Kiriman dibuat oleh Nela Amelia

MPPE B2025 -> Diskusi

oleh Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

Seorang peneliti perlu memahami masalah penelitian, variabel, dan paradigma agar proses riset berjalan terarah dan dapat dipertanggungjawabkan. Pemahaman yang jelas mengenai masalah membantu peneliti merumuskan pertanyaan penelitian yang spesifik dan relevan, sehingga tujuan riset tidak melebar atau kabur. Sementara itu, mengenali variabel—baik independen maupun dependen—memudahkan dalam merancang metode pengumpulan data, menentukan alat ukur, serta menganalisis hubungan sebab-akibat. Menurut Creswell (2014), kejelasan variabel menjadi dasar untuk memilih desain penelitian yang tepat.

Selain itu, pemahaman paradigma, seperti positivisme, konstruktivisme, atau mixed methods, memberikan landasan filosofis yang memengaruhi cara peneliti melihat realitas, memilih metode, hingga menafsirkan hasil. Tanpa fondasi paradigma yang kuat, penelitian berisiko tidak konsisten antara teori, metode, dan analisis. Sejalan dengan pendapat Kuhn (1970), paradigma membantu menempatkan penelitian dalam kerangka ilmiah yang diakui komunitas akademik, sehingga hasilnya lebih valid, dapat diuji, dan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun pemecahan masalah praktis.

ASP B2025 -> Diskusi

oleh Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

Sistem manajemen sektor publik di era digital menuntut transformasi besar dalam tata kelola pemerintahan. Pemanfaatan teknologi informasi, seperti e-government, big data, dan kecerdasan buatan, memungkinkan proses pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, dan akuntabel. Digitalisasi mempermudah integrasi data lintas instansi sehingga pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based policy) dapat dilakukan dengan lebih akurat. Selain itu, penggunaan aplikasi daring dan sistem keuangan berbasis elektronik, seperti e-budgeting dan e-audit, memperkuat pengawasan, mengurangi risiko korupsi, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.

Di sisi lain, perubahan ini menuntut kesiapan sumber daya manusia, keamanan siber, dan regulasi yang adaptif. Aparatur publik perlu memiliki literasi digital dan kemampuan analisis data agar mampu memanfaatkan teknologi secara optimal. Pemerintah juga harus memastikan perlindungan data pribadi dan menjaga infrastruktur digital agar terhindar dari ancaman peretasan. Dengan perencanaan strategis, pelatihan berkelanjutan, dan kebijakan yang mendukung inovasi, manajemen sektor publik di era digital dapat mencapai efisiensi layanan sekaligus menjaga keadilan akses bagi seluruh lapisan masyarakat.

ASP B2025 -> Diskusi

oleh Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

1. Paradigma anggaran tradisional menekankan pada line-item budgeting, yaitu fokus pada rincian input seperti jenis belanja dan jumlah dana yang dialokasikan, sehingga lebih bersifat kontrol administratif dan mempertahankan status quo. Sebaliknya, anggaran berbasis New Public Management (NPM) menekankan output dan outcome, mendorong efisiensi, kinerja, serta akuntabilitas layaknya praktik manajemen sektor swasta. Perubahan ini memindahkan fokus dari sekadar “berapa yang dibelanjakan” menjadi “apa hasil dan manfaat yang dicapai” (Mardiasmo, 2009; Hood, 1991).

2. Untuk menjembatani perbedaan tersebut, Zero-Based Budgeting (ZBB) diterapkan melalui proses penganggaran yang dimulai dari nol setiap periode, bukan sekadar menambah atau mengurangi anggaran tahun sebelumnya. Setiap program harus dianalisis manfaat-biayanya dan diprioritaskan kembali berdasarkan kebutuhan aktual dan kinerja. Pendekatan ZBB memungkinkan evaluasi yang objektif, mengurangi pemborosan, serta menyelaraskan orientasi input anggaran tradisional dengan tuntutan hasil ala NPM (Pyhrr, 1977; Rubin, 2010). Dengan demikian, ZBB menjadi jembatan strategis untuk menutup kesenjangan paradigma lama dan baru.