གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Asnia Sundari

AKM B2025 -> Diskusi

Asnia Sundari གིས-
Aset tetap dan properti investasi sama-sama termasuk aset berwujud, tetapi tujuannya berbeda. Aset tetap digunakan untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan, seperti mesin, kendaraan, atau gedung kantor yang dipakai sendiri. Sedangkan properti investasi dimiliki untuk menghasilkan pendapatan pasif, misalnya dari sewa atau kenaikan nilai jual di masa depan (PSAK 13, 2015).
Jika saya diminta memilih, saya akan memilih membeli properti investasi. Alasannya, properti investasi dapat memberikan keuntungan jangka panjang tanpa harus digunakan secara langsung dalam operasional, sehingga bisa menjadi sumber pendapatan tambahan yang stabil. Selain itu, nilainya cenderung meningkat dari waktu ke waktu, sehingga lebih menguntungkan sebagai instrumen investasi. Namun, tentu pilihan ini bergantung pada tujuan dan kebutuhan bisnis jika untuk menjalankan usaha sehari-hari, aset tetap akan lebih dibutuhkan.

TA B 2025 -> DISKUSI

Asnia Sundari གིས-

Nama: Asnia Sundari
NPM: 2413031040

Berdasarkan kedua jurnal tersebut, yakni Concepts of Behavioral Accounting from Psychological, Social, and Human Behavior Aspects (Trisnaningsih & Husna, 2022) dan Behavioral Accounting: The Link Between Psychology and Accounting Practices (Muhammad Daham Sabbar, 2023), menurut saya aspek perilaku dalam akuntansi memiliki urgensi besar dalam memahami hubungan antara manusia dan proses pelaporan keuangan. Secara esensial, akuntansi tidak hanya berfokus pada angka dan standar, tetapi juga pada perilaku individu yang terlibat dalam pengambilan keputusan ekonomi. Menurut Trisnaningsih dan Husna (2022), perilaku manusia seperti motivasi, persepsi, nilai, dan kepribadian yang sangat memengaruhi cara seseorang menafsirkan dan melaporkan informasi keuangan. Ketika seorang akuntan atau manajer memiliki tekanan psikologis atau insentif tertentu, hal ini dapat memicu praktik seperti earnings management atau pelaporan bias. Karena itu, memahami aspek perilaku membantu mencegah penyimpangan dan meningkatkan keandalan laporan keuangan. Dari sisi proses standard-setting dan ekonomi politiknya, Sabbar (2023) menjelaskan bahwa penetapan standar akuntansi bukan hanya hasil pertimbangan teknis, melainkan juga hasil dari proses politik yang melibatkan berbagai pihak dengan kepentingan berbedam, seperti regulator, auditor, dan perusahaan. Faktor ekonomi, kekuasaan, serta lobi politik dapat memengaruhi isi standar yang diterapkan. Oleh karena itu, analisis perilaku dan politik ekonomi dalam standard-setting menjadi penting agar prosesnya lebih transparan, adil, dan dapat mencerminkan kepentingan publik secara menyeluruh.

Dengan demikian, urgensi aspek perilaku dan politik ekonomi dalam akuntansi terletak pada upayanya untuk mengintegrasikan dimensi manusiawi ke dalam sistem keuangan yang sering kali dianggap kaku dan objektif, sehingga menghasilkan praktik akuntansi yang lebih etis, realistis, dan berorientasi pada tanggung jawab sosial. Sekian, terima kasih, Bu.


TA B 2025 -> PERTEMUAN 7: Menilai teori positif kebijakan akuntansi

Asnia Sundari གིས-
Nama: Asnia Sundari
NPM: 2413031040

Salam pembelajar, Bu..
Saya sudah membaca sedikit tentang teori positif kebijakan akuntansi, dan menurut saya teori ini berfokus pada menjelaskan dan memprediksi bagaimana kebijakan akuntansi dipilih oleh perusahaan, bukan menentukan mana yang seharusnya digunakan. Teori ini dikembangkan oleh Watts dan Zimmerman (1978) melalui Positive Accounting Theory (PAT). Salah satu referensi yang saya baca yakni buku karya Siladjaja dkk. (2023) yang membahas teori-teori akuntansi modern, termasuk teori positif dan penerapannya dalam kebijakan akuntansi di berbagai konteks bisnis. Dalam pandangan teori positif, manajer dianggap rasional dan akan memilih kebijakan akuntansi yang memberikan keuntungan terbesar bagi dirinya atau perusahaannya, seperti untuk meningkatkan laba, menekan pajak, atau memperbaiki citra keuangan. Teori positif kebijakan akuntansi berusaha menjelaskan dan memprediksi perilaku akuntansi yang terjadi di dunia nyata, bukan menentukan bagaimana akuntansi seharusnya dilakukan, teori ini muncul sebagai reaksi terhadap teori normatif yang dianggap terlalu ideal dan tidak menggambarkan praktik sebenarnya di lapangan, fokus utamanya adalah memahami mengapa manajer atau pihak perusahaan memilih kebijakan akuntansi tertentu, misalnya dalam menentukan metode depresiasi, pengakuan pendapatan, atau perlakuan terhadap aset. Teori ini juga menjelaskan bahwa setiap pihak dalam perusahaan memiliki kepentingan ekonomi sendiri. Misalnya, manajer mungkin memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba agar mendapatkan bonus lebih besar, sementara pemegang saham menginginkan informasi yang realistis untuk menilai kinerja. Oleh karena itu, teori positif menganggap bahwa kebijakan akuntansi tidak sepenuhnya netral, melainkan dipengaruhi oleh motivasi, tekanan, dan insentif ekonomi. Jadi, teori ini membantu kita memahami alasan di balik perilaku akuntansi di dunia nyata, bukan sekadar aturan yang ideal. Sekian, terima kasih, Bu.

TA B 2025 -> PERTEMUAN 4: Mengkritisi kerangka konseptual akuntansi

Asnia Sundari གིས-
Salam pembelajar, Bu..
Nama: Asnia Sundari
NPM: 2413031040

Alhamdulillah, saya dalam keadaan baik dan siap belajar. Saya sudah membaca sedikit tentang kerangka konseptual akuntansi, yang ternyata berfungsi seperti “pondasi” dalam penyusunan standar akuntansi. Kerangka ini menjelaskan tujuan laporan keuangan, karakteristik kualitatif informasi, serta unsur-unsur seperti aset, kewajiban, pendapatan, dan beban. Dengan memahami kerangka konseptual, kita bisa tahu mengapa standar akuntansi dibuat seperti sekarang dan bagaimana informasi keuangan seharusnya disajikan agar relevan dan dapat dipercaya. Jadi, penting bagi kita untuk mengkritisi dan memahaminya supaya bisa melihat apakah penerapannya sudah sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini. Sekian, terima kasih, Bu..