NAMA : Intan Kurnia
NPM 2313034028
Dari paper tersebut saya dapat memahami contoh kegagalan moderenisme yang membahas kegagalan proyek perumahan sosial Pruitt-Igoe di St. Louis, Missouri, yang dihancurkan pada tahun 1972. Studi ini mengkaji bagaimana desain dan perencanaan berkontribusi pada malaise sosial di kompleks tersebut. Beberapa faktor yang berperan dalam kehancuran Pruitt-Igoe meliputi desain arsitektur yang tidak mendukung interaksi sosial, tingkat hunian yang menurun, meningkatnya kejahatan, serta kebijakan perumahan yang diskriminatif.
Pruitt-Igoe awalnya dirancang sebagai solusi modernis untuk perumahan sosial dengan bangunan bertingkat tinggi, namun desainnya justru menciptakan isolasi sosial. Penggunaan pilotis (kolom penyangga di lantai dasar) serta lorong-lorong internal menghambat pengawasan alami, memfasilitasi tindakan kriminal, dan menyebabkan kerusakan sosial. Selain itu, sistem elevator "skip-stop" yang hanya berhenti di lantai tertentu membuat penghuni harus menggunakan tangga yang gelap dan tidak aman, semakin memperburuk masalah keamanan.
Kegagalan regulasi juga berkontribusi terhadap krisis di Pruitt-Igoe. Kebijakan diskriminatif mencegah banyak keluarga berpenghasilan rendah dengan kepala keluarga pria untuk mendapatkan perumahan, sehingga mayoritas penghuni adalah ibu tunggal dengan anak-anak. Hal ini menyebabkan kurangnya kehadiran figur otoritatif yang dapat mengawasi lingkungan. Selain itu, suburbanisasi dan "white flight" (migrasi besar-besaran warga kulit putih ke pinggiran kota) menyebabkan penurunan pendapatan sewa dan berkurangnya pemeliharaan gedung, yang semakin mempercepat degradasi lingkungan.
Pruitt-Igoe awalnya dirancang sebagai solusi modernis untuk perumahan sosial dengan bangunan bertingkat tinggi, namun desainnya justru menciptakan isolasi sosial. Penggunaan pilotis (kolom penyangga di lantai dasar) serta lorong-lorong internal menghambat pengawasan alami, memfasilitasi tindakan kriminal, dan menyebabkan kerusakan sosial. Selain itu, sistem elevator "skip-stop" yang hanya berhenti di lantai tertentu membuat penghuni harus menggunakan tangga yang gelap dan tidak aman, semakin memperburuk masalah keamanan.
Kegagalan regulasi juga berkontribusi terhadap krisis di Pruitt-Igoe. Kebijakan diskriminatif mencegah banyak keluarga berpenghasilan rendah dengan kepala keluarga pria untuk mendapatkan perumahan, sehingga mayoritas penghuni adalah ibu tunggal dengan anak-anak. Hal ini menyebabkan kurangnya kehadiran figur otoritatif yang dapat mengawasi lingkungan. Selain itu, suburbanisasi dan "white flight" (migrasi besar-besaran warga kulit putih ke pinggiran kota) menyebabkan penurunan pendapatan sewa dan berkurangnya pemeliharaan gedung, yang semakin mempercepat degradasi lingkungan.