NAMA : HENGKY KURNIAWAN
NPM : 2415061105
KELAS : PSTI D
A. Tanggapan dan Langkah Antisipasi Hoaks
Penyebaran hoaks di era digital menjadi ancaman serius bagi kepercayaan publik, persatuan, dan stabilitas sosial. Media sosial mempercepat persebaran informasi palsu, yang sering kali sulit dikendalikan, bahkan oleh mereka yang berpendidikan tinggi, terutama jika informasi tersebut sesuai dengan keyakinan atau emosinya. Hoaks yang viral juga dapat memengaruhi keputusan penting, termasuk di ranah politik.
Untuk mengatasi masalah ini, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital dengan memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Bijak menggunakan media sosial dan melaporkan konten hoaks adalah langkah kunci. Selain itu, tokoh masyarakat memiliki peran penting untuk memberikan teladan dengan menyebarkan informasi yang akurat dan bertanggung jawab. Kesadaran kolektif adalah kunci menciptakan lingkungan digital yang sehat, aman, dan bebas dari hoaks. Platform media sosial juga harus lebih ketat dalam mengawasi akun penyebar hoaks, sementara tokoh masyarakat perlu mempromosikan penggunaan media sosial yang bijaksana.
B. Pengaruh Pengembangan IPTEK yang Tidak Sesuai Pancasila
Pemanfaatan teknologi yang tidak berlandaskan nilai-nilai Pancasila dapat menimbulkan dampak negatif, seperti maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan ketimpangan informasi, yang berpotensi merusak persatuan dan hubungan sosial. Penyalahgunaan teknologi ini bertentangan dengan semangat Pancasila, yang menekankan keadilan, tanggung jawab, dan persatuan.
Untuk mengatasi tantangan ini, nilai-nilai Pancasila harus diintegrasikan dalam pengembangan dan penggunaan teknologi. Teknologi harus diarahkan untuk menyebarkan informasi yang valid dan bermanfaat. Literasi digital juga perlu ditingkatkan agar masyarakat lebih bijak dan kritis dalam menggunakan teknologi. Pemerintah dapat memperkuat regulasi tanpa mengesampingkan kebebasan berekspresi, sementara tokoh masyarakat dan pemimpin harus memberi teladan dalam pemanfaatan teknologi. Dengan kerja sama semua pihak, pengembangan IPTEK dapat mendukung kesejahteraan masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur bangsa.
C. Solusi Sikap Konsumerisme dalam Teknologi
Sikap konsumerisme yang menjadikan Indonesia hanya sebagai pasar bagi produk teknologi luar negeri dapat diatasi dengan mengembangkan inovasi lokal. Sebagai mahasiswa program studi Informatika, peran utama adalah mengembangkan teknologi berbasis kebutuhan masyarakat, seperti aplikasi atau perangkat lunak untuk sektor kesehatan, pendidikan, atau agrikultur.
Selain itu, penting untuk meningkatkan literasi digital agar masyarakat lebih bijak dalam memilih teknologi yang relevan dan mendukung produk lokal. Melalui kolaborasi dengan UMKM dan start-up, ekosistem teknologi dalam negeri dapat diperkuat. Pelatihan kewirausahaan berbasis teknologi juga diperlukan untuk menciptakan produk inovatif yang dapat bersaing di pasar global. Dengan pendekatan berbasis riset, mahasiswa dapat berkontribusi dalam membangun kemandirian teknologi, mengurangi ketergantungan pada produk luar, serta memanfaatkan potensi IPTEK untuk memajukan bangsa secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, upaya bersama dalam menangani hoaks, mengembangkan teknologi berbasis Pancasila, dan mengurangi sikap konsumerisme akan membawa Indonesia menuju masyarakat yang cerdas, mandiri, dan berdaya saing global.
NPM : 2415061105
KELAS : PSTI D
A. Tanggapan dan Langkah Antisipasi Hoaks
Penyebaran hoaks di era digital menjadi ancaman serius bagi kepercayaan publik, persatuan, dan stabilitas sosial. Media sosial mempercepat persebaran informasi palsu, yang sering kali sulit dikendalikan, bahkan oleh mereka yang berpendidikan tinggi, terutama jika informasi tersebut sesuai dengan keyakinan atau emosinya. Hoaks yang viral juga dapat memengaruhi keputusan penting, termasuk di ranah politik.
Untuk mengatasi masalah ini, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital dengan memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Bijak menggunakan media sosial dan melaporkan konten hoaks adalah langkah kunci. Selain itu, tokoh masyarakat memiliki peran penting untuk memberikan teladan dengan menyebarkan informasi yang akurat dan bertanggung jawab. Kesadaran kolektif adalah kunci menciptakan lingkungan digital yang sehat, aman, dan bebas dari hoaks. Platform media sosial juga harus lebih ketat dalam mengawasi akun penyebar hoaks, sementara tokoh masyarakat perlu mempromosikan penggunaan media sosial yang bijaksana.
B. Pengaruh Pengembangan IPTEK yang Tidak Sesuai Pancasila
Pemanfaatan teknologi yang tidak berlandaskan nilai-nilai Pancasila dapat menimbulkan dampak negatif, seperti maraknya hoaks, ujaran kebencian, dan ketimpangan informasi, yang berpotensi merusak persatuan dan hubungan sosial. Penyalahgunaan teknologi ini bertentangan dengan semangat Pancasila, yang menekankan keadilan, tanggung jawab, dan persatuan.
Untuk mengatasi tantangan ini, nilai-nilai Pancasila harus diintegrasikan dalam pengembangan dan penggunaan teknologi. Teknologi harus diarahkan untuk menyebarkan informasi yang valid dan bermanfaat. Literasi digital juga perlu ditingkatkan agar masyarakat lebih bijak dan kritis dalam menggunakan teknologi. Pemerintah dapat memperkuat regulasi tanpa mengesampingkan kebebasan berekspresi, sementara tokoh masyarakat dan pemimpin harus memberi teladan dalam pemanfaatan teknologi. Dengan kerja sama semua pihak, pengembangan IPTEK dapat mendukung kesejahteraan masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur bangsa.
C. Solusi Sikap Konsumerisme dalam Teknologi
Sikap konsumerisme yang menjadikan Indonesia hanya sebagai pasar bagi produk teknologi luar negeri dapat diatasi dengan mengembangkan inovasi lokal. Sebagai mahasiswa program studi Informatika, peran utama adalah mengembangkan teknologi berbasis kebutuhan masyarakat, seperti aplikasi atau perangkat lunak untuk sektor kesehatan, pendidikan, atau agrikultur.
Selain itu, penting untuk meningkatkan literasi digital agar masyarakat lebih bijak dalam memilih teknologi yang relevan dan mendukung produk lokal. Melalui kolaborasi dengan UMKM dan start-up, ekosistem teknologi dalam negeri dapat diperkuat. Pelatihan kewirausahaan berbasis teknologi juga diperlukan untuk menciptakan produk inovatif yang dapat bersaing di pasar global. Dengan pendekatan berbasis riset, mahasiswa dapat berkontribusi dalam membangun kemandirian teknologi, mengurangi ketergantungan pada produk luar, serta memanfaatkan potensi IPTEK untuk memajukan bangsa secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, upaya bersama dalam menangani hoaks, mengembangkan teknologi berbasis Pancasila, dan mengurangi sikap konsumerisme akan membawa Indonesia menuju masyarakat yang cerdas, mandiri, dan berdaya saing global.