Kiriman dibuat oleh Susanti Amelia

Nama: Susanti Amelia
Npm: 2416041030
Kelas: reguler A

Menurut saya setelah menonton video tersebut hasil analsis saya mengenai video “Demokrasi Itu Gaduh, tapi Kenapa Bertahan dan Dianut Banyak Negara?”. Video ini membahas tentang sifat demokrasi yang cenderung gaduh, namun tetap bertahan dan diadopsi oleh banyak negara. Dijelaskan bahwa demokrasi memiliki karakteristik yang secara alami bersifat bising dan riuh. Namun, penting untuk menjaga agar kegaduhan tersebut tetap dalam konteks yang sesuai dan menghindari polemik yang tidak perlu. Kegaduhan ini adalah bagian dari proses demokrasi yang sehat, di mana berbagai pandangan dan opini dapat disuarakan.

Dalam video ini mengungkapkan kondisi demokrasi di Indonesia yang di pimpin oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo yang meminta warga negara tidak membuat kegaduhan atau memicu polemik dalam kondisi yang pada saat itu pandemi Covid-19. Yang saat itu bahwa ranking kebebasan demokrasi Indonesia telah mengalami penurunan. Peringkat demokrasi Indonesia mengalami penurunan sejak 2013, dari "full free" menjadi "partly free" menurut Freedom House. Ini menunjukkan adanya masalah dalam kebebasan sipil dan hak politik, kondisi demokrasi Indonesia saat ini tidak lagi stabil.

Penurunan kualitas demokrasi tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak negara lain di dunia. Bahkan negara-negara dengan tradisi demokrasi yang mapan seperti Amerika Serikat juga mengalami penurunan dalam ranking demokrasi mereka. Hal ini menandakan bahwa tantangan demokrasi tidak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga di negara maju. Meskipun ada banyak tantangan, daya tarik demokrasi tetap tinggi. Ini menunjukkan bahwa masyarakat menghargai kebebasan dan hak asasi, dan berpotensi untuk terus berjuang memperbaiki sistem yang ada.

Selain itu, terdapat fakta didalamnya, yaitu :
* video tersebut menyatakan bahwa demokrasi identik dengan kegaduhan dan perdebatan. Ini menunjukkan bahwa ruang publik dan kebebasan berekspresi adalah aspek penting dalam demokrasi. Yang faktanya menurut Freedom House, kebebasan berekspresi dan berkumpul sering kali menjadi indikator kesehatan demokrasi di suatu negara.

* Data dari Freedom House menunjukkan bahwa Indonesia mengalami penurunan peringkat dari "full free" menjadi "partly free" dalam beberapa tahun terakhir. Ini mencerminkan peningkatan tantangan terhadap kebebasan sipil dan hak politik. Yang faktanya dalam laporan 2023, Indonesia mendapatkan skor 51 dari 100, menunjukkan masalah dalam kebebasan media dan penegakan hukum.

* Video menyoroti bahwa negara-negara dengan sistem demokrasi mapan, seperti Amerika Serikat, juga mengalami penurunan peringkat. Yang faktanya, The Economist Intelligence Unit (EIU) melaporkan bahwa skor demokrasi global mengalami penurunan pada tahun 2021 dan 2022, terutama di negara-negara Barat, akibat polarisasi politik dan kurangnya kepercayaan publik terhadap institusi,

* Penekanan pada pentingnya membedakan antara proses demokrasi dan korupsi menyoroti masalah integritas dalam pemerintahan. Yang faktanya menurut Transparency International, Indonesia menempati peringkat 102 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi 2022, yang menunjukkan tantangan besar dalam menegakkan pemerintahan yang bersih.

* Meskipun ada masalah, demokrasi menjadi daya tarik karena tetap dipilih oleh banyak negara karena menjanjikan kebebasan dan hak asasi manusia. Yang faktanya, Pew Research Center menunjukkan bahwa 55% orang di seluruh dunia mendukung sistem pemerintahan demokratis, meskipun banyak yang meragukan efektivitasnya.

Dengan begitu, video ini memberikan gambaran tentang kompleksitas dan tantangan yang dihadapi oleh demokrasi, baik di Indonesia maupun di tingkat global. Penurunan peringkat demokrasi, korupsi, dan tantangan kebebasan berekspresi menunjukkan perlunya reformasi untuk memastikan bahwa demokrasi dapat berfungsi dengan baik. Meskipun demokrasi sering kali gaduh, demokrasi tetap menjadi pilihan banyak negara karena nilai-nilai yang diusungnya, meskipun implementasinya sering kali tidak sempurna dan bagian dari proses yang perlu untuk menciptakan masyarakat yang baik. Upaya untuk memperbaiki dan menjaga kualitas demokrasi tetap menjadi fokus penting bagi banyak negara. Video ini menggunakan studi dari Freedom House sebagai referensi untuk menggambarkan kondisi demokrasi global. Analisis ini menunjukkan bahwa video tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran tentang tantangan dan dinamika demokrasi, baik di Indonesia maupun di tingkat global.
Nama: Susanti Amelia
Npm: 2416041030
Kelas: Reguler A

Setelah membaca jurnal tersebut menurut hasil analsis saya mengenai Jurnal Penelitian Politik ini menyajikan kumpulan artikel yang berfokus pada isu-isu kepemiluan di Indonesia, khususnya dalam konteks pemilu serentak 2019. Jurnal ini membahas dinamika koalisi dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo, mengkritisi ambang batas pemilihan presiden dan kelemahan lembaga partai politik yang memengaruhi efektivitas sistem pemilu .

Proses Demokrasi di Indonesia: Jurnal ini mencatat bahwa demokrasi Indonesia, yang telah berjalan selama 21 tahun (1998-2019), masih lebih bersifat prosedural daripada substantif. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan dalam pelaksanaan pemilu dan proses demokrasi, tantangan seperti intoleransi, berita hoax, dan konflik sosial masih mengganggu stabilitas politik dan kepercayaan publik terhadap sistem demokrasi.

Dinamika Pemilu 2019: Jurnal ini juga menyoroti ketegangan yang meningkat menjelang Pemilu 2019, dengan banyak laporan tentang dugaan kecurangan dari kedua kubu calon presiden. Ini mencerminkan ketidakpastian dan ketegangan dalam proses pemilu, yang dapat mempengaruhi legitimasi hasil pemilu dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemilu.

Artikel dan Kontribusi Penulis: Jurnal ini menyajikan beberapa artikel yang membahas berbagai topik, termasuk penguatan sistem presidensial, mobilisasi perempuan dalam politik, dan netralitas Polri. Penulis artikel-artikel ini adalah akademisi dan peneliti yang berkontribusi pada pemahaman tentang dinamika politik di Indonesia. Misalnya, artikel oleh Efriza membahas tentang koalisi dalam pemerintahan dan tantangan yang dihadapi dalam pemilu.

Kritik dan Harapan untuk Masa Depan: Dalam review buku yang disertakan, terdapat kritik terhadap kurangnya pembahasan mengenai sumber daya manusia yang mempengaruhi performa lembaga-lembaga demokrasi. Namun, ada kesepakatan bahwa penataan demokrasi dan pemilu di Indonesia masih diperlukan untuk meningkatkan kualitas demokrasi.

Relevansi dan Implikasi: Jurnal ini relevan dalam konteks pemahaman tentang tantangan yang dihadapi oleh demokrasi Indonesia. Dengan mengidentifikasi isu-isu seperti intoleransi dan kecurangan pemilu, jurnal ini memberikan wawasan yang penting bagi pembuat kebijakan, akademisi, dan masyarakat umum untuk memahami dan mengatasi masalah-masalah tersebut.

Artikel-artikel tersebut membahas berbagai topik, termasuk penguatan sistem presidensial dan mobilisasi perempuan dalam politik melalui narasi simbolik. Jurnal ini berfungsi sebagai platform untuk bertukar ide tentang isu-isu politik strategis di tingkat nasional dan internasional, serta mengatasi tantangan yang terkait dengan demokrasi, hak asasi manusia, dan otonomi daerah.

Secara keseluruhan, jurnal ini memberikan gambaran yang jelas tentang tantangan dan dinamika yang dihadapi oleh demokrasi Indonesia dalam konteks pemilu presiden 2019. Hal ini penting untuk memahami bagamainana proses pemili dapat mempengaruhi stabilitas politik dan kepercyaan publik di masa depan.