Posts made by Shakila Yuliandini 2411011006

PO R20B Ganjil 2025 -> responsi 7 -> RESPONSI -> Re: RESPONSI

by Shakila Yuliandini 2411011006 -
Selamat sore ibu, izin menjawab pertanyaan di atas.
Nama: Shakila Yuliandini
NPM: 2411011006

1. Analisis pertumbuhan popularitas tim dalam organisasi
Dalam beberapa dekade terakhir, tim semakin populer dalam organisasi karena mampu menggabungkan berbagai keterampilan, pengalaman, dan perspektif untuk menyelesaikan masalah yang kompleks. Jika dulu pekerjaan lebih banyak didelegasikan ke individu, sekarang banyak organisasi menyadari bahwa kerja tim mampu meningkatkan kreativitas, mempercepat pengambilan keputusan, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap hasil kerja. Popularitas tim juga tumbuh karena dunia kerja modern menuntut fleksibilitas, kolaborasi lintas fungsi, dan inovasi berkelanjutan yang sulit dicapai jika hanya mengandalkan individu semata

2. Bandingkan kelompok dengan tim
Sebuah kelompok pada dasarnya adalah kumpulan orang yang berkumpul untuk tujuan tertentu, tetapi belum tentu memiliki interaksi yang intens atau tujuan yang sama. Sedangkan tim adalah bentuk kelompok yang lebih terikat: setiap anggota saling bergantung, memiliki tujuan bersama, tanggung jawab kolektif, serta koordinasi yang lebih erat. Singkatnya, kelompok bisa sekadar "bersama-sama", sementara tim benar-benar "bekerja bersama" untuk mencapai hasil tertentu.

3. Bandingkan 5 tipe tim
-Tim Fungsional → Dibentuk dari satu divisi atau departemen yang sama, dengan tugas sesuai bidang spesialisasi masing-masing.
-Tim Lintas Fungsional → Anggotanya berasal dari berbagai departemen, dibentuk untuk menyelesaikan proyek tertentu agar perspektif lebih beragam.
-Tim Virtual → Anggota bekerja dari lokasi berbeda dengan bantuan teknologi komunikasi, cocok untuk organisasi global.
-Tim Proyek → Bersifat sementara, dibentuk untuk menyelesaikan satu proyek tertentu dan bubar setelah proyek selesai.
-Tim Mandiri (Self-managed team) → Anggotanya memiliki otonomi tinggi, mengatur sendiri tugas dan tanggung jawab tanpa pengawasan langsung.

4. Karakteristik tim yang efektif
Tim yang efektif biasanya memiliki tujuan yang jelas, peran anggota yang terdefinisi dengan baik, komunikasi terbuka, serta adanya saling percaya antar anggota. Selain itu, tim yang efektif mampu menyelesaikan konflik secara sehat, mendukung satu sama lain, memiliki kepemimpinan yang adaptif, serta berorientasi pada hasil. Yang tidak kalah penting, mereka menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama, bukan hanya individu.

5. Bagaimana organisasi dapat menciptakan para pemain tim
Organisasi bisa menciptakan para pemain tim dengan menanamkan budaya kolaborasi, memberikan pelatihan kerja sama, serta menciptakan sistem penghargaan yang menilai kontribusi kolektif, bukan hanya prestasi individu. Selain itu, pemimpin perlu memberikan teladan dalam kerja sama, mendorong komunikasi terbuka, dan memberikan ruang bagi setiap anggota untuk berpartisipasi aktif. Dengan begitu, individu akan terbiasa berpikir tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk keberhasilan tim.

6. Kapan menggunakan individu dan bukan tim
Tidak semua pekerjaan memerlukan tim. Jika tugas bersifat rutin, sederhana, atau membutuhkan spesialisasi khusus yang bisa dikerjakan satu orang dengan lebih efisien, maka lebih baik diberikan kepada individu. Misalnya pekerjaan administratif, analisis data tertentu, atau pekerjaan teknis yang tidak butuh koordinasi kompleks. Sebaliknya, tim lebih tepat digunakan ketika pekerjaan membutuhkan kreativitas, ide beragam, atau kolaborasi lintas bidang.
Selamat sore ibu, izin menjawab pertanyaan di atas.
Nama: Shakila Yuliandini
NPM: 2411011006

1. Definisikan persepsi dan jelaskan faktor-faktor yang memengaruhinya.
Persepsi adalah cara seseorang menangkap, menyeleksi, dan menafsirkan informasi dari lingkungan sehingga membentuk pemahaman tertentu. Proses ini tidak netral, melainkan dipengaruhi oleh faktor internal seperti pengalaman, kebutuhan, dan motivasi, serta faktor eksternal seperti keadaan sekitar, intensitas rangsangan, dan situasi sosial.

2. Jelaskan teori atribusi, dan tiga penentu atribusi.
Teori atribusi menjelaskan bagaimana orang mencari alasan di balik perilaku seseorang, apakah berasal dari diri individu atau dari kondisi luar. Ada tiga hal yang menjadi penentu: konsensus (apakah banyak orang bertindak sama), konsistensi (apakah perilaku itu terus berulang), dan distinktifitas (apakah perilaku itu hanya muncul pada situasi tertentu).

3. Identifikasi jalan pintas yang individu gunakan dalam membuat penilaian mengenai orang lain.
Dalam menilai orang lain, individu sering memakai jalan singkat seperti stereotip, generalisasi cepat, efek halo yang menilai keseluruhan dari satu sisi positif, atau proyeksi dengan menganggap orang lain sama seperti dirinya. Jalan pintas ini memudahkan, tetapi sering menghasilkan bias.

4. Jelaskan hubungan antara persepsi dan pengambilan keputusan.
Persepsi berperan penting karena sebelum membuat keputusan, seseorang harus lebih dulu menafsirkan masalah dan situasi. Jika persepsi berbeda, maka keputusan yang dihasilkan juga bisa berbeda meskipun informasi yang diterima sama.

5. Bandingkan model rasional pengambilan keputusan dengan rasionalitas terbatas dan intuisi.
Pengambilan keputusan rasional menekankan langkah logis dan sistematis untuk mencapai hasil optimal. Namun dalam praktiknya, manusia terbatas, sehingga muncul konsep rasionalitas terbatas yang hanya mencari keputusan “cukup baik”. Sebaliknya, intuisi lebih mengandalkan pengalaman dan perasaan spontan tanpa melalui perhitungan panjang.

6. Jelaskan bias atau kesalahan keputusan yang umum.
Kesalahan dalam membuat keputusan sering muncul karena kecenderungan kognitif, misalnya terlalu percaya diri, hanya fokus pada informasi awal (anchoring), mencari data yang mendukung pandangan sendiri (confirmation bias), atau merasa sudah bisa menebak hasil setelah kejadian selesai (hindsight bias).

7. Jelaskan bagaimana perbedaan-perbedaan individu dan batasan-batasan organisasi memengaruhi pengambilan keputusan.
Setiap orang membawa gaya berpikir, nilai, serta toleransi risiko yang berbeda dalam membuat keputusan. Namun, keputusan juga tidak lepas dari batasan organisasi, seperti aturan, kebijakan, sumber daya, dan struktur yang kadang mempersempit pilihan individu.

8. Bandingkan tiga kriteria keputusan etis.
Dalam membuat keputusan etis, ada tiga pendekatan utama. Pertama, utilitarian yang menekankan manfaat terbesar bagi banyak pihak. Kedua, hak individu yang menjaga kebebasan dan hak dasar setiap orang. Ketiga, keadilan yang memastikan setiap orang diperlakukan secara adil dan seimbang.

9. Definisikan kreativitas dan jelaskan model tiga tahap dari kreativitas.
Kreativitas berarti kemampuan menghadirkan ide yang baru dan bermanfaat. Prosesnya melewati tiga tahap: perumusan masalah untuk memahami tantangan, pengumpulan dan pengolahan informasi hingga menemukan ide, lalu tahap implementasi untuk menerapkan ide tersebut menjadi sesuatu yang nyata.
Assalamualaikum Pak Roy, sebelumnya izin memperkenalkan diri :
NAMA : Shakila Yuliandini
NPM : 2411011006
KELAS : S-1 Manajemen
Izin memberikan analisis saya terkait jurnal tersebut pak :

"Semangat Bela Negara di Tengah Pandemi COVID-19" oleh Syahrul Kemal:

Jurnal ini membahas pentingnya semangat bela negara dalam menghadapi situasi krisis, khususnya pada masa pandemi COVID-19. Penulis menegaskan bahwa bela negara merupakan kewajiban setiap warga negara, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Bela negara tidak hanya diartikan dalam konteks militer, tetapi juga bisa diwujudkan dalam tindakan-tindakan sederhana, seperti mematuhi protokol kesehatan, tidak menyebarkan berita bohong (hoaks), serta membantu sesama yang terdampak pandemi. Penulis menyoroti bahwa tindakan-tindakan tersebut merupakan wujud nyata cinta tanah air dan bentuk partisipasi aktif dalam menjaga keutuhan bangsa, terutama ketika negara menghadapi tantangan besar seperti pandemi global.

Dari segi kekuatan, jurnal ini berhasil mengangkat isu yang relevan dan penting, dengan memberikan pemahaman bahwa bela negara bersifat multidimensional dan dapat dilakukan oleh siapa saja sesuai peran dan profesinya masing-masing. Selain itu, jurnal ini juga mengandung pesan moral yang kuat mengenai solidaritas sosial dan semangat gotong royong sebagai fondasi kebangsaan. Namun demikian, terdapat sejumlah kelemahan yang cukup mencolok. Secara teknis, penulisan jurnal ini kurang rapi, banyak kesalahan ejaan dan tata bahasa yang mengganggu pemahaman pembaca. Selain itu, jurnal ini masih bersifat deskriptif dan belum menunjukkan kedalaman analisis yang memadai. Argumen yang disampaikan tidak didukung oleh data empiris atau kajian teoritis yang kuat, serta penggunaan referensi yang minim dan tidak terintegrasi secara sistematis.

Meskipun jurnal ini belum melalui proses peer review dan kualitas ilmiahnya masih perlu ditingkatkan, pesan yang disampaikan cukup relevan dan memiliki nilai edukatif, khususnya dalam membangun kesadaran masyarakat tentang bela negara dalam situasi darurat. Untuk memperkuat kontribusi akademisnya, jurnal ini sebaiknya direvisi secara menyeluruh, baik dari segi struktur tulisan, kualitas bahasa, maupun pendalaman teori dan data pendukung. Dengan perbaikan tersebut, tulisan ini berpotensi menjadi sumber pembelajaran yang bermanfaat dalam pendidikan kewarganegaraan dan penguatan karakter bangsa di masa krisis.