Posts made by Hengky Kurniawan IF UNILA

Nama: Hengky Kurniawan
NPM : 2415061105
Kelas : PSTI-D

A. Pendapat tentang pendidikan di tengah pandemi COVID-19
Menurut saya, pendidikan selama pandemi ini benar-benar menghadapi banyak tantangan. Perubahan mendadak ke pembelajaran online bikin kaget banyak orang, termasuk guru, orang tua, dan siswa sendiri. Tidak semua orang punya fasilitas yang memadai, seperti perangkat elektronik atau internet yang stabil. Bahkan, ada orang tua yang bingung mendampingi anak belajar karena materi pelajaran juga makin sulit.

Di sisi lain, situasi ini jadi dorongan untuk berinovasi dalam pendidikan. Sekolah, pemerintah, dan masyarakat mulai memikirkan cara-cara baru biar pendidikan tetap bisa berjalan. Nilai gotong royong juga terlihat karena banyak orang yang berusaha membantu mereka yang kesulitan.

B. Cara membuat pendidikan tetap efektif dan sesuai nilai-nilai Pancasila
Agar pendidikan tetap berjalan lancar dan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, ini beberapa hal yang bisa dilakukan:

Gotong Royong (Sila ke-3): Semua pihak, termasuk pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat, perlu kerja sama untuk membantu siswa yang kesulitan. Misalnya, bantu anak-anak yang tidak punya perangkat belajar atau bantu akses internet.
Keadilan Sosial (Sila ke-5): Pemerintah sebaiknya lebih banyak memberikan bantuan untuk siswa yang kurang mampu agar mereka bisa ikut belajar online. Bisa dalam bentuk subsidi internet atau peminjaman perangkat belajar.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Sila ke-2): Guru sebaiknya lebih peka dan paham kondisi siswa saat ini. Misalnya, jika ada siswa yang kesulitan, mungkin mereka bisa diberikan waktu tambahan untuk mengumpulkan tugas.
Persatuan Indonesia (Sila ke-3): Kita perlu memastikan pendidikan bisa dinikmati semua anak tanpa memandang latar belakang ekonomi, jadi nggak ada yang tertinggal.
C. Contoh pengembangan karakter Pancasilais
Ada contoh bagus tentang gotong royong di lingkungan saya. Beberapa warga bekerja sama mengumpulkan dana buat membeli paket data internet bagi anak-anak yang orang tuanya kesulitan ekonomi. Ini contoh nyata nilai gotong royong dan kepedulian. Dengan kebersamaan, warga sekitar bisa membantu anak-anak agar tetap bisa ikut belajar. Menurut saya, ini adalah contoh luar biasa dari bagaimana kita bisa membantu satu sama lain di saat yang sulit.

D. Hakikat Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
Pancasila adalah dasar yang mencerminkan nilai-nilai utama bangsa Indonesia, seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Pancasila bisa menjadi panduan dalam cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak di kehidupan sehari-hari. Misalnya, dalam masa pandemi seperti sekarang, kita bisa mengedepankan rasa saling membantu dan gotong royong. Dengan nilai-nilai Pancasila, kita diharapkan bisa tetap bersatu dan menghadapi tantangan bersama, sehingga tercipta masyarakat yang harmonis dan saling peduli.

Pancasila bukan hanya sebagai simbol, tapi sebagai cara kita menghadapi hidup dengan nilai-nilai yang luhur, termasuk dalam situasi sulit seperti pandemi ini.
Kata "filsafat" dalam Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani "philosophia," yang tersusun dari kata phile yang berarti cinta, dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Cinta di sini dimaknai sebagai hasrat besar, semangat yang kuat, atau kesungguhan, sementara kebijaksanaan berarti kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Aliran-aliran filsafat pun beragam, di antaranya adalah Rasionalisme yang mengutamakan akal sebagai sumber pengetahuan, Materialisme yang memandang materi sebagai elemen utama realitas, Individualisme yang mengagungkan hak dan kebebasan individu, serta Hedonisme yang menjadikan kesenangan atau kebahagiaan sebagai tujuan hidup tertinggi.

Filsafat Pancasila dapat dipahami sebagai refleksi kritis dan rasional terhadap Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan menggali maknanya secara mendasar dan menyeluruh. Sebagai sebuah sistem, Pancasila memiliki ciri-ciri seperti kesatuan yang terdiri dari berbagai elemen dengan fungsi masing-masing, yang saling terkait dan bergantung untuk mencapai tujuan tertentu dalam lingkungan yang kompleks. Dalam filsafat, penyelidikan meliputi aspek Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Ontologi menurut Aristoteles adalah ilmu yang mengkaji hakikat "ada" atau keberadaan, dan sering diidentikkan dengan metafisika. Epistemologi, di sisi lain, mengkaji asal, struktur, metode, dan validitas pengetahuan.
Nama : Hengky Kurniawan
Npm : 2415061105
Kelas : PSTI-D

Jurnal "Filsafat Ilmu dan Arah Pengembangan Pancasila: Relevansinya dalam Mengatasi Persoalan Kebangsaan"

Jurnal ini membahas pentingnya pendekatan filsafat ilmu dalam memahami dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila, agar Pancasila dapat lebih relevan dalam mengatasi masalah-masalah kebangsaan Indonesia. Penulis menyoroti bahwa filsafat ilmu, yang terdiri dari tiga aspek utama—ontologi, epistemologi, dan aksiologi—dapat menjadi kerangka untuk mendalami Pancasila:

Ontologi: Pancasila dilihat sebagai sistem nilai dasar yang memiliki prinsip-prinsip luhur. Sila-sila dalam Pancasila menawarkan panduan moral dan etika dalam kehidupan berbangsa.

Epistemologi: Pancasila lahir dari konsensus yang mengandung wawasan nasionalisme dan kemanusiaan, dan bertujuan untuk menjadi pedoman hidup masyarakat dalam tatanan sosial.

Aksiologi: Pancasila memberikan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial yang sangat dibutuhkan dalam menjawab persoalan kebangsaan, seperti korupsi dan ketimpangan sosial.

Jurnal ini juga menyoroti berbagai masalah sosial yang dihadapi bangsa Indonesia, seperti lemahnya implementasi nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan meningkatnya praktik korupsi. Sebagai solusi, penulis menekankan pentingnya pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila di semua tingkatan pendidikan untuk memperkuat pemahaman dan implementasi Pancasila oleh masyarakat. Selain itu, penulis menyarankan agar Pancasila dipandang sebagai ideologi terbuka yang dapat terus diperbarui sesuai dengan perkembangan zaman.

Penerapan filsafat ilmu dalam mengkaji Pancasila memungkinkan pemahaman yang lebih dalam tentang perannya dalam kehidupan berbangsa. Penulis merekomendasikan pendidikan yang memperkuat penghayatan nilai-nilai Pancasila untuk mengatasi berbagai tantangan moral dan sosial bangsa, demi menciptakan masyarakat yang lebih beretika dan berkarakter.

Nama : Hengky Kurniawan

NPM  : 2415061105

Kelas  : PSTI-D


1.Pendapat Mengenai Kasus Penolakan Jenazah Korban Covid-19 dan Korelasi dengan Implementasi Nilai Pancasila:


Kasus penolakan jenazah korban Covid-19 di Kabupaten Semarang, terutama saat korban adalah seorang perawat yang berjuang di garis depan, sangat memprihatinkan dan tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam Pancasila. Dalam sila kedua, "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab," diajarkan untuk menghormati sesama manusia, termasuk menghormati martabat seseorang bahkan setelah meninggal. Tindakan penolakan tersebut menunjukkan kurangnya pemahaman akan pentingnya rasa kemanusiaan dan kepedulian. Jenazah korban Covid-19 seharusnya dihargai, terutama mengingat almarhumah adalah seorang tenaga kesehatan yang telah berjasa bagi masyarakat.


Penolakan ini tidak hanya melukai perasaan keluarga, tetapi juga menunjukkan ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi pandemi dari sisi sosial. Penghormatan kepada jenazah, sesuai dengan protokol kesehatan, seharusnya menjadi prioritas dan menunjukkan bahwa masyarakat menjunjung tinggi azas Pancasila, bukan hanya dalam kehidupan, tetapi juga setelah kematian.


2.Saran dan Solusi sebagai Mahasiswa agar Kejadian Tidak Terulang:


a. Pendidikan Karakter Sejak Dini

Pendidikan karakter yang menekankan penghargaan terhadap orang lain, empati, dan rasa kemanusiaan perlu ditanamkan sejak usia dini. Ini bisa dimulai dari sekolah-sekolah melalui kurikulum dan kegiatan yang mengajarkan siswa untuk menghormati sesama manusia dan menunjukkan kepedulian terhadap orang lain. Pendidikan semacam ini akan membantu menciptakan generasi yang lebih berempati dan berkarakter baik.


b. Sosialisasi Protokol Pemakaman Covid-19

Sosialisasi kepada masyarakat tentang prosedur pemakaman jenazah Covid-19 perlu dilakukan lebih luas dan menyeluruh. Pemerintah dan tenaga kesehatan bisa mengadakan edukasi kepada masyarakat mengenai standar pemakaman sesuai protokol kesehatan, sehingga mereka mengerti bahwa risiko penularan sangat kecil jika mengikuti prosedur yang ada.


c. Penguatan Peran Tokoh Masyarakat dan Pemuka Agama

Tokoh masyarakat dan pemuka agama dapat berperan sebagai teladan dalam mempengaruhi cara pandang masyarakat agar lebih menghargai korban Covid-19. Dengan adanya dukungan dari mereka, masyarakat akan lebih terbuka dan menerima kebijakan pemakaman sesuai protokol kesehatan tanpa harus menolak jenazah.


d. Peningkatan Edukasi di Media Sosial

Mengingat kejadian ini menjadi viral di media sosial, pemerintah dan lembaga terkait bisa lebih aktif memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi yang benar. Hal ini penting agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang akurat tentang bahaya penularan Covid-19 serta pentingnya penerapan nilai kemanusiaan dalam menghadapi kasus-kasus serupa.


3.Apakah Penolakan Jenazah Covid-19 Termasuk Pelanggaran Sila Pancasila, Terutama Sila Kedua?


Ya, penolakan jenazah korban Covid-19 termasuk pelanggaran terhadap sila kedua Pancasila, yaitu "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab." Dalam ajaran sila ini, kita diajarkan untuk menghargai setiap manusia, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Meski jenazah sudah tidak bernyawa, ia tetap berhak atas pemakaman yang layak sesuai protokol kesehatan yang telah ditentukan. Penolakan ini melukai nilai-nilai kemanusiaan karena tidak menunjukkan penghormatan kepada orang yang telah meninggal, bahkan terhadap seorang perawat yang telah berjasa.


Selain itu, tindakan ini tidak mencerminkan sikap beradab dan kurangnya rasa empati, yang bertentangan dengan semangat persatuan dan kemanusiaan dalam Pancasila.