Nama : Syifaa Salsabila
Npm : 2415015055
INTEGRASI NASIONAL SEBAGAI PENANGKAL ETNOSENTRISME DI INDONESIA yang ditulis oleh: Agus Maladi Irianto
Jurnal tersebut membahas tentang perubahan yang dialami bangsa dan negara Indonesia dalam berbagai aspek, dari orde lama ke orde baru hingga akhirnya memasuki era reformasi. Orde Baru runtuh akibat pemerintahan yang sentralistik dan represif, yang menekan kebebasan daerah dan menimbulkan perlawanan. Reformasi membuka demokrasi dan desentralisasi, tetapi tanpa arah yang jelas, menyebabkan ketidakstabilan sosial. Untuk menjaga persatuan dan mengatasi masalah yang terus berlanjut, diperlukan strategi kebudayaan nasional yang mampu mengelola keberagaman dengan baik.
Identitas nasional awalnya ditandai oleh simbol fisik seperti bendera, lagu kebangsaan, dan bahasa. Namun, seiring waktu, identitas terus berkembang dan dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, serta kepentingan individu. Pluralitas kini tidak hanya berbasis etnis atau asal daerah, tetapi juga kepentingan yang membentuk hubungan sosial. Teknologi dan media, terutama televisi, semakin mempengaruhi cara individu memahami dan mengekspresikan identitasnya, menciptakan kebudayaan massa yang cepat berubah dan semakin kompleks. Pembangunan kebudayaan nasional bertujuan membentuk pola pikir dan sikap nasionalisme untuk memperkuat integrasi bangsa. Identitas berperan sebagai pemersatu, tetapi juga bisa ditinggalkan demi kepentingan bersama. Contohnya, Bahasa Indonesia yang awalnya bahasa daerah kini menjadi pemersatu, serta kelompok masyarakat yang bersatu menghadapi isu bersama. Integrasi nasional terjadi ketika berbagai identitas bersatu demi tujuan yang lebih besar. Integrasi nasional adalah upaya menyatukan visi dan misi bangsa di tengah keberagaman. Namun, perbedaan sering memicu konflik seperti etnosentrisme dan kepentingan daerah yang menghambat persatuan. Otonomi daerah yang kurang dikelola dengan baik dapat mempersempit rasa nasionalisme. Oleh karena itu, strategi kebudayaan diperlukan untuk memperkuat integrasi dengan menekankan persamaan visi di atas perbedaan identitas. Sebagai kesimpulan, integrasi nasional adalah solusi untuk menghadapi berbagai konflik yang masih melanda Indonesia. Pluralitas bangsa seharusnya tidak menjadi pemicu perpecahan, melainkan kekuatan pemersatu. Sayangnya, kebijakan otonomi daerah sering kali justru menghambat integrasi. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk mengesampingkan kepentingan kelompok demi membangun persatuan yang lebih luas dan kokoh.