གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Qonita Nurul Izzah 2313031042

MPPE B2025 -> CASE STUDY 2

Qonita Nurul Izzah 2313031042 གིས-
Nama: Qonita Nurul Izzah
NPM: 2313031042

1. Teori-Teori yang Bisa Digunakan untuk Menyusun Landasan Teori
Dalam penelitian tentang pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan di perusahaan startup yang mengalami fluktuasi, landasan teori harus mencakup konsep kepemimpinan, motivasi, dan dinamika organisasi di lingkungan yang tidak stabil. Berikut beberapa teori relevan yang dapat diintegrasikan untuk membangun fondasi teoritis yang kuat:

-Transformational Leadership Theory oleh James MacGregor Burns (1978) dan Bernard Bass (1985): Teori ini menjelaskan bagaimana pemimpin transformasional menginspirasi dan memotivasi karyawan melalui visi, intelektual stimulasi, dan perhatian individual, yang dapat meningkatkan kinerja di startup yang fluktuatif. Relevan karena perubahan gaya kepemimpinan di startup sering kali memerlukan adaptasi untuk menjaga motivasi karyawan di tengah ketidakpastian, sehingga teori ini dapat digunakan untuk menganalisis dampak positif terhadap produktivitas.

-Situational Leadership Theory oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard (1969): Teori ini menekankan bahwa gaya kepemimpinan harus disesuaikan dengan tingkat kematangan karyawan dan situasi organisasi. Dalam konteks startup, fluktuasi kinerja dapat disebabkan oleh ketidaksesuaian gaya kepemimpinan (misalnya, directive vs. delegative) dengan dinamika tim yang cepat berubah, sehingga teori ini membantu menjelaskan bagaimana adaptasi kepemimpinan memengaruhi motivasi dan kinerja.

-Expectancy Theory oleh Victor Vroom (1964): Teori motivasi ini menyatakan bahwa karyawan termotivasi ketika mereka percaya bahwa usaha mereka akan menghasilkan performa baik dan imbalan yang diinginkan. Relevan untuk kasus ini karena gaya kepemimpinan dapat memengaruhi persepsi karyawan terhadap hubungan usaha-performa-imbalan, terutama di startup di mana fluktuasi (seperti perubahan target) dapat menurunkan ekspektasi, sehingga berdampak pada kinerja.

- Job Demands-Resources (JD-R) Model oleh Arnold Bakker dan Evangelia Demerouti (2007): Model ini menggambarkan bagaimana tuntutan pekerjaan (seperti fluktuasi di startup) dan sumber daya (termasuk kepemimpinan yang mendukung) memengaruhi kinerja dan burnout. Teori ini dapat melengkapi analisis dengan menunjukkan peran kepemimpinan sebagai sumber daya yang memitigasi stres, sehingga meningkatkan produktivitas karyawan.

Teori-teori ini dapat disusun secara hierarkis: transformational dan situational sebagai dasar kepemimpinan, expectancy untuk mekanisme motivasi, serta JD-R untuk konteks organisasi startup, membentuk landasan teori yang komprehensif dan kontekstual.

2. Kerangka Pikir yang Menunjukkan Hubungan antara Gaya Kepemimpinan dan Kinerja Karyawan
Kerangka pikir ini dirancang secara logis dan sistematis untuk mengilustrasikan hubungan kausal antara variabel utama, berdasarkan landasan teori di atas. Kerangka ini mengasumsikan pendekatan kausal di mana gaya kepemimpinan memengaruhi kinerja melalui jalur intervening, dengan faktor moderator untuk menjelaskan variasi di lingkungan startup. Secara deskriptif, kerangka ini dapat divisualisasikan sebagai diagram alur: Variabel Independen → Intervening → Dependen, dengan panah moderator yang memengaruhi hubungan utama.

- Variabel Independen: Gaya Kepemimpinan.
Didefinisikan sebagai pendekatan pemimpin dalam memengaruhi tim, yang mencakup dimensi seperti transformational (inspiratif), transactional (berbasis imbalan), atau situational (adaptif terhadap situasi). Dalam konteks startup, variabel ini diukur melalui indikator seperti frekuensi komunikasi visi, dukungan individual, dan penyesuaian dengan fluktuasi (berdasarkan Transformational dan Situational Leadership Theory). Variabel ini diasumsikan sebagai pendorong utama perubahan kinerja karyawan.

- Variabel Intervening: Motivasi Karyawan. Berperan sebagai penghubung yang menjelaskan mekanisme pengaruh. Motivasi (intrinsik dan ekstrinsik) dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan, misalnya melalui persepsi imbalan dan otonomi (Expectancy Theory). Di startup, fluktuasi dapat menurunkan motivasi jika kepemimpinan tidak adaptif, tetapi gaya transformasional dapat meningkatkannya, sehingga memediasi hubungan ke kinerja.

- Variabel Dependen: Kinerja Karyawan.
Diukur secara multi-dimensi, seperti produktivitas (output kerja), kualitas tugas, dan retensi (berdasarkan JD-R Model). Kinerja ini dipengaruhi secara tidak langsung oleh gaya kepemimpinan melalui motivasi, di mana kepemimpinan yang efektif mengurangi tuntutan pekerjaan dan meningkatkan sumber daya, sehingga mengatasi fluktuasi dua tahun terakhir.

- Variabel Moderator: Karakteristik Startup (misalnya, Tingkat Fluktuasi Organisasi).
Faktor seperti ketidakpastian pasar, ukuran tim kecil, atau perubahan cepat dapat memperkuat atau melemahkan hubungan utama. Misalnya, di lingkungan fluktuatif tinggi, gaya kepemimpinan situasional akan lebih efektif (moderator positif), sesuai dengan JD-R Model.

Hubungan antar variabel: Gaya kepemimpinan → Meningkatkan motivasi karyawan → Meningkatkan kinerja, dengan moderator fluktuasi yang mengkondisikan kekuatan pengaruh (misalnya, kepemimpinan adaptif lebih kuat di startup dinamis). Kerangka ini sistematis karena mengikuti alur input (kepemimpinan) → proses (motivasi) → output (kinerja), dan dapat diuji menggunakan model statistik seperti regresi hierarkis atau SEM untuk mengonfirmasi hubungan di konteks startup.

3. Rumusan Hipotesis Penelitian yang Dapat Diuji
Berdasarkan kerangka pikir di atas, hipotesis dirumuskan secara spesifik, terukur, dan dapat diuji secara empiris menggunakan metode kuantitatif (misalnya, survei karyawan, analisis regresi, atau path analysis) atau campuran. Hipotesis ini bersifat directional untuk memungkinkan pengujian H0 vs. Ha, dengan fokus pada konteks fluktuasi startup.

- H1: Gaya kepemimpinan transformasional berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan di perusahaan startup.
(Dasar: Transformational Leadership Theory; dapat diuji dengan regresi linier sederhana, mengukur korelasi antara skor gaya kepemimpinan (skala MLQ) dan indikator kinerja seperti produktivitas tahunan.)

- H2: Motivasi karyawan memediasi hubungan antara gaya kepemimpinan dan kinerja karyawan, di mana gaya kepemimpinan yang adaptif meningkatkan motivasi yang pada gilirannya meningkatkan kinerja.
(Dasar: Expectancy Theory dan Situational Leadership; dapat diuji melalui analisis mediasi (misalnya, metode Sobel atau bootstrapping dalam SEM) untuk memverifikasi jalur intervening berdasarkan data survei motivasi.)

- H3: Tingkat fluktuasi organisasi (sebagai variabel moderator) memperkuat pengaruh gaya kepemimpinan situasional terhadap kinerja karyawan di startup.
(Dasar: JD-R Model; dapat diuji dengan analisis moderasi interaksi dalam regresi berganda, misalnya dengan memasukkan produk variabel independen dan moderator untuk melihat perubahan koefisien pengaruh.)

Hipotesis ini dapat disesuaikan dengan data lapangan dan dirancang untuk memberikan rekomendasi praktis bagi startup dalam mengelola gaya kepemimpinan guna menstabilkan kinerja karyawan.

MPPE B2025 -> CASE STUDY

Qonita Nurul Izzah 2313031042 གིས-
Nama: Qonita Nurul Izzah
NPM: 2313031042

1. Identifikasi Teori-Teori yang Relevan untuk Landasan Teori
Dalam penelitian tentang pengaruh pembelajaran daring terhadap hasil belajar mahasiswa pasca-pandemi COVID-19, landasan teori harus mencakup konsep-konsep yang menjelaskan mekanisme pembelajaran berbasis teknologi, interaksi siswa, dan faktor-faktor yang memengaruhi efektivitasnya. Berikut beberapa teori relevan yang dapat dijadikan landasan teori utama:

- Technology Acceptance Model (TAM) oleh Fred Davis (1989): Teori ini relevan karena menjelaskan bagaimana mahasiswa menerima dan menggunakan teknologi pembelajaran daring melalui dua faktor utama, yaitu perceived usefulness (kegunaan yang dirasakan) dan perceived ease of use (kemudahan penggunaan). Dalam konteks pasca-pandemi, TAM dapat digunakan untuk menganalisis apakah penerimaan teknologi daring memengaruhi efektivitas pembelajaran, terutama ketika sistem daring masih digunakan secara luas meskipun ada tantangan seperti akses internet atau kelelahan layar.

- Community of Inquiry (CoI) Framework oleh Garrison, Anderson, dan Archer (2000): Teori ini fokus pada tiga elemen utama dalam pembelajaran daring: cognitive presence (kehadiran kognitif untuk pembangunan pengetahuan), teaching presence (dukungan pengajar), dan social presence (interaksi sosial antar mahasiswa). Relevan untuk kasus ini karena pasca-pandemi, pembelajaran daring sering kali kurang interaktif, yang dapat memengaruhi hasil belajar seperti pemahaman konsep dan retensi pengetahuan.

- Self-Determination Theory (SDT) oleh Deci dan Ryan (1985): Teori motivasi ini menekankan tiga kebutuhan dasar manusia: autonomy (otonomi), competence (kompetensi), dan relatedness (keterkaitan sosial). Dalam pembelajaran daring, teori ini dapat menjelaskan bagaimana kurangnya interaksi langsung memengaruhi motivasi intrinsik mahasiswa, yang pada gilirannya berdampak pada hasil belajar. Pasca-pandemi, SDT membantu menganalisis apakah pembelajaran daring memenuhi kebutuhan ini atau justru menurunkan motivasi.

- Teori Konstruktivisme oleh Jean Piaget (1954) dan Lev Vygotsky (1978): Teori ini menyatakan bahwa pengetahuan dibangun melalui pengalaman aktif dan interaksi sosial. Relevan karena pembelajaran daring dapat mendukung konstruktivisme melalui platform interaktif, tetapi pasca-pandemi, tantangan seperti kurangnya kolaborasi langsung mungkin menghambat proses ini, sehingga memengaruhi hasil belajar seperti kemampuan analisis dan aplikasi pengetahuan.

Teori-teori ini dapat diintegrasikan untuk membangun landasan teori yang komprehensif, dengan TAM dan CoI sebagai fondasi utama untuk aspek teknologi dan interaksi, sementara SDT dan konstruktivisme menambahkan dimensi motivasi dan pembelajaran.

2. Kerangka Pikir yang Logis dan Sistematis
Kerangka pikir dalam penelitian ini dirancang untuk menggambarkan hubungan kausal antara variabel-variabel utama berdasarkan landasan teori di atas. Kerangka ini bersifat logis dan sistematis, dimulai dari variabel independen (pembelajaran daring) yang memengaruhi variabel dependen (hasil belajar), dengan memasukkan variabel intervening dan moderator untuk menjelaskan mekanisme pengaruh. Berikut susunan kerangka pikir secara deskriptif (dapat divisualisasikan sebagai diagram alur: Independan → Intervening → Dependen, dengan moderator sebagai faktor pengkondisi):

- Variabel Independen: Pembelajaran Daring.
Didefinisikan sebagai penggunaan platform digital (misalnya, Zoom, Google Classroom, atau LMS seperti Moodle) untuk penyampaian materi, interaksi, dan penilaian pasca-pandemi. Dimensi utamanya meliputi:
(1) kualitas konten dan aksesibilitas (berdasarkan TAM)
(2) tingkat interaksi sosial dan pengajaran (berdasarkan CoI)
(3) fleksibilitas waktu dan tempat.
Variabel ini diasumsikan sebagai pendorong utama perubahan dalam proses belajar.

-Variabel Intervening: Motivasi dan Penerimaan Mahasiswa.
Variabel ini berperan sebagai penghubung antara pembelajaran daring dan hasil belajar. Berdasarkan SDT, motivasi intrinsik (seperti rasa otonomi dan kompetensi) dipengaruhi oleh penerimaan teknologi (TAM) dan kehadiran komunitas (CoI). Misalnya, jika pembelajaran daring dirasakan mudah dan berguna, motivasi meningkat; sebaliknya, kurangnya interaksi sosial dapat menurunkan motivasi, yang kemudian memediasi pengaruh terhadap hasil belajar.

- Variabel Dependen: Hasil Belajar Mahasiswa.
Diukur melalui indikator seperti nilai akademik, tingkat pemahaman konsep (tes kognitif), retensi pengetahuan, dan keterampilan aplikasi (berdasarkan teori konstruktivisme). Hasil belajar ini dipengaruhi secara tidak langsung oleh pembelajaran daring melalui jalur intervening motivasi.

-Variabel Moderator: Faktor Eksternal (misalnya, Dukungan Teknologi dan Lingkungan Belajar).
Faktor seperti kualitas infrastruktur internet, dukungan institusi, atau kondisi rumah tangga mahasiswa dapat memperkuat atau melemahkan hubungan utama. Misalnya, akses teknologi yang baik (moderator positif) akan meningkatkan efektivitas pembelajaran daring, sesuai dengan TAM.

Hubungan antar variabel: Pembelajaran daring → Meningkatkan/ menurunkan motivasi dan penerimaan → Berpengaruh pada hasil belajar, dengan moderator yang mengkondisikan kekuatan hubungan. Kerangka ini logis karena mengikuti alur kausal dari input (teknologi) ke proses (motivasi) hingga output (hasil), dan dapat diuji secara empiris melalui model regresi atau SEM (Structural Equation Modeling) untuk mengonfirmasi hubungan pasca-pandemi.

3. Rumusan Hipotesis Penelitian yang Dapat Diuji Secara Ilmiah
Berdasarkan kerangka pikir di atas, hipotesis dirumuskan secara spesifik, terukur, dan dapat diuji menggunakan metode kuantitatif (misalnya, survei, analisis statistik seperti korelasi atau regresi) atau campuran. Hipotesis ini bersifat directional (positif/negatif) untuk memungkinkan pengujian hipotesis nol (H0) versus alternatif (Ha). Berikut tiga hipotesis utama:

- H1: Pembelajaran daring berpengaruh positif terhadap hasil belajar mahasiswa pasca-pandemi COVID-19.
(Dasar: TAM dan CoI; dapat diuji dengan mengukur korelasi antara frekuensi penggunaan platform daring dan nilai akademik melalui analisis regresi linier sederhana.)

- H2: Motivasi mahasiswa memediasi hubungan antara pembelajaran daring dan hasil belajar, di mana peningkatan penerimaan teknologi daring meningkatkan motivasi yang pada gilirannya meningkatkan hasil belajar.
(Dasar: SDT dan TAM; dapat diuji menggunakan analisis mediasi Baron-Kenny atau bootstrapping dalam SEM untuk memverifikasi jalur intervening.)

-H3: Dukungan teknologi (sebagai variabel moderator) memperkuat pengaruh positif pembelajaran daring terhadap hasil belajar mahasiswa.
(Dasar: Kerangka pikir secara keseluruhan; dapat diuji melalui analisis moderasi interaksi dalam regresi berganda, misalnya dengan mengukur interaksi antara variabel independen dan moderator terhadap dependen.)

Hipotesis ini dapat disesuaikan berdasarkan data empiris dan dirancang untuk mendukung pemahaman efektivitas pembelajaran daring pasca-pandemi, sehingga memberikan kontribusi praktis bagi perbaikan kurikulum.