025 -> Diskusi

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -

Nama : Grescie Odelia Situkkir

NPM : 2413031088

Kelas : 24C

1. Identifikasilah perbedaan antara assets tetap dengan properti investasi!  Jika anda diminta memilih, maka anda akan memilih membeli assets tetap atau properti investasi? 

PerbedaanAset Tetap dan Properti Investasi. Perbedaannya utama ada pada tujuan kepemilikan.

  1. Aset Tetap dimiliki dan digunakan untuk operasional bisnis sehari-hari. Contoh: gedung kantor milik sendiri, pabrik, kendaraan operasional. Aset ini nilainya menyusut (depresiasi) seiring pemakaian.
  2. Properti Investasi dimiliki untuk disewakan atau mendapatkan capital gain (kenaikan harga jual), bukan untuk dipakai sendiri dalam operasional. Contoh: apartemen yang dibeli untuk disewakan, ruko yang disewakan ke pihak lain. Nilainya dinilai berdasarkan harga pasar.

Pilihan Saya: Properti Investasi Saya memilih properti investasi karena memberikan keuntungan ganda: penghasilan sewa rutin dan potensi kenaikan nilai aset itu sendiri. Aset tetap, seperti mesin, hanya menjadi alat produksi dan nilainya pasti turun. Properti investasi justru bisa menghasilkan uang secara pasif sambil nilainya berpeluang tumbuh seiring waktu, sekaligus menjadi lindung nilai terhadap inflasi.

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh GRESCIE ODELIA SITUKKIR 2413031088 -

Nama : Grescie Odelia Situkkir

NPM : 2413031088

Kelas  24C

Soal dan Jawaban Studi Kasus

1. Analisislah tantangan utama yang dihadapi PT Sumber Hijau dalam menyelaraskan ekspansi bisnis dengan prinsip keberlanjutan dan pelaporan SDGs

PT Sumber Hijau berada di tengah yang menuntut keseimbangan antara dorongan pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan serta sosial. Ekspansi ke Kalimantan Timur menimbulkan tantangan yang saling terkait. Pertama, penebangan hutan untuk membuka lahan sawit secara langsung mengancam keanekaragaman hayati dan meningkatkan emisi karbon, yang berpotensi menimbulkan kritik keras dari lembaga lingkungan hidup internasional. Kedua, keberadaan komunitas adat yang telah lama mendiami wilayah tersebut menimbulkan risiko konflik atas hak atas tanah serta potensi gangguan terhadap mata pencaharian tradisional. Tanpa penanganan yang sensitif, ketegangan sosial dapat berkembang menjadi protes, litigasi, bahkan boikot produk.

Selanjutnya, meski perusahaan berjanji menciptakan lapangan kerja lokal, realisasi tersebut harus terbukti secara kuantitatif. Jika tidak, perusahaan akan dicap sebagai “green‑washing”, memperburuk citra di mata investor global yang kini menilai kinerja ESG sebagai prasyarat utama dalam alokasi modal. Di tingkat regulasi, PSAK belum menyediakan pedoman lengkap bagi pelaporan ESG, sehingga PT Sumber Hijau harus mencari kerangka kerja tambahan untuk menyajikan data keberlanjutan bersama laporan keuangan tradisional. Akhirnya, perusahaan harus menanggapi dua kelompok pemangku kepentingan yang memiliki ekspektasi berbeda: komunitas lokal menuntut keadilan sosial dan perlindungan lingkungan, sedangkan investor internasional menuntut transparansi, standar internasional, serta jaminan kredibilitas data.

2.Jelaskan bagaimana pendekatan teori akuntansi positif dan normatif dapat digunakan untuk memahami pelaporan keberlanjutan dalam kasus ini.

Pendekatan teori akuntansi positif membantu memahami mengapa PT Sumber Hijau mulai mengungkapkan informasi ESG. Tekanan dari pasar modal internasional, serta persyaratan lembaga keuangan yang mensyaratkan penilaian ESG, menjadi pendorong perilaku perusahaan untuk mengadopsi standar pelaporan yang lebih terbuka. Dari sudut pandang positif, perilaku ini dapat dijelaskan sebagai respons pada insentif eksternal yang mengurangi biaya modal dan mengurangi risiko reputasi. Sebaliknya, teori akuntansi normatif menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan selain sekadar memenuhi minimum regulasi. Pada level normatif, perusahaan seharusnya menginternalisasi nilai keadilan sosial, perlindungan hutan, dan penciptaan pekerjaan yang berkelanjutan. Kerangka normatif menuntun manajemen untuk menetapkan kebijakan “zero‑deforestation”, mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan, serta menjamin partisipasi aktif masyarakat adat dalam perencanaan. Kombinasi kedua teori memberikan pemahaman yang lebih lengkap: satu sisi menjelaskan perilaku aktual, sisi lain memberi pedoman strategis untuk perbaikan berkelanjutan.

3. Bagaimana PT Sumber Hijau dapat mengintegrasikan pelaporan SDGs ke dalam laporan keuangannya, meskipun PSAK belum sepenuhnya mengakomodasi pelaporan ESG? Jelaskan pendekatan atau standar pelaporan apa yang bisa digunakan dan bagaimana penerapannya. 

Karena PSAK belum menyediakan tata cara khusus untuk ESG, PT Sumber Hijau dapat mengadopsi model multi‑lapisan. Pada lapisan pertama, laporan keuangan tetap mengikuti PSAK seperti biasa—neraca, laba‑rugi, dan arus kas. Lapisan kedua berisi laporan keberlanjutan yang mengacu pada standar Global Reporting Initiative (GRI), demi memastikan bahwa setiap indikator SDG 13 (iklim), SDG 15 (ekosistem daratan), dan SDG 8 (pekerjaan layak) memiliki metrik yang terukur (misalnya intensitas emisi CO₂ per ton sawit, luas hutan yang dipertahankan, dan jumlah tenaga kerja lokal). Lapisan ketiga merupakan bagian “Management Discussion & Analysis” yang menghubungkan data keuangan dengan dampak ESG, sehingga pembaca dapat melihat secara langsung kontribusi ekonomi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan. Untuk memperkaya laporan, perusahaan dapat melengkapi GRI dengan standar lain yang telah diakui secara internasional. SASB (atau IFRS S1‑S2) memberikan panduan pengungkapan material yang dapat dilampirkan sebagai catatan akuntansi, sementara ESRS (European Sustainability Reporting Standards) dapat menjadi referensi tambahan bila perusahaan mengincar pasar Eropa. Integrated Reporting (IR) juga memberi kerangka kerja yang menekankan hubungan nilai finansial dengan nilai keberlanjutan, memudahkan penyusunan narasi yang koheren.

Langkah praktis meliputi pembuatan mapping antara setiap indikator SDG dengan akun akuntansi yang relevan (misalnya, emisi CO₂ dicatat dalam akun biaya lingkungan, atau nilai penanaman kembali hutan dicatat sebagai aset tak berwujud). Setelah itu, data lapangan dimasukkan ke dalam sistem akuntansi melalui dashboard ESG yang terintegrasi, sehingga data dapat di‑export langsung sebagai lampiran dalam catatan laporan keuangan. Memperoleh assurance independen dari auditor ESG akan menambah kredibilitas, sekaligus memberi jaminan kepada investor bahwa data ESG dapat dipertanggungjawabkan.

4. Sebagai akuntan yang bertanggung jawab dalam pelaporan keberlanjutan, bagaimana Anda akan menyarankan perusahaan untuk menyusun narasi laporan yang dapat menjawab ekspektasi stakeholder lokal maupun global?
Narasi yang efektif harus menggabungkan unsur faktual, aspiratif, dan partisipatif dalam bahasa yang mudah dicerna. Pendekatan yang dapat diambil meliputi:

  1. Pembukaan yang Menegaskan Visi.  Mulailah dengan menyatakan komitmen perusahaan terhadap pertumbuhan inklusif dan perlindungan hutan, menegaskan bahwa ekspansi tidak akan mengorbankan ekosistem atau hak adat.  
  2. Konteks Lokal yang Kuat. Jelaskan secara singkat sejarah kepemilikan tanah, peran komunitas adat, serta upaya perusahaan dalam melakukan dialog dan konsultasi. Sertakan contoh konkret, misalnya program pelatihan bagi warga setempat atau mekanisme penyelesaian sengketa (grievance mechanism).  
  3. Data Kuantitatif yang Transparan. Sajikan angka-angka utama: berapa hektar hutan yang dipertahankan, intensitas emisi CO₂ yang berhasil diturunkan, dan jumlah tenaga kerja lokal yang tercipta. Data tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan melalui catatan GRI yang terhubung ke PSAK.  
  4. Target SDG yang Terukur. Tetapkan target spesifik untuk masing‑masing SDG 13, 15, dan 8, misalnya penurunan intensitas karbon sebesar 20 % dalam lima tahun, penanaman kembali 200 ha hutan per tahun, dan penciptaan 2.000 pekerjaan tetap bagi penduduk setempat. Penting pula mencantumkan mekanisme pemantauan dan peninjauan tahunan.  
  5. Mekanisme Pengawasan dan Verifikasi. Jelaskan peran dewan pengawas internal, auditor eksternal, serta forum multi‑stakeholder yang melibatkan LSM, pemerintah daerah, dan perwakilan adat. Penegasan ini memberikan kepastian bahwa perusahaan tidak hanya mengandalkan pernyataan, melainkan memiliki mekanisme kontrol yang nyata.  
  6. Penutup dengan Komitmen Transparansi. Uraikan rencana publikasi laporan keberlanjutan secara tahunan, penyediaan data terbuka (open data) bagi para pemangku kepentingan, serta komitmen untuk memperbaiki proses berdasarkan umpan balik.

Dalam menulis, gunakan bahasa yang sederhana, hindari jargon teknis yang bisa membuat pembaca lokal kebingungan. Ceritakan kisah nyata, misalnya kutipan singkat dari seorang pekerja perkebunan atau tokoh adat, sehingga narasi terasa manusiawi. Visualisasi berupa infografik sederhana tentang progres SDG dapat membantu para investor internasional memahami capaian, sementara poster berbahasa lokal dapat menyampaikan pesan serupa kepada masyarakat sekitar.

 Rekomendasi Langkah Konkret  

  • Bentuk tim lintas fungsi yang mencakup akuntansi, ESG, hukum, dan hubungan masyarakat untuk memastikan aliran data yang konsisten.  
  • Terapkan GRI sebagai standar utama, lalu lakukan mapping ke PSAK sehingga setiap indikator keberlanjutan memiliki kode akun akuntansi yang relevan.  
  • Kembangkan dashboard ESG berbasis cloud yang secara otomatis meng‑feed data lapangan ke jurnal akuntansi, sehingga laporan keuangan dan keberlanjutan selalu sinkron.  
  • Lakukan dialog rutin dengan komunitas adat dan LSM, serta sediakan mekanisme grievance yang cepat ditanggapi.  
  • Dapatkan audit ESG independen tiap tahun untuk memberikan assurance kepada investor global.