Posts made by Nela Amelia

MPPE B2025 -> CASE STUDY

by Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

1. Landasan Teori yang Relevan
Penelitian ini dapat didukung oleh beberapa teori pendidikan dan pembelajaran:
Teori Konstruktivisme (Piaget, Vygotsky): menekankan bahwa pengetahuan dibangun aktif oleh mahasiswa melalui interaksi dan pengalaman, termasuk dalam konteks daring.
Teori Pembelajaran Daring/Online Learning seperti Community of Inquiry (Garrison, Anderson, Archer): menjelaskan pentingnya interaksi sosial, kognitif, dan pengajaran dalam kelas virtual.
Teori Motivasi Belajar (Self-Determination Theory, Deci & Ryan): menguraikan peran motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap hasil belajar dalam lingkungan digital.
Teori Teknologi Pendidikan (Technology Acceptance Model—TAM): menyoroti pengaruh persepsi kemudahan dan kebermanfaatan teknologi terhadap penerimaan serta efektivitas pembelajaran online.

2. Kerangka Pikir
Kerangka penelitian dapat digambarkan sebagai hubungan kausal: pembelajaran daring sebagai variabel bebas memengaruhi hasil belajar mahasiswa sebagai variabel terikat. Faktor pendukung seperti tingkat motivasi, interaksi dosen-mahasiswa, kualitas materi digital, serta dukungan teknologi dapat menjadi variabel perantara atau moderasi. Alurnya: penggunaan sistem pembelajaran daring → memengaruhi proses belajar (interaksi, keterlibatan, akses materi) → berdampak pada pencapaian akademik mahasiswa.

3. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka pikir tersebut, hipotesis yang dapat diuji misalnya:
• Hipotesis kerja (H₁): Pembelajaran daring memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa pada masa pascapandemi COVID-19.
• Hipotesis nol (H₀): Pembelajaran daring tidak berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar mahasiswa pada masa pascapandemi COVID-19.
Rumusan ini memungkinkan pengujian empiris melalui metode kuantitatif, seperti analisis regresi atau uji t, untuk menilai sejauh mana sistem pembelajaran daring memengaruhi prestasi akademik.

MPPE B2025 -> Menulis Summary e-journal

by Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

Jurnal ini mengangkat masalah bahwa banyak mahasiswa tingkat lanjut (khususnya program magister dan doktor) belum bisa membedakan dengan jelas antara teori, kerangka teoretis (theoretical framework), dan kerangka konseptual (conceptual framework) dalam proposal penelitian atau tesis. Penulis memakai metode literatur sistematis dan refleksi berdasarkan pengalamannya sebagai pengajar dan penguji proposal HDR (Higher Degree Research) untuk menjelaskan makna dan fungsi masing-masing konsep.
Teori diartikan sebagai penyusunan gagasan abstrak, definisi, dan proposisi yang menjelaskan atau memprediksi hubungan antar fenomena, dengan asumsi-asumsi batasan yang jelas. Teori menyediakan pijakan konseptual untuk analisis dan interpretasi data penelitian.
Kerangka teoretis dibangun dari teori-teori yang telah diuji dan dipublikasikan sebelumnya, lalu disintesis untuk menjadi “bingkai” yang memandu bagaimana peneliti menafsirkan data mereka; kerangka ini berperan sebagai lensa atau struktur dalam melihat dan memaknai data penelitian.
Sementara itu, kerangka konseptual mencakup gambaran besar seluruh proses penelitian: mulai dari identifikasi masalah, pertanyaan penelitian, tinjauan pustaka, hingga metodologi dan interpretasi data. Kerangka konseptual sifatnya lebih luas dan mencakup semua bagian penelitian, sementara kerangka teoretis hanya salah satu komponen dalam keseluruhan kerangka konseptual.
Ada juga penjelasan tentang bagaimana menyusun kerangka teoretis yang baik, yaitu melalui tinjauan pustaka yang cermat, memilih teori yang relevan, dan mengadaptasi teori tersebut agar sesuai dengan masalah penelitian yang spesifik. Penulis memberi contoh konkret (model pembelajaran konstruktivis) bagaimana teori digunakan sebagai kerangka teoretis untuk meneliti praktek pengajaran.
Di bagian akhir, dikemukakan bahwa meskipun setiap tesis penelitian tinggi (terutama PhD) wajib memuat kerangka teoretis yang kuat, tidak selalu diwajibkan untuk secara eksplisit menyajikan kerangka konseptual; yang penting adalah peneliti memahami perbedaan dan fungsi ketiganya agar penelitian menjadi koheren dan ilmiah.

MPPE B2025 -> Diskusi

by Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

Teori adalah sekumpulan konsep, definisi, dan proposisi yang menjelaskan keterkaitan antarvariabel untuk memahami dan memprediksi suatu fenomena. Fungsi teori antara lain memperjelas fokus variabel yang akan diteliti, memandu peneliti merumuskan hipotesis, membantu penyusunan instrumen penelitian, menafsirkan temuan, serta memberikan saran pemecahan masalah.

Kerangka pikir merupakan model konseptual yang menampilkan bagaimana teori berhubungan dengan faktor-faktor penting dalam penelitian. Kerangka ini menjabarkan secara logis dan sistematis hubungan antarvariabel sehingga menjadi peta penelitian yang menghubungkan teori dengan masalah yang dikaji
Hipotesis adalah jawaban sementara atau dugaan teoretis terhadap rumusan masalah, yang akan diuji secara empiris. Hipotesis lazim digunakan dalam penelitian kuantitatif dan dapat berupa hipotesis kerja (positif) maupun hipotesis nol (negatif). Bentuknya bisa deskriptif, komparatif, atau asosiatif.

Ketiganya saling berkaitan: teori menyediakan landasan konseptual, kerangka pikir menyusun hubungan teori dengan variabel penelitian, dan hipotesis menjadi turunan dari kerangka pikir untuk diuji kebenarannya melalui data. Dengan demikian, teori memberi arah, kerangka pikir menjadi peta, dan hipotesis menjadi pernyataan uji yang menghubungkan konsep ke bukti nyata.

MPPE B2025 -> CASE STUDY

by Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

1. Masalah Penelitian
Permasalahan utama yang dapat diidentifikasi adalah penurunan jumlah mahasiswa baru selama tiga tahun terakhir meskipun universitas telah melakukan berbagai upaya promosi melalui media sosial, pameran pendidikan, dan kerja sama dengan sekolah menengah atas.

2. Variabel Penelitian
a) Strategi promosi universitas: jenis, intensitas, dan efektivitas kampanye promosi (variabel independen).
b) Jumlah pendaftar atau mahasiswa baru: tingkat penerimaan atau jumlah mahasiswa yang benar-benar mendaftar (variabel dependen).
Variabel tambahan yang bisa dipertimbangkan misalnya persepsi calon mahasiswa terhadap kualitas universitas (variabel moderator atau antara).

3. Paradigma Penelitian
Paradigma interpretif paling sesuai karena penelitian ini menekankan pemahaman mendalam tentang alasan dan pengalaman subjektif calon mahasiswa, orang tua, dan pihak sekolah dalam memilih atau tidak memilih universitas tersebut. Pendekatan ini memungkinkan eksplorasi faktor non-kuantitatif seperti citra kampus, preferensi pribadi, serta pertimbangan sosial-ekonomi yang mungkin tidak terungkap melalui data statistik semata.

4. Rumusan Masalah & Pertanyaan Penelitian
a) Rumusan Masalah: Bagaimana faktor-faktor internal dan eksternal memengaruhi penurunan jumlah mahasiswa baru di universitas meskipun telah dilakukan berbagai kegiatan promosi.
b) Pertanyaan Penelitian: Faktor apa saja yang memengaruhi calon mahasiswa untuk tidak memilih universitas ini sebagai tempat studi, meskipun kampus telah gencar melakukan promosi?

MPPE B2025 -> Membuat summary e journal

by Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

Jurnal ini membahas tentang pentingnya memahami paradigma penelitian dalam konteks pendidikan, terutama bagi mahasiswa tingkat lanjut (HDR) dan peneliti pemula. Paradigma penelitian diartikan sebagai pandangan dunia atau worldview yang mencakup asumsi dasar mengenai eksistensi (“ontologi”), bagaimana kita bisa tahu sesuatu (“epistemologi”), metode yang digunakan (“metodologi”), dan nilai-nilai atau etika penelitian (“aksiologi”).Penulis menunjukkan bahwa kadang mahasiswa bingung dengan istilah paradigm, terutama karena dalam penggunaan sehari-hari istilah tersebut sering tidak lengkap atau tidak melibatkan keempat elemen tersebut.

Selanjutnya, artikel tersebut menguraikan beberapa paradigma utama yang sering digunakan dalam riset pendidikan: positivist, interpretivist (constructivist), critical (transformative), dan pragmatic. Untuk setiap paradigma dijelaskan asumsi-dasarnya, hubungan dengan metode yang cocok digunakan, serta kriteria penilaian kualitas penelitian yang sesuai. Misalnya, paradigma positivist menekankan objektivitas, data kuantitatif, dan generalisasi, sementara interpretivist lebih mengedepankan pengalaman subjektif, konteks sosial, interaksi peneliti-partisipan, dan keaslian data, dengan kriteria seperti kredibilitas, dependabilitas, dan transferabilitas. Paradigma pragmatic menawarkan cara yang lebih fleksibel dengan memilih metode yang paling sesuai dengan masalah penelitian, menggabungkan aspek kuantitatif dan kualitatif, serta mempertimbangkan manfaat dan nilai praktis penelitian tersebut.

Di bagian penutup, penulis menegaskan bahwa pilihan paradigma sangat berdampak terhadap hampir semua aspek riset: mulai dari rumusan pertanyaan, pemilihan partisipan, cara pengumpulan dan analisis data, hingga interpretasi hasil. Oleh karena itu mahasiswa HDR dan peneliti perlu jelas dalam menyatakan paradigma mereka supaya penelitian menjadi terarah, koheren, dan sahih secara ilmiah.