གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Rachel Salsabila Adimsi 2411011055

Nama : Rachel Salsabila Adimsi
NPM : 2411011055
Kelas : Manajemen

Analisis Video Perkembangan Demokrasi di Indonesia

Perjalanan demokrasi di Indonesia merupakan proses yang kompleks dan dinamis, dipengaruhi oleh berbagai kondisi sosial, politik, dan ekonomi di setiap zamannya. Masa awal kemerdekaan atau masa revolusi fisik (1945–1949) merupakan fase transisi dari penjajahan menuju negara merdeka. Fokus utama bangsa saat itu adalah mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda. Oleh karena itu, sistem demokrasi belum bisa diterapkan secara ideal karena negara masih dalam situasi darurat.

Selanjutnya, pada masa Demokrasi Parlementer (1950–1959), Indonesia mencoba menjalankan sistem demokrasi liberal yang memberi ruang bagi banyak partai politik dan kebebasan berpendapat. Pemilu pertama pada tahun 1955 menjadi tonggak penting dalam sejarah demokrasi Indonesia. Namun, sistem ini justru tidak stabil karena seringnya pergantian kabinet dan konflik politik antar partai, sehingga menghambat pembangunan dan menciptakan ketidakpastian.

Kondisi tersebut menjadi alasan bagi Presiden Soekarno untuk menerapkan Demokrasi Terpimpin (1959–1965), yang sebenarnya justru mengarah pada sistem otoriter. Presiden memiliki kekuasaan sangat besar dan lembaga-lembaga negara kehilangan independensinya. Demokrasi hanya menjadi formalitas karena kontrol terhadap media dan partai politik sangat ketat.

Pada masa Orde Baru (1966–1998), demokrasi kembali mengalami kemunduran. Walau stabilitas nasional dan pertumbuhan ekonomi meningkat, sistem pemerintahan sangat sentralistik, pemilu tidak kompetitif, dan kritik terhadap pemerintah ditekan. Demokrasi semu inilah yang memunculkan perlawanan rakyat, terutama setelah terjadinya krisis ekonomi 1998 yang disusul dengan lengsernya Soeharto.

Era Reformasi yang dimulai pada 1998 membuka harapan baru. Indonesia mulai menerapkan pemilu langsung, otonomi daerah, penguatan peran lembaga negara, dan kebebasan berpendapat. Namun, demokrasi yang terbuka ini juga menghadirkan tantangan baru, seperti korupsi yang masih tinggi, politik uang, polarisasi akibat politik identitas, dan dominasi oligarki dalam sistem kekuasaan.

Tanggapan Pribadi

Melihat perkembangan demokrasi di Indonesia, saya merasa bahwa demokrasi bukanlah sistem yang bisa langsung sempurna diterapkan. Indonesia butuh waktu panjang dan melewati berbagai eksperimen politik untuk menemukan sistem yang paling sesuai. Reformasi telah membawa kemajuan besar, tetapi demokrasi yang sehat tidak cukup hanya dengan pemilu langsung—harus ada pendidikan politik yang merata, transparansi, serta kesadaran kritis dari rakyat. Tantangan seperti korupsi dan manipulasi kekuasaan harus menjadi perhatian bersama agar demokrasi tidak hanya berjalan prosedural, tetapi juga substansial dan benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat.