Posts made by M. Darunnadwah Al-Qushai Sutrawhana

Nama : M.Darunnadwah Al-Qushai Sutrawhana
NPM : 2455061005
PSTI-C

a. Pandemi Covid-19 telah menjadi tantangan dan membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pandemi ini mengurangi intensitas interaksi langsung antara guru dan siswa, sehingga banyak institusi pendidikan harus mengadopsi metode pembelajaran daring. Pergeseran ini memunculkan berbagai kesulitan, terutama dalam penerapan teknologi baru di daerah dengan akses internet terbatas, serta kurangnya perangkat pendukung, yang membuat beberapa tujuan pembelajaran sulit dicapai. Meskipun begitu, digitalisasi pendidikan juga membuka kesempatan bagi siswa dan guru untuk lebih mengenal teknologi yang akan tetap relevan di masa depan.

b. Menurut saya, kerja sama antar berbagai pihak sangat penting untuk meningkatkan efektivitas pendidikan di masa ini. Diperlukan penyesuaian dari segi teknologi, metode pengajaran, model pembelajaran, dan dukungan sosial. Salah satu cara optimalisasi pendidikan adalah melalui penerapan nilai-nilai Pancasila dalam proses pembelajaran. Misalnya, penerapan sila ke-3, yaitu gotong royong, dapat diwujudkan melalui kolaborasi antara orang tua, guru, dan lembaga masyarakat untuk mencari solusi dalam pembelajaran, seperti menyediakan ruang belajar bersama atau berbagi akses internet bagi mereka yang membutuhkan. Penerapan sila ke-5 juga dapat menjadi solusi untuk masalah pendidikan selama pandemi, di mana keadilan sosial diwujudkan dengan memastikan setiap siswa memiliki akses yang setara terhadap perangkat dan internet. Bantuan dari pemerintah dan sektor swasta, seperti subsidi data internet atau distribusi tablet bagi siswa yang membutuhkan, sangat diperlukan. Pengajar juga harus mengadopsi metode pembelajaran yang lebih fleksibel dan sesuai dengan situasi pandemi agar siswa tidak merasa terbebani.

c. Karakter Jujur:

Contoh Kasus: Selama pembelajaran daring, seorang siswa diharapkan untuk jujur saat mengerjakan tugas tanpa mencontek dari internet atau teman.

Pendapat saya: Integritas dan tanggung jawab akan tumbuh jika kejujuran terus dikembangkan. Siswa yang berani jujur tentang kesulitan yang dihadapi memberikan peluang bagi guru dan orang tua untuk memberikan bantuan yang lebih tepat. Ini akan menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab yang tinggi pada siswa.

Contoh Kasus: Banyak pusat belajar masyarakat yang menyediakan akses internet dan perangkat belajar bagi siswa yang memiliki keterbatasan fasilitas di rumah.

Pendapat saya: Kehadiran pusat belajar ini mencerminkan semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama. Tindakan ini memungkinkan tercapainya kesetaraan dalam pendidikan sehingga tujuan pembelajaran dapat terwujud maksimal. Gotong royong ini bukan hanya memberi manfaat fisik, tetapi juga memperkuat hubungan sosial.

d. Pancasila dalam penerapan nilai-nilainya berfungsi sebagai panduan berpikir, bersikap, dan berperilaku serta menjadi kerangka hidup yang mendasar bagi bangsa Indonesia. Pancasila tidak hanya sebagai ideologi atau norma negara, tetapi sebagai pedoman kehidupan yang membentuk cara pandang, sikap moral, dan interaksi sosial sehingga menciptakan kohesi sosial yang harmonis. Nilai-nilai dalam Pancasila menjadi prinsip utama yang mengarahkan setiap tindakan masyarakat berdasarkan moralitas yang tinggi, keadilan, dan kebersamaan yang sejati.

Dalam penerapannya, setiap sila Pancasila memiliki makna filosofis yang melahirkan nilai nyata bagi masyarakat:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa:
bukan hanya tentang kepercayaan terhadap Tuhan secara individu, tetapi sebagai dasar harmoni sosial di mana keragaman agama dihormati. Masyarakat diajak hidup dalam toleransi, yang memperkuat hubungan antarumat beragama dan menjadikan spiritualitas sebagai sumber moral yang inklusif dan beradab.

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab:
menegaskan penghargaan terhadap nilai kemanusiaan universal dengan mengakui martabat setiap individu. Sila ini mendorong terciptanya keadilan sosial dan hubungan antarindividu yang saling menghargai, sehingga masyarakat yang adil dan bermartabat dapat terbentuk.

3. Persatuan Indonesia:
mengajak masyarakat untuk menjadikan keragaman sebagai kekuatan nasional. Kesetiaan pada persatuan tidak hanya terlihat dalam politik, tetapi sebagai identitas budaya bersama, dengan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok, yang menumbuhkan solidaritas dan kohesi sosial dalam keragaman.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan:
menunjukkan bahwa demokrasi bukan sekadar sistem politik, melainkan budaya dialog yang mengedepankan kebijaksanaan dalam mencapai kesepakatan. Keputusan diambil melalui musyawarah yang mempertimbangkan kebijaksanaan bersama, menghargai suara setiap individu dalam kebijakan yang adil dan representatif.

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia:
menjadi aspirasi untuk mencapai kesejahteraan yang merata, dengan kemakmuran dan keadilan dinikmati oleh seluruh warga negara. Sila ini menekankan keadilan dalam akses terhadap sumber daya dan peluang hidup yang layak, agar masyarakat dapat hidup saling mendukung dalam kesejahteraan bersama.

Secara keseluruhan, Pancasila dalam paradigma berpikir, bersikap, dan berperilaku mendorong masyarakat menjalani kehidupan yang selaras dengan prinsip keadilan, moralitas, dan kebersamaan sebagai bangsa yang berdaulat. Pancasila menjadi pedoman normatif yang terus menginspirasi individu dan komunitas untuk berpikir kritis, bertindak sadar, dan bertanggung jawab demi mencapai cita-cita bangsa yang damai, bermartabat, dan berkeadilan. Nilai-nilai ini mencerminkan identitas bangsa yang seharusnya tidak hanya diakui secara konseptual, tetapi juga diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Filsafat, yang berasal dari istilah Yunani "Philosophia," yang berarti cinta akan kebijaksanaan, adalah studi mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan eksistensial dan moral yang mendasari kehidupan manusia. Dalam bidang filsafat, terdapat berbagai aliran yang menawarkan pandangan yang berbeda, seperti rasionalisme yang menekankan akal sebagai sumber kebenaran, materialisme yang mengutamakan aspek materi, individualisme yang menekankan pentingnya individu, dan hedonisme yang menjunjung tinggi kesenangan. Belajar filsafat memberikan keuntungan yang signifikan, termasuk kemampuan berpikir logis dan bijaksana, serta membantu individu mencapai keseimbangan antara pertimbangan dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Filsafat Pancasila sebagai refleksi kritis terhadap dasar negara Indonesia mendorong kita untuk memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila secara mendalam. Sebagai suatu sistem filsafat, Pancasila terdiri dari komponen-komponen yang saling terkait dan berfungsi untuk mencapai tujuan tertentu dalam konteks budaya bangsa. Wawasan filsafat mencakup aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis; di mana ontologis membahas hakikat eksistensi, epistemologis menyelidiki asal dan keabsahan pengetahuan, serta aksiologis menilai nilai dan manfaat dari tindakan. Dengan pemahaman ini, diharapkan masyarakat dapat menghargai dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah berbagai tantangan kebangsaan yang dihadapi oleh Indonesia saat ini, kajian Pancasila dengan pendekatan filsafat ilmu menjadi sangat penting dan relevan. Filsafat ilmu, sebagai bentuk analisis kritis, dapat berfungsi sebagai alat yang efektif untuk menganalisis dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila.

Dalam perkembangannya, ilmu pengetahuan telah mengalami kemajuan yang signifikan dengan munculnya berbagai disiplin ilmu baru. Hal ini sejalan dengan pandangan Van Peursen yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan sistem yang saling terhubung dan konsisten.

Sebagai falsafah bangsa Indonesia, Pancasila mengandung nilai-nilai mulia yang dapat dianalisis melalui tiga aspek filsafat ilmu. Dari sudut pandang ontologis, Pancasila mengajarkan tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan dan sesama. Dari perspektif epistemologis, Pancasila menyediakan sumber pengetahuan dan wawasan kebangsaan. Sedangkan dari sudut aksiologis, Pancasila memberikan kontribusi terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

Namun, Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan serius. Praktik korupsi yang meluas di kalangan pejabat, penurunan pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila, serta munculnya konflik dan perpecahan merupakan indikator menurunnya penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa.

Untuk mengatasi masalah ini, revitalisasi dan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila sangat diperlukan. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mengkaji dan mengembangkan Pancasila secara ilmiah, seperti yang dilakukan oleh Notonagoro yang menggunakan pendekatan filsafat untuk menganalisis hakikat Pancasila secara mendalam.

Melalui pendidikan dan pemahaman yang menyeluruh tentang nilai-nilai Pancasila, diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran untuk menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila seharusnya bukan hanya simbol, tetapi panduan hidup yang harus diimplementasikan dalam setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan demikian, pengembangan Pancasila melalui kajian filsafat ilmu menjadi sangat penting untuk mengatasi berbagai persoalan kebangsaan. Para akademisi dan ilmuwan memiliki tanggung jawab besar untuk terus mengkaji dan mengembangkan pemahaman tentang nilai-nilai Pancasila agar tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman.
1.kasus penolakan jenazah korban Covid-19 yang terjadi , sangat memprihatinkan dan menunjukkan adanya ketidakpahaman serta kurangnya empati dalam masyarakat. Dalam Pancasila, tindakan tersebut jelas bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam sila ke-2 "Kemanusiaan yang adil dan beradab." Penolakan ini menunjukkan bahwa masih ada hal negatif terhadap pasien Covid-19, meskipun mereka telah berjuang untuk melawan pandemi tersebut.
Hal tersebut memiliki kolerasi dengan implementasi nilai Pancasila terletak pada perlunya pendidikan dan kesadaran kolektif masyarakat untuk menghargai dan menghormati setiap individu, termasuk merak yang telah tiada. Nilai-nilai Pancasila harus di terapkan dalam masyarakat agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Masyarakat perlu diajarkan memahami bahwa setiap orang layak mendapatkan penghormatan, bahkan setelah meninggal.

2. Untuk mencegah kejadian serupa di masa depan, beberapa langkah yang dapat dilakukan, yaitu: Mengadakan edukasi dan kampanye untuk meningkatkan pemahaman masyarkat tentang Covid-19 dan pentingnya menghargai jasa tenaga medis, melakukan kerja sama dengabn pemerintah dan lembaga yang terkait untuk menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas, Dengan melibatkan tokoh masyarkat untuk memberikan penjelasan tentang pentingnya sikap menghormati setiap individu, baik yang masih hidup, maupaun sudah meninggal, serta mendorong sekolah untuk mengajarkan pendidikan karakter yang menekankan empati dan penghargaan terhadap sesama manusia.

3. Penolakan Jenazah Korban Covid-19 termasuk pelanggaran pada sila ke-2 pancasila, "kemanusiaan yang adil dan beradap." Mesikupun jenazah tersebut sudah tidak memiliki nyawa, tindakan tersebut tetap mencerminkan kekurangan sikap menghargai martabat manusia. Sila tersebut tidak hanya berlaku untuk mereka yang masih hidup, tetapi juga untuk menghormati mereka yang telah tiada. Penolakan tersebut menunjukan bahwa masyarakat belum sepenuhnya memahami nilai-nilai pancasila.