Kiriman dibuat oleh IRFAN A SUKI

ASP A2025 -> Summary

oleh IRFAN A SUKI -
Nama : Irfan A Suki
Npm : 2313031013

Kesimpulannya, pengukuran kinerja sektor publik merupakan alat penting untuk menilai sejauh mana instansi pemerintah mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Melalui pengukuran ini, pemerintah dapat memastikan bahwa pengelolaan sumber daya publik berjalan secara efisien, efektif, dan akuntabel.

Penggunaan informasi finansial dan nonfinansial, serta penerapan konsep Value for Money (ekonomi, efisiensi, dan efektivitas), membantu menciptakan sistem pengelolaan yang transparan dan berorientasi pada hasil. Dengan demikian, pengukuran kinerja tidak hanya menjadi sarana evaluasi, tetapi juga pendorong perbaikan kinerja dan peningkatan kualitas pelayanan publik demi kesejahteraan masyarakat.

ASP A2025 -> Diskusi

oleh IRFAN A SUKI -
Nama : Irfan A Suki
Npm : 2313031013

Pengukuran kinerja sektor publik merupakan proses untuk menilai sejauh mana instansi pemerintah mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Tujuannya yaitu meningkatkan efektivitas, efisiensi, serta akuntabilitas dalam pengelolaan sumber daya publik.

Pengukuran ini mencakup dua jenis informasi: finansial, yang menilai kesesuaian antara anggaran dan realisasi, serta nonfinansial, seperti kepuasan masyarakat dan kualitas pelayanan.

Salah satu konsep pentingnya adalah Value for Money (3E), yaitu ekonomi (hemat biaya), efisiensi (penggunaan sumber daya optimal), dan efektivitas (pencapaian tujuan). Melalui indikator kinerja yang tepat, pemerintah dapat memperbaiki kinerja, meningkatkan pelayanan publik, dan mewujudkan pertanggungjawaban kepada masyarakat.

MPPE A2025 -> CASE STUDY 2

oleh IRFAN A SUKI -
Nama : Irfan A Suki
Npm : 2313031013


1. Teori yang relevan

- Teori Kepemimpinan Transformasional & Transaksional (Burns / Bass): Menjelaskan bagaimana pemimpin menginspirasi atau memberi imbalan sehingga memengaruhi perilaku karyawan.
- Teori Kontingensi / Situasional (Hersey-Blanchard, Fiedler): Menekankan bahwa efektivitas gaya kepemimpinan tergantung konteks dan kesiapan bawahan.
- Leader–Member Exchange (LMX): Fokus pada kualitas hubungan atasan-bawahan dan dampaknya pada hasil kerja.
- Path-Goal Theory: Pemimpin memfasilitasi pencapaian tujuan bawahan melalui dukungan, arahan, atau imbalan.
- Teori Pertukaran Sosial & Self-Determination (motivasi): menjelaskan mekanisme motivasi, komitmen, dan kepuasan yang menghubungkan kepemimpinan dengan kinerja.

2. Kerangka pikir (sistematis & logis)
Gaya kepemimpinan (independen: transformasional / transaksional / situasional / gaya perilaku) → memengaruhi motivasi kerja / kepuasan kerja / komitmen organisasi (mediator) → yang pada gilirannya memengaruhi kinerja karyawan (dependen).
Selain itu, ada efek langsung gaya kepemimpinan → kinerja, dan faktor moderasi (mis. dukungan organisasi, budaya startup, sistem reward) yang memperkuat atau melemahkan hubungan tersebut.
(Skema singkat:
Gaya Kepemimpinan → Motivasi/Kepuasan/Komitmen → Kinerja
Gaya Kepemimpinan → Kinerja (langsung)
Moderator: Dukungan Organisasi / Budaya / Reward)

3. Hipotesis yang dapat diuji

- H1 (utama): Gaya kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. (H0: tidak ada pengaruh.)
- H2: Kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh positif lebih kuat terhadap kinerja dibanding kepemimpinan transaksional.
- H3 (mediasi): Motivasi kerja memediasi pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan.
- H4 (moderasi): Dukungan organisasi (sistem reward / budaya startup) memperkuat pengaruh positif gaya kepemimpinan terhadap kinerja.