NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050
Jurnal ini membahas tentang pentingnya memahami paradigma penelitian dalam konteks pendidikan, terutama bagi mahasiswa tingkat lanjut (HDR) dan peneliti pemula. Paradigma penelitian diartikan sebagai pandangan dunia atau worldview yang mencakup asumsi dasar mengenai eksistensi (“ontologi”), bagaimana kita bisa tahu sesuatu (“epistemologi”), metode yang digunakan (“metodologi”), dan nilai-nilai atau etika penelitian (“aksiologi”).Penulis menunjukkan bahwa kadang mahasiswa bingung dengan istilah paradigm, terutama karena dalam penggunaan sehari-hari istilah tersebut sering tidak lengkap atau tidak melibatkan keempat elemen tersebut.
Selanjutnya, artikel tersebut menguraikan beberapa paradigma utama yang sering digunakan dalam riset pendidikan: positivist, interpretivist (constructivist), critical (transformative), dan pragmatic. Untuk setiap paradigma dijelaskan asumsi-dasarnya, hubungan dengan metode yang cocok digunakan, serta kriteria penilaian kualitas penelitian yang sesuai. Misalnya, paradigma positivist menekankan objektivitas, data kuantitatif, dan generalisasi, sementara interpretivist lebih mengedepankan pengalaman subjektif, konteks sosial, interaksi peneliti-partisipan, dan keaslian data, dengan kriteria seperti kredibilitas, dependabilitas, dan transferabilitas. Paradigma pragmatic menawarkan cara yang lebih fleksibel dengan memilih metode yang paling sesuai dengan masalah penelitian, menggabungkan aspek kuantitatif dan kualitatif, serta mempertimbangkan manfaat dan nilai praktis penelitian tersebut.
Di bagian penutup, penulis menegaskan bahwa pilihan paradigma sangat berdampak terhadap hampir semua aspek riset: mulai dari rumusan pertanyaan, pemilihan partisipan, cara pengumpulan dan analisis data, hingga interpretasi hasil. Oleh karena itu mahasiswa HDR dan peneliti perlu jelas dalam menyatakan paradigma mereka supaya penelitian menjadi terarah, koheren, dan sahih secara ilmiah.
NPM : 2313031050
Jurnal ini membahas tentang pentingnya memahami paradigma penelitian dalam konteks pendidikan, terutama bagi mahasiswa tingkat lanjut (HDR) dan peneliti pemula. Paradigma penelitian diartikan sebagai pandangan dunia atau worldview yang mencakup asumsi dasar mengenai eksistensi (“ontologi”), bagaimana kita bisa tahu sesuatu (“epistemologi”), metode yang digunakan (“metodologi”), dan nilai-nilai atau etika penelitian (“aksiologi”).Penulis menunjukkan bahwa kadang mahasiswa bingung dengan istilah paradigm, terutama karena dalam penggunaan sehari-hari istilah tersebut sering tidak lengkap atau tidak melibatkan keempat elemen tersebut.
Selanjutnya, artikel tersebut menguraikan beberapa paradigma utama yang sering digunakan dalam riset pendidikan: positivist, interpretivist (constructivist), critical (transformative), dan pragmatic. Untuk setiap paradigma dijelaskan asumsi-dasarnya, hubungan dengan metode yang cocok digunakan, serta kriteria penilaian kualitas penelitian yang sesuai. Misalnya, paradigma positivist menekankan objektivitas, data kuantitatif, dan generalisasi, sementara interpretivist lebih mengedepankan pengalaman subjektif, konteks sosial, interaksi peneliti-partisipan, dan keaslian data, dengan kriteria seperti kredibilitas, dependabilitas, dan transferabilitas. Paradigma pragmatic menawarkan cara yang lebih fleksibel dengan memilih metode yang paling sesuai dengan masalah penelitian, menggabungkan aspek kuantitatif dan kualitatif, serta mempertimbangkan manfaat dan nilai praktis penelitian tersebut.
Di bagian penutup, penulis menegaskan bahwa pilihan paradigma sangat berdampak terhadap hampir semua aspek riset: mulai dari rumusan pertanyaan, pemilihan partisipan, cara pengumpulan dan analisis data, hingga interpretasi hasil. Oleh karena itu mahasiswa HDR dan peneliti perlu jelas dalam menyatakan paradigma mereka supaya penelitian menjadi terarah, koheren, dan sahih secara ilmiah.