གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Wina Nadia Maratama

MPPE C2025 -> Diskusi

Wina Nadia Maratama གིས-
Nama : Wina Nadia Maratama
NPM : 2313031070
Skala pengukuran dalam penelitian adalah cara untuk menentukan tingkat atau derajat suatu variabel agar bisa diukur dan dianalisis secara kuantitatif. Secara umum, terdapat empat jenis skala pengukuran, yaitu nominal, ordinal, interval, dan rasio. Skala nominal digunakan untuk membedakan atau mengelompokkan data tanpa menunjukkan urutan, seperti jenis kelamin, jurusan, atau status sekolah. Skala ordinal menunjukkan peringkat atau urutan, tetapi jarak antar kategorinya tidak harus sama, contohnya tingkat kepuasan atau prestasi belajar. Skala interval memiliki jarak yang sama antar nilai, namun tidak memiliki nol mutlak, misalnya skor hasil tes atau nilai rapor. Sedangkan skala rasio memiliki jarak yang sama dan nol mutlak, seperti tinggi badan, usia, atau pendapatan.

Dalam rancangan penelitian saya mengenai efektivitas metode pembelajaran hybrid terhadap hasil belajar matematika siswa SMA, jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala interval, karena hasil belajar siswa diukur berdasarkan skor atau nilai tes yang memiliki jarak antar nilai yang sama. Selain itu, untuk data tambahan seperti jenis kelamin atau asal sekolah digunakan skala nominal, sedangkan untuk menilai motivasi atau persepsi siswa terhadap pembelajaran hybrid digunakan skala ordinal dengan bantuan kuesioner skala Likert. Dengan penentuan skala pengukuran yang tepat, peneliti dapat memilih teknik analisis data yang sesuai sehingga hasil penelitian lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

MPPE C2025 -> CASE STUDY

Wina Nadia Maratama གིས-
Nama : Wina Nadia Maratama
NPM : 2313031070

1. Populasi dan Sampel
Dalam penelitian ini, populasinya adalah seluruh siswa kelas XI di SMA Negeri se-Provinsi Jawa Barat. Populasi ini menjadi sasaran utama karena peneliti ingin mengetahui efektivitas metode pembelajaran hybrid terhadap hasil belajar matematika pada semua SMA negeri di provinsi tersebut. Sementara itu, sampelnya adalah sebagian sekolah dan siswa kelas XI yang dipilih dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Barat untuk mewakili keseluruhan populasi. Pengambilan sampel dilakukan karena jumlah sekolah sangat banyak (sekitar 600 sekolah) dan tersebar di 27 wilayah, sehingga tidak mungkin semua sekolah diteliti. Sampel yang dipilih harus mencerminkan keragaman kondisi tiap daerah, baik dari segi fasilitas digital, ekonomi, maupun jumlah siswa.

2. Teknik Sampling yang Tepat dan Alasan Pemilihannya
Teknik sampling yang paling sesuai untuk penelitian ini adalah stratified cluster random sampling, yaitu kombinasi antara stratified sampling dan cluster sampling. Teknik ini digunakan karena populasi penelitian sangat luas dan memiliki karakteristik yang beragam. Langkah pertama, peneliti membagi sekolah ke dalam beberapa strata berdasarkan wilayah atau karakteristik tertentu, misalnya: kota besar, kota menengah, dan daerah pedesaan. Setelah itu, dari setiap strata, peneliti memilih beberapa sekolah secara acak sebagai kluster, kemudian mengambil siswa kelas XI di sekolah-sekolah tersebut sebagai sampel. Teknik ini memastikan bahwa setiap wilayah di Jawa Barat terwakili secara proporsional, sehingga hasil penelitian lebih akurat, efisien, dan bisa digeneralisasi ke seluruh populasi.

3. Potensi Kelemahan Jika Hanya Mengambil Sampel dari Kota Besar
Jika peneliti hanya mengambil sampel dari sekolah-sekolah di kota besar seperti Bandung dan Bekasi, maka hasil penelitian tidak akan representatif. Hal ini karena sekolah di kota besar biasanya memiliki fasilitas pembelajaran yang lebih baik, akses internet yang cepat, serta guru dan siswa yang lebih terbiasa dengan pembelajaran hybrid. Kondisi ini berbeda jauh dengan sekolah di daerah pedesaan yang mungkin memiliki keterbatasan jaringan internet dan sarana belajar. Akibatnya, hasil penelitian hanya menggambarkan situasi sekolah di perkotaan dan tidak bisa digeneralisasi untuk seluruh SMA Negeri di Jawa Barat. Hal ini dapat menurunkan validitas eksternal penelitian, karena hasilnya tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di seluruh wilayah.

MPPE C2025 -> Penugasan mandiri

Wina Nadia Maratama གིས-
Nama : Wina Nadia Maratama
NPM :: 2313031070

Berdasarkan berbagai sumber,teknik sampling adalah cara peneliti memilih sebagian anggota populasi untuk dijadikan sumber data agar hasil penelitian bisa mewakili keseluruhan populasi tanpa harus meneliti semuanya. Secara umum, teknik sampling terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu probability samplingdan non-probability sampling. Probability sampling berarti setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel, contohnya simple random sampling, stratified sampling, cluster sampling, dan systematic sampling. Sedangkan non-probability sampling tidak memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi, seperti purposive sampling, quota sampling, snowball sampling, dan accidental sampling. Pemilihan teknik sampling ini biasanya disesuaikan dengan tujuan penelitian, karakteristik populasi, serta keterbatasan waktu dan sumber daya yang dimiliki peneliti (Makwana, 2022; EdTechBooks, 2023).

Dalam penelitian pendidikan ekonomi, teknik sampling yang paling sering digunakan adalah stratified random sampling dan cluster sampling. Kedua teknik ini termasuk dalam kategori probability sampling dan dinilai paling sesuai untuk penelitian pendidikan karena populasi yang diteliti umumnya bersifat beragam. Stratified random sampling digunakan ketika populasi terdiri dari kelompok dengan karakteristik berbeda, seperti jenis sekolah (SMA atau SMK), status sekolah (negeri atau swasta), atau tingkat ekonomi siswa. Dengan membagi populasi ke dalam beberapa strata, peneliti bisa memastikan setiap kelompok terwakili dengan proporsional sehingga hasil penelitian menjadi lebih akurat dan adil. Sementara itu, cluster sampling sering digunakan ketika populasi tersebar di banyak wilayah atau sekolah. Teknik ini memudahkan peneliti dengan cara memilih beberapa sekolah sebagai kelompok (kluster), kemudian mengambil sampel siswa dari sekolah-sekolah yang terpilih.

Secara teori, kedua teknik tersebut dianggap efektif karena membantu peneliti memperoleh data yang lebih representatif dan hasil yang bisa digeneralisasi dengan tingkat kesalahan yang rendah. Hal ini sejalan dengan tujuan penelitian pendidikan ekonomi yang biasanya ingin menggambarkan kondisi siswa atau sekolah dalam skala yang lebih luas (TeacherPH, 2023). Namun, di lapangan, beberapa penelitian juga menggunakan purposive sampling karena keterbatasan waktu, biaya, atau akses ke responden. Meski begitu, peneliti perlu menyadari bahwa teknik non-probability seperti ini memiliki kelemahan dalam hal generalisasi hasil, sehingga temuan penelitian perlu ditafsirkan dengan lebih hati-hati.


Makwana, D. (2022). Sampling Methods in Research: A Review. International Journal of Trend in Scientific Research and Development (IJTSRD). (https://www.ijtsrd.com/medicine/ayurvedic/57470/sampling-methods-in-research-a-review/dhaval-makwana)
EdTechBooks. (2023). Sampling in Educational Research. (https://edtechbooks.org/education_research/sampling)
TeacherPH. (2023). Sampling Techniques in Education Research. (https://www.teacherph.com/sampling-techniques-education-research/)

MPPE C2025 -> ACTIVITY: RESUME

Wina Nadia Maratama གིས-
Nama : Wina Nadia Maratama
NPM : 2313031070

Bab 5 membahas tiga komponen penting dalam penelitian, yaitu penentuan teknik sampling, penyusunan desain penelitian, dan pemilihan instrumen penelitian. Bagian awal bab ini menjelaskan bahwa penelitian adalah proses ilmiah yang dilakukan secara sistematis, terkontrol, dan berdasarkan teori serta hipotesis yang sudah ada. Tujuannya adalah menemukan kebenaran yang dapat diuji secara ilmiah dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Melalui penelitian, seseorang dapat memahami, memecahkan, dan mengantisipasi berbagai masalah yang dihadapi. Karena itu, penelitian harus dilakukan dengan sabar, teliti, dan tidak tergesa-gesa agar hasilnya valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam menentukan teknik sampling, peneliti harus memahami apa itu populasi dan sampel. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili keseluruhan. Teknik sampling sendiri dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu probability sampling (setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih) dan non-probability sampling (peluang anggota populasi untuk dipilih tidak sama). Contoh teknik probability sampling meliputi simple random sampling, stratified sampling, dan area sampling, sedangkan non-probability sampling mencakup purposive, snowball, accidental, dan quota sampling. Pemilihan teknik sampling yang tepat akan menentukan keakuratan dan representasi data dalam penelitian.

Selanjutnya, bab ini membahas tentang desain penelitian, yaitu rencana atau kerangka kerja yang mengarahkan peneliti dalam mengumpulkan dan menganalisis data. Desain penelitian menjadi pedoman agar penelitian berjalan sistematis dan fokus pada tujuan yang ingin dicapai. Desain yang baik mencakup penentuan masalah, hipotesis, variabel, serta metode pengumpulan dan analisis data. Dalam penelitian kuantitatif, desainnya bersifat kaku dan terencana, sedangkan dalam penelitian kualitatif lebih fleksibel menyesuaikan dengan situasi lapangan.

Bagian terakhir membahas instrumen penelitian, yaitu alat yang digunakan untuk mengumpulkan data seperti angket, wawancara, observasi, atau tes. Instrumen yang baik harus memenuhi tiga syarat utama: validitas, reliabilitas, dan praktikabilitas. Validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur benar-benar mengukur hal yang dimaksud; reliabilitas menunjukkan konsistensi hasil pengukuran; sedangkan praktikabilitas berkaitan dengan kemudahan dan efisiensi penggunaan alat tersebut. Pemilihan instrumen juga dipengaruhi oleh tujuan penelitian, jenis data yang dibutuhkan, serta karakteristik responden.

Pada bagian akhir, bab ini menegaskan bahwa keberhasilan suatu penelitian sangat bergantung pada ketepatan peneliti dalam menentukan teknik sampling, menyusun desain penelitian, dan memilih instrumen yang sesuai. Ketiga aspek tersebut saling berhubungan dan menjadi dasar penting dalam menghasilkan data yang valid, reliabel, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

MPPE C2025 -> Diskusi

Wina Nadia Maratama གིས-
Nama : Wina Nadia Maratama
NPM : 2313031070

Berdasarkan pengalaman dan berbagai referensi yang saya baca, populasi dapat diartikan sebagai seluruh individu atau objek yang memiliki karakteristik tertentu dan menjadi sasaran penelitian. Populasi mencakup semua pihak yang ingin diketahui hasil atau kesimpulannya oleh peneliti. Sementara itu, sampel adalah sebagian dari populasi yang dijadikan sumber data untuk mewakili keseluruhan populasi tersebut. Dengan kata lain, sampel digunakan agar penelitian dapat dilakukan lebih efisien tanpa harus melibatkan semua anggota populasi, namun tetap mampu menggambarkan kondisi populasi secara akurat.

Dalam menentukan populasi dan sampel, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh seorang peneliti. Pertama, peneliti harus menentukan batasan populasi secara jelas, seperti siapa saja yang termasuk dan tidak termasuk dalam kelompok penelitian. Kedua, sampel yang dipilih harus mewakili karakteristik populasi agar hasil penelitian dapat digeneralisasi dengan baik. Ketiga, teknik sampling yang digunakan juga harus disesuaikan dengan tujuan penelitian, apakah menggunakan probability sampling (peluang sama untuk setiap anggota) atau non-probability sampling (peluang tidak sama). Selain itu, ukuran sampel juga perlu diperhitungkan agar data yang diperoleh cukup untuk dianalisis dan menghasilkan kesimpulan yang valid.