Nama : Suci Tri Wahyuni
Npm : 2313031012
Menurut saya, proses audit dan risiko audit memiliki hubungan yang sangat erat karena seluruh tahapan audit pada dasarnya dirancang berdasarkan tingkat risiko yang ada. Dalam teori auditing, sebelum auditor melakukan pemeriksaan lebih lanjut, mereka harus terlebih dahulu melakukan risk assessment (penilaian risiko) pada tahap perencanaan. Hal ini penting karena auditor tidak mungkin memeriksa semua transaksi, sehingga perlu menentukan area mana yang memiliki risiko tinggi untuk difokuskan.
Secara teori, hubungan ini dijelaskan dalam model risiko audit (Audit Risk Model) yaitu AR = IR × CR × DR. Artinya, risiko audit dipengaruhi oleh risiko bawaan (inherent risk), risiko pengendalian (control risk), dan risiko deteksi (detection risk). Dari model ini terlihat bahwa jika risiko bawaan dan risiko pengendalian tinggi, maka auditor harus menurunkan risiko deteksi dengan cara meningkatkan prosedur audit, seperti menambah jumlah sampel atau melakukan pengujian lebih mendalam.
Selain itu, dalam pendekatan risk-based auditing, proses audit memang difokuskan pada area yang memiliki risiko paling besar agar audit menjadi lebih efektif dan efisien. Hal ini juga didukung oleh hasil riset yang menunjukkan bahwa auditor akan mengalokasikan sumber daya dan prosedur audit berdasarkan tingkat risiko untuk meminimalkan kemungkinan salah saji material dalam laporan keuangan.
Jadi, menurut saya hubungan antara proses audit dan risiko audit adalah risiko menjadi dasar dalam menentukan arah, luas, dan kedalaman proses audit. Semakin tinggi risiko, maka semakin ketat dan mendalam prosedur audit yang dilakukan. Dengan demikian, pemahaman terhadap risiko audit sangat penting agar auditor dapat menghasilkan opini yang tepat dan dapat dipercaya.
Npm : 2313031012
Menurut saya, proses audit dan risiko audit memiliki hubungan yang sangat erat karena seluruh tahapan audit pada dasarnya dirancang berdasarkan tingkat risiko yang ada. Dalam teori auditing, sebelum auditor melakukan pemeriksaan lebih lanjut, mereka harus terlebih dahulu melakukan risk assessment (penilaian risiko) pada tahap perencanaan. Hal ini penting karena auditor tidak mungkin memeriksa semua transaksi, sehingga perlu menentukan area mana yang memiliki risiko tinggi untuk difokuskan.
Secara teori, hubungan ini dijelaskan dalam model risiko audit (Audit Risk Model) yaitu AR = IR × CR × DR. Artinya, risiko audit dipengaruhi oleh risiko bawaan (inherent risk), risiko pengendalian (control risk), dan risiko deteksi (detection risk). Dari model ini terlihat bahwa jika risiko bawaan dan risiko pengendalian tinggi, maka auditor harus menurunkan risiko deteksi dengan cara meningkatkan prosedur audit, seperti menambah jumlah sampel atau melakukan pengujian lebih mendalam.
Selain itu, dalam pendekatan risk-based auditing, proses audit memang difokuskan pada area yang memiliki risiko paling besar agar audit menjadi lebih efektif dan efisien. Hal ini juga didukung oleh hasil riset yang menunjukkan bahwa auditor akan mengalokasikan sumber daya dan prosedur audit berdasarkan tingkat risiko untuk meminimalkan kemungkinan salah saji material dalam laporan keuangan.
Jadi, menurut saya hubungan antara proses audit dan risiko audit adalah risiko menjadi dasar dalam menentukan arah, luas, dan kedalaman proses audit. Semakin tinggi risiko, maka semakin ketat dan mendalam prosedur audit yang dilakukan. Dengan demikian, pemahaman terhadap risiko audit sangat penting agar auditor dapat menghasilkan opini yang tepat dan dapat dipercaya.