Kiriman dibuat oleh Dela Novita

ASP A2025 -> Diskusi

oleh Dela Novita -
Nama: Dela Novita
Npm: 2313031023
Kelas :A

Penentuan harga pelayanan sektor publik pada dasarnya harus mempertimbangkan keseimbangan antara biaya penyediaan layanan, kemampuan masyarakat untuk membayar, serta tujuan sosial dari pelayanan tersebut. Tidak seperti sektor swasta yang berorientasi pada profit, sektor publik lebih menekankan pada asas keadilan dan pemerataan. Misalnya, dalam layanan kesehatan di rumah sakit pemerintah, harga obat atau biaya rawat inap sering kali disubsidi agar masyarakat berpenghasilan rendah tetap dapat mengakses layanan. Praktiknya, pemerintah biasanya menggunakan pendekatan cost recovery, yaitu menutup sebagian biaya operasional dari tarif layanan, sementara sisanya ditopang dengan dana subsidi APBN/APBD. Contoh lain dapat dilihat pada layanan transportasi publik seperti TransJakarta atau KRL, di mana tarif yang dibayar penumpang jauh lebih murah dibandingkan biaya sebenarnya karena adanya subsidi silang dari pemerintah. Penentuan harga ini juga sering melibatkan regulasi, misalnya penetapan tarif dasar listrik oleh pemerintah melalui PLN, yang menyesuaikan harga dengan kelompok pelanggan berdasarkan daya listrik. Dengan demikian, harga pelayanan sektor publik bukan sekadar perhitungan matematis biaya produksi, tetapi juga keputusan politik dan sosial yang bertujuan menjaga keterjangkauan sekaligus keberlanjutan layanan. Jadi, dalam diskusi ini bisa kita lihat bahwa kunci dari penetapan harga sektor publik adalah kompromi antara efisiensi ekonomi dan keadilan sosial, agar layanan dapat berjalan optimal sekaligus inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

ASP A2025 -> Summary

oleh Dela Novita -
Nama : Dela Novita
NPm: 2313031023
Kelas : A

Analisis investasi sektor publik merupakan suatu kajian sistematis yang dilakukan pemerintah atau lembaga publik untuk menilai kelayakan suatu proyek pembangunan dengan mempertimbangkan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan secara menyeluruh. Berbeda dengan investasi sektor swasta yang berorientasi pada keuntungan finansial, investasi sektor publik lebih menekankan pada pencapaian kesejahteraan masyarakat dan pemerataan pembangunan. Misalnya, pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, rumah sakit, maupun sekolah tidak hanya dihitung dari sisi biaya konstruksi dan pemeliharaan, tetapi juga dari dampak jangka panjangnya terhadap peningkatan akses, produktivitas, serta kualitas hidup warga. Dalam praktiknya, analisis ini biasanya menggunakan metode seperti cost-benefit analysis (CBA) atau analisis biaya-manfaat sosial, yang memasukkan variabel non-finansial seperti penghematan waktu, penurunan angka kemiskinan, hingga kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi regional. Selain itu, perlu juga diperhatikan risiko ketidakpastian, seperti perubahan kebijakan, kondisi ekonomi global, maupun faktor alam yang bisa memengaruhi kelancaran proyek. Melalui analisis yang komprehensif, pemerintah dapat memprioritaskan proyek-proyek yang memberikan dampak paling luas dan berkeadilan, sehingga dana publik yang terbatas dapat digunakan secara efektif dan efisien. Dengan demikian, analisis investasi sektor publik tidak hanya berfungsi sebagai alat pengambilan keputusan, tetapi juga sebagai instrumen akuntabilitas dan transparansi agar pembangunan benar-benar selaras dengan kebutuhan masyarakat serta mampu menciptakan keberlanjutan di masa depan.

MPPE A2025 -> CASE STUDY

oleh Dela Novita -
Nama : Dela Novita
NPm: 2313031023
Kelas : A

1. Identifikasi masalah penelitian yang relevan
Masalah penelitian yang relevan adalah penurunan jumlah mahasiswa baru di universitas meskipun telah dilakukan berbagai strategi promosi dalam tiga tahun terakhir.

2. Variabel yang dapat dikaji
a. Variabel Independen (X): Strategi promosi universitas (misalnya melalui media sosial, pameran pendidikan, kerja sama dengan sekolah).
b. Variabel Dependen (Y): Jumlah pendaftar/mahasiswa baru di universitas.
Selain itu dapat juga ditambahkan variabel intervening seperti citra universitas atau daya tarik program studi.

3. Paradigma penelitian yang paling tepat
Paradigma interpretif.

Alasan:
Paradigma interpretif cocok digunakan karena masalah ini tidak hanya dapat dijelaskan dengan data angka (kuantitatif) saja, tetapi juga membutuhkan pemahaman mendalam tentang persepsi calon mahasiswa, orang tua, dan sekolah mitra terhadap universitas. Paradigma ini membantu peneliti menggali makna subjektif, faktor sosial, serta preferensi yang memengaruhi keputusan memilih perguruan tinggi.

4. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian

Rumusan Masalah: Mengapa jumlah mahasiswa baru di universitas mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir meskipun promosi telah dilakukan secara intensif?

Pertanyaan Penelitian: Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi penurunan jumlah mahasiswa baru di universitas, dan bagaimana persepsi calon mahasiswa serta pemangku kepentingan terhadap strategi promosi yang dilakukan?

MPPE A2025 -> Membuat summary e journal

oleh Dela Novita -
Nama : Dela Novita
NPm: 2313031023
Kelas : A

Hasil resume understanding and Applying Research Paradigms in Educational Contexts karya Kivunja & Kuyini (2017):

Artikel ini membahas konsep paradigma penelitian yang kerap dianggap sulit dipahami oleh mahasiswa pascasarjana maupun peneliti pemula. Paradigma penelitian dipahami sebagai worldview atau kerangka berpikir yang mencerminkan keyakinan dasar peneliti tentang realitas, pengetahuan, serta cara memperoleh dan menafsirkan data. Mengacu pada Kuhn (1962), paradigma dimaknai sebagai pola pikir filosofis yang membentuk cara peneliti memandang dan menafsirkan dunia.

Lincoln dan Guba (1985) menjelaskan bahwa paradigma terdiri atas empat elemen penting, yaitu epistemologi (hakikat pengetahuan dan cara memperolehnya), ontologi (hakikat realitas), metodologi (cara sistematis untuk memperoleh data), dan aksiologi (pertimbangan etika dalam penelitian). Pemahaman keempat elemen ini menentukan arah penelitian, mulai dari rumusan masalah, pemilihan metode, hingga interpretasi data.

Artikel ini juga menyoroti adanya kontroversi dalam sejarah perkembangan paradigma, misalnya “paradigm wars” pada ilmu sosial yang memperdebatkan keabsahan paradigma positivis versus interpretif. Namun, dewasa ini terdapat kesepakatan bahwa ada empat paradigma dominan dalam penelitian pendidikan, yakni: Positivis/Postpositivis (berbasis metode ilmiah dan kuantitatif), Interpretivis/Konstruktivis (menekankan makna subjektif dan realitas majemuk), Kritis/Transformatif (berorientasi pada keadilan sosial dan perubahan), serta Pragmatis (fleksibel menggunakan metode campuran sesuai kebutuhan penelitian).

Setiap paradigma memiliki implikasi metodologis yang berbeda, baik dalam pemilihan instrumen, teknik pengumpulan data, maupun kriteria validitas. Misalnya, paradigma positivis mengutamakan validitas dan reliabilitas, sedangkan interpretivis menekankan kredibilitas dan transferabilitas. Paradigma kritis lebih menonjolkan keberpihakan pada kelompok terpinggirkan, sementara pragmatis berfokus pada apa yang paling efektif untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Kesimpulannya, pemahaman mendalam tentang paradigma sangat penting karena akan memandu peneliti dalam menentukan pendekatan, metode, serta etika penelitian. Dengan demikian, penelitian tidak hanya sistematis tetapi juga konsisten dengan keyakinan filosofis yang mendasarinya.

MPPE A2025 -> Diskusi

oleh Dela Novita -
Nama : Dela Novita
NPm: 2313031023
Kelas : A

Seorang peneliti perlu memahami masalah, variabel, dan paradigma penelitian karena ketiganya menjadi fondasi dalam menyusun penelitian yang terarah. Masalah penelitian membantu peneliti fokus pada isu yang relevan dan layak dikaji. Variabel berfungsi sebagai unsur yang dapat diukur sehingga penelitian memiliki kejelasan mengenai apa yang diuji atau dianalisis. Sementara paradigma penelitian memberi kerangka berpikir dan pendekatan (misalnya kuantitatif, kualitatif, atau campuran) sehingga penelitian berjalan sesuai metode ilmiah. Tanpa pemahaman yang baik, penelitian berisiko tidak sistematis dan hasilnya kurang valid.

Menurut Sugiyono (2017), penelitian harus diawali dengan pemahaman masalah yang jelas, penentuan variabel yang tepat, serta paradigma yang konsisten agar menghasilkan temuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Jadi, pemahaman tiga aspek ini bukan hanya teknis, tetapi juga menentukan kualitas serta kebermanfaatan hasil penelitian.