Kiriman dibuat oleh IRFAN A SUKI

MPPE A2025 -> CASE STUDY

oleh IRFAN A SUKI -
Nama : Irfan A Suki
Nmp : 2313031013

1. Teori yang Relevan:
Penelitian tentang pengaruh pembelajaran daring terhadap hasil belajar dapat didasarkan pada beberapa teori, yaitu:

- Teori Konstruktivisme (Piaget & Vygotsky): menekankan bahwa belajar terjadi melalui proses aktif membangun pengetahuan, termasuk melalui media digital.
- Teori Belajar Kognitif (Bloom): menjelaskan bahwa efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kemampuan mahasiswa dalam memahami, menerapkan, dan mengevaluasi materi.
- Teori Teknologi Pembelajaran (Mayer): menyatakan bahwa penggunaan media dan teknologi pembelajaran memengaruhi pemrosesan informasi dan hasil belajar.

2. Kerangka Pikir:
Pembelajaran daring yang diterapkan setelah pandemi COVID-19 memberikan kemudahan akses dan fleksibilitas, namun juga menghadirkan tantangan seperti keterbatasan interaksi dan motivasi belajar. Efektivitas pembelajaran daring dapat memengaruhi tingkat pemahaman dan pencapaian akademik mahasiswa. Oleh karena itu, semakin baik pelaksanaan pembelajaran daring (dalam hal interaksi, media, dan dukungan teknologi), maka semakin tinggi pula hasil belajar mahasiswa.

3. Hipotesis Penelitian:
- Hipotesis kerja (H₁): Pembelajaran daring berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa di masa pascapandemi COVID-19.
- Hipotesis nol (H₀): Pembelajaran daring tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa di masa pascapandemi COVID-19.

MPPE A2025 -> Menulis Summary e-journal

oleh IRFAN A SUKI -
Nama : Irfan A Suki
Npm : 2313031013

Jurnal berjudul “Distinguishing between Theory, Theoretical Framework, and Conceptual Framework: A Systematic Review of Lessons from the Field” yang ditulis oleh Dr. Charles Kivunja (2018) membahas pentingnya memahami perbedaan antara teori, kerangka teoretis, dan kerangka konseptual dalam penelitian ilmiah, khususnya bagi mahasiswa pascasarjana.

Dalam artikelnya, Kivunja menyoroti bahwa banyak peneliti pemula seringkali keliru menggunakan ketiga istilah tersebut secara bergantian, padahal masing-masing memiliki fungsi dan peran yang berbeda. Ia menjelaskan bahwa teori merupakan seperangkat konsep dan proposisi yang menjelaskan hubungan antarvariabel untuk memahami serta memprediksi suatu fenomena.Kerangka teoretis adalah struktur berpikir yang dibangun dari teori-teori yang relevan dan digunakan untuk menganalisis serta menafsirkan data penelitian. Sementara itu, kerangka konseptual** menggambarkan keseluruhan rancangan penelitian yang mencakup penentuan topik, tujuan, metode, teori yang digunakan, hingga penarikan kesimpulan.

Kivunja mengibaratkan kerangka konseptual sebagai “rumah besar” dari penelitian, sedangkan kerangka teoretis merupakan salah satu “ruangan” di dalamnya yang berfungsi memberikan landasan ilmiah bagi analisis data. Ia juga menekankan bahwa pemahaman yang tepat terhadap kerangka teoretis sangat penting untuk meningkatkan validitas, kredibilitas, dan kualitas akademik suatu penelitian.

Artikel ini juga menjelaskan cara membangun kerangka teoretis yang efektif melalui kajian literatur mendalam dan pemilihan teori yang relevan dengan permasalahan penelitian. Sebagai contoh, Kivunja menggunakan model pembelajaran konstruktivis untuk menunjukkan penerapan kerangka teoretis dalam analisis data.Secara keseluruhan, jurnal ini menjelaskan secara komprehensif hubungan dan perbedaan antara teori, kerangka teoretis, dan kerangka konseptual, serta menegaskan bahwa pemahaman yang benar terhadap ketiganya merupakan kunci dalam menghasilkan penelitian yang sistematis, bermakna, dan berkualitas tinggi.

MPPE A2025 -> Diskusi

oleh IRFAN A SUKI -
Nama : Irfan A Suki
Npm : 2313031013

Menurut saya teori, kerangka pikir, dan hipotesis saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam penelitian. Teori menjadi dasar pemikiran yang menjelaskan konsep serta hubungan antarvariabel yang akan diteliti. Dari teori-teori yang dikaji, peneliti kemudian menyusun kerangka pikir, yaitu alur logis atau peta konsep yang menggambarkan bagaimana hubungan antarvariabel tersebut terjadi. Setelah itu, dari kerangka pikir yang sudah tersusun, peneliti merumuskan hipotesis sebagai dugaan sementara terhadap rumusan masalah yang nantinya akan dibuktikan melalui penelitian. Jadi, urutannya adalah teori memberikan dasar konseptual, kerangka pikir menjelaskan hubungan antarvariabel, dan hipotesis menjadi kesimpulan sementara yang akan diuji secara empiris. Ketiganya saling berkaitan untuk membangun penelitian yang sistematis dan terarah.

ASP A2025 -> Diskusi

oleh IRFAN A SUKI -
Nama: Irfan A Suki
Npm: 2313031013

Menurut saya, penentuan harga pelayanan sektor publik itu tidak bisa semata-mata mengikuti mekanisme pasar. Karena sektor publik bertujuan memberikan kesejahteraan masyarakat, harga sering ditetapkan pemerintah dengan memperhatikan kemampuan bayar masyarakat, asas keadilan, serta keberlanjutan layanan. Contoh paling nyata adalah tarif listrik atau harga BBM yang kadang disubsidi.