གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Olivia Rahma Dani

Nama : Olivia Rahma Dani
Npm : 2413031039

Saya telah membaca sejumlah referensi yang berkaitan dengan topik aspek perilaku dalam akuntansi, serta proses penetapan standar (standard-setting) dan ekonomi politik akuntansi,

Referensi, Warren, J. (2024). Maintaining and Extending Hegemony: The Politics of Accounting Standard Setting.

Artikel ini membahas bagaimana proses penetapan standar akuntansi internasional (standard-setting) tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga merupakan proses politik dan ideologis. Warren (2024) menunjukkan bahwa lembaga pembuat standar seperti International Accounting Standards Board (IASB) berperan dalam mempertahankan hegemoni atau dominasi kepentingan ekonomi global tertentu, terutama yang berasal dari negara-negara maju dan korporasi multinasional. Melalui pendekatan political economy of accounting, penelitian ini mengungkap bahwa standar akuntansi sering kali mencerminkan nilai-nilai ekonomi neoliberal, seperti efisiensi pasar dan kepentingan investor, daripada menyeimbangkan kepentingan sosial yang lebih luas. Dalam praktiknya, proses standard-setting melibatkan negosiasi antara berbagai aktor regulator, perusahaan besar, lembaga keuangan, dan organisasi profesi yang masing-masing memiliki kepentingan perilaku, ekonomi, dan politik tersendiri.

TA B 2025 -> DISKUSI

Olivia Rahma Dani གིས-
Nama : Olivia Rahma Dani
NPM : 2413031039

Berdasarkan kedua jurnal tersebut Aspek perilaku dalam akuntansi menyoroti bagaimana faktor-faktor psikologis, kognitif, sosial, dan emosional memengaruhi cara individu memahami, menggunakan, dan menafsirkan informasi akuntansi dalam pengambilan keputusan keuangan. Berdasarkan kajian literatur di atas, jelas bahwa perilaku manusia seperti bias kognitif, heuristik, motivasi, dan kepercayaan dapat memengaruhi bagaimana sistem akuntansi dirancang dan diimplementasikan. Misalnya, kecenderungan seperti overconfidence dan confirmation bias sering kali membuat manajer mengambil keputusan yang tidak sepenuhnya rasional, bahkan ketika mereka memiliki data akuntansi yang objektif. Oleh karena itu, urgensi memahami aspek perilaku dalam akuntansi sangat tinggi, karena tanpa mempertimbangkan dimensi manusia ini, sistem akuntansi berisiko gagal mendukung pengambilan keputusan yang efektif dan rasional.

Dalam konteks standard-setting, proses penetapan standar akuntansi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku dan kepentingan para pemangku kepentingan. Lembaga pembuat standar seperti IASB atau FASB harus mempertimbangkan bagaimana pengguna laporan keuangan akan bereaksi terhadap perubahan aturan, serta bagaimana persepsi keadilan, keandalan, dan transparansi dapat memengaruhi penerimaan standar tersebut. Selain itu, proses ini juga dipengaruhi oleh ekonomi politik, yakni interaksi antara kekuatan ekonomi, kepentingan politik, dan tekanan institusional. Misalnya, perusahaan besar atau kelompok industri tertentu dapat memengaruhi arah kebijakan akuntansi agar lebih sesuai dengan kepentingan mereka, sedangkan regulator berusaha menjaga keseimbangan antara transparansi publik dan stabilitas ekonomi.

Dengan demikian, aspek perilaku dalam akuntansi memiliki urgensi strategis karena membantu menjembatani kesenjangan antara teori rasional dan praktik nyata. Ia menegaskan bahwa akuntansi bukan sekadar sistem angka, melainkan proses sosial yang dipengaruhi oleh nilai, persepsi, dan dinamika kekuasaan. Memahami hal ini memungkinkan pembentukan standar dan kebijakan akuntansi yang lebih adaptif, adil, dan efektif dalam mendukung pengambilan keputusan ekonomi di berbagai konteks organisasi.

AKM B2025 -> Diskusi

Olivia Rahma Dani གིས-
Nama : Olivia Rahma Dani
Npm : 2413031039

Terdapat klarifikasi penting antara aset tetap dan properti investasi, baik dalam hal fungsi maupun perlakuan akuntansinya. Aset tetap umumnya digunakan secara langsung dalam kegiatan operasional perusahaan, seperti dalam proses produksi atau penyediaan layanan, dan dikelola sesuai dengan pedoman PSAK 16. Sementara itu, properti investasi diperoleh bukan untuk penggunaan langsung, tetapi untuk mendapatkan pendapatan dari penyewaan atau meningkatnya nilai, yang diatur dalam PSAK 13. Ketika dihadapkan pada dua pilihan ini, properti investasi menjadi pilihan yang lebih strategis karena dapat memberikan pendapatan pasif secara konsisten dan potensi peningkatan nilai di masa depan. Lebih lanjut, jenis properti ini juga lebih tahan terhadap inflasi dan menawarkan fleksibilitas dalam pengelolaannya.