Nama : Ranum Sri Rahayu
NPM : 2313031074
1. Paradigma Anggaran Tradisional dan Anggaran Berbasis NPM
1) Paradigma Anggaran Tradisional
Anggaran tradisional umumnya berorientasi pada input (alokasi sumber daya berdasarkan pos-pos belanja), bersifat incremental (tahun berikutnya hanya menambahkan atau mengurangi dari anggaran sebelumnya), serta sangat birokratis dan berfokus pada kepatuhan administratif. Paradigma ini sering disebut sebagai line-item budgeting. Kelemahannya adalah kurang memperhatikan efektivitas dan efisiensi, sehingga sulit menilai apakah anggaran benar-benar menghasilkan manfaat optimal bagi masyarakat. Menurut Mardiasmo (2018), anggaran tradisional lebih menekankan pada kontrol fiskal dibanding kinerja sehingga rawan pemborosan.
2) Paradigma Anggaran Berbasis New Public Management (NPM)
NPM menekankan hasil (output dan outcome), efisiensi, serta akuntabilitas publik. Paradigma ini berusaha membawa prinsip manajemen sektor swasta ke dalam sektor publik, seperti adanya ukuran kinerja, kontrak kinerja, transparansi, dan fokus pada pelayanan publik. Anggaran berbasis kinerja (performance-based budgeting) merupakan manifestasi NPM dalam penganggaran. Osborne & Gaebler (1992) menjelaskan bahwa NPM mendorong pemerintah agar “steering, not rowing”, artinya fokus pada pengaturan, efisiensi, dan akuntabilitas daripada sekadar menjalankan rutinitas birokrasi.
2. Proses implementasi Zero-Based Budgeting (ZBB) dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM dilakukan dengan cara menyusun anggaran dari nol setiap periode, bukan sekadar menambah dari tahun sebelumnya. Tahapannya meliputi: (1) identifikasi program dan kegiatan, (2) penyusunan decision package yang berisi tujuan, biaya, dan manfaat, (3) evaluasi serta pemeringkatan setiap paket berdasarkan prioritas, dan (4) pengalokasian sumber daya sesuai kebutuhan nyata.
Dengan proses ini, ZBB mampu mengatasi kelemahan anggaran tradisional yang cenderung incremental dan hanya fokus pada input, karena setiap kegiatan ditinjau ulang secara rasional. Di sisi lain, ZBB juga mendukung prinsip anggaran berbasis NPM yang menekankan efisiensi dan hasil (output–outcome), sebab setiap program diuji relevansi dan manfaatnya sebelum diberikan anggaran. Dengan demikian, ZBB menjadi jembatan yang menutup kesenjangan antara birokratisme anggaran tradisional dan orientasi kinerja ala NPM.
NPM : 2313031074
1. Paradigma Anggaran Tradisional dan Anggaran Berbasis NPM
1) Paradigma Anggaran Tradisional
Anggaran tradisional umumnya berorientasi pada input (alokasi sumber daya berdasarkan pos-pos belanja), bersifat incremental (tahun berikutnya hanya menambahkan atau mengurangi dari anggaran sebelumnya), serta sangat birokratis dan berfokus pada kepatuhan administratif. Paradigma ini sering disebut sebagai line-item budgeting. Kelemahannya adalah kurang memperhatikan efektivitas dan efisiensi, sehingga sulit menilai apakah anggaran benar-benar menghasilkan manfaat optimal bagi masyarakat. Menurut Mardiasmo (2018), anggaran tradisional lebih menekankan pada kontrol fiskal dibanding kinerja sehingga rawan pemborosan.
2) Paradigma Anggaran Berbasis New Public Management (NPM)
NPM menekankan hasil (output dan outcome), efisiensi, serta akuntabilitas publik. Paradigma ini berusaha membawa prinsip manajemen sektor swasta ke dalam sektor publik, seperti adanya ukuran kinerja, kontrak kinerja, transparansi, dan fokus pada pelayanan publik. Anggaran berbasis kinerja (performance-based budgeting) merupakan manifestasi NPM dalam penganggaran. Osborne & Gaebler (1992) menjelaskan bahwa NPM mendorong pemerintah agar “steering, not rowing”, artinya fokus pada pengaturan, efisiensi, dan akuntabilitas daripada sekadar menjalankan rutinitas birokrasi.
2. Proses implementasi Zero-Based Budgeting (ZBB) dalam mengatasi kesenjangan anggaran tradisional dan anggaran berbasis NPM dilakukan dengan cara menyusun anggaran dari nol setiap periode, bukan sekadar menambah dari tahun sebelumnya. Tahapannya meliputi: (1) identifikasi program dan kegiatan, (2) penyusunan decision package yang berisi tujuan, biaya, dan manfaat, (3) evaluasi serta pemeringkatan setiap paket berdasarkan prioritas, dan (4) pengalokasian sumber daya sesuai kebutuhan nyata.
Dengan proses ini, ZBB mampu mengatasi kelemahan anggaran tradisional yang cenderung incremental dan hanya fokus pada input, karena setiap kegiatan ditinjau ulang secara rasional. Di sisi lain, ZBB juga mendukung prinsip anggaran berbasis NPM yang menekankan efisiensi dan hasil (output–outcome), sebab setiap program diuji relevansi dan manfaatnya sebelum diberikan anggaran. Dengan demikian, ZBB menjadi jembatan yang menutup kesenjangan antara birokratisme anggaran tradisional dan orientasi kinerja ala NPM.