གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Asnia Sundari

Salam pembelajar, Bu..
Terkait topik “Menganalisis Aspek Perilaku dalam Akuntansi serta Proses Standard-Setting dan Ekonomi Politiknya,” saya telah membaca beberapa referensi yang cukup menarik dan relevan dengan pembahasan ini.

Dari sisi aspek perilaku dalam akuntansi, referensi seperti karya Mulia & Lianti (2022) menjelaskan bahwa akuntansi tidak hanya berkaitan dengan angka dan laporan keuangan, tetapi juga erat kaitannya dengan perilaku manusia. Dalam praktiknya, akuntan dan manajer sering kali dihadapkan pada tekanan dari berbagai pihak, seperti atasan, pemegang saham, atau regulator, yang dapat memengaruhi keputusan mereka. Misalnya, manajer bisa saja melakukan earnings management (manajemen laba) untuk memenuhi target tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan akuntansi dipengaruhi oleh faktor psikologis, etika, dan motivasi individu, bukan sekadar pertimbangan teknis semata.

Sementara itu, dari sisi proses standard-setting dan ekonomi politiknya, teori Political Economy of Accounting menjelaskan bahwa pembentukan standar akuntansi bukanlah proses yang sepenuhnya netral. Standar sering kali menjadi hasil kompromi antara berbagai kepentingan, mulai dari perusahaan, investor, pemerintah, hingga lembaga internasional seperti IFRS. Dengan kata lain, ada pengaruh politik dan ekonomi yang ikut berperan dalam menentukan bagaimana standar akuntansi diterapkan. Olehkarena itu, penting bagi kita sebagai calon akuntan atau akademisi untuk memahami bahwa di balik setiap standar akuntansi terdapat dinamika kekuasaan, kepentingan, dan negosiasi yang memengaruhi hasil akhirnya.

Dari kedua perspektif ini, dapat disimpulkan bahwa akuntansi merupakan sistem sosial yang kompleks, tidak hanya soal angka, tetapi juga tentang perilaku manusia dan kekuatan ekonomi-politik yang membentuknya.

AKM B2025 -> Diskusi

Asnia Sundari གིས-
Izin menjawab, Bu.
Nama: Asnia Sundari 
NPM: 2413031040 

Menurut saya, selama periode harga meningkat (inflasi), metode LIFO (Last In, First Out) akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan metode FIFO (First In, First Out). Hal ini terjadi karena dalam metode LIFO, barang terakhir yang dibeli (dengan harga yang lebih tinggi) dianggap terjual terlebih dahulu. Akibatnya, harga pokok penjualan (HPP) menjadi lebih tinggi, sehingga laba bersih berkurang.Sebaliknya, pada metode FIFO, barang yang lebih dulu dibeli (dengan harga yang lebih rendah) dianggap terjual lebih dahulu, sehingga HPP lebih rendah dan laba bersih lebih tinggi. Namun, saat harga menurun (deflasi), pengaruhnya menjadi kebalikan. Dalam kondisi ini, metode LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi, karena barang terakhir yang dibeli memiliki harga yang lebih rendah (HPP lebih kecil), sedangkan metode FIFO menghasilkan laba bersih yang lebih rendah karena HPP-nya lebih besar.
Jadi, saat harga naik metode FIFO menghasilkan laba lebih tinggi, sedangkan LIFO menghasilkan laba lebih rendah. Saat harga turun metode FIFO menghasilkan laba lebih rendah, sedangkan LIFO menghasilkan laba lebih tinggi.
Sekian, terima kasih.