Nama : Igha Mawardhani
NPM : 2313031043
1. Anggaran Tradisional
Anggaran tradisional disusun sebagai daftar belanja yang sangat detail, seperti gaji, ATK, atau perjalanan dinas. Fokus utamanya hanya memastikan semua pengeluaran sesuai aturan. Pendekatan ini membuat anggaran mudah dikontrol, tetapi tidak mampu menunjukkan hasil atau manfaat yang dicapai pemerintah.
2. Anggaran Inkremental
Dalam anggaran inkremental, pemerintah hanya menyesuaikan anggaran tahun sebelumnya dengan sedikit penambahan atau pengurangan. Cara ini terlihat praktis, tetapi sering mempertahankan kegiatan yang sebenarnya sudah tidak efektif karena tidak ditinjau ulang secara menyeluruh.
3. Anggaran Berbasis Program
Anggaran berbasis program menyusun belanja berdasarkan tujuan pembangunan, bukan daftar barang. Setiap kegiatan ditempatkan dalam satu program besar, sehingga arah anggaran lebih jelas dan selaras dengan prioritas pemerintah. Pendekatan ini memudahkan pemerintah fokus pada tujuan, bukan sekadar belanja rutin.
4. Anggaran Berbasis Kinerja
Pada anggaran berbasis kinerja, pemerintah harus menunjukkan hubungan antara dana yang digunakan dan hasil yang dicapai. Setiap kegiatan diberi target output dan outcome, sehingga anggaran tidak hanya menjadi dokumen angka, tetapi alat untuk menilai seberapa besar manfaat bagi masyarakat.
5. Zero-Based Budgeting (ZBB)
ZBB membuat setiap unit kerja memulai anggaran dari nol. Tidak ada kegiatan yang otomatis mendapat dana hanya karena pernah dibiayai sebelumnya. Setiap program harus dibuktikan relevansi dan manfaatnya. Cara ini membantu menyingkirkan belanja yang tidak berguna dan meningkatkan efisiensi.