Kiriman dibuat oleh 2313034072 Putri Yunita

Nama: Putri Yunita
NPM: 2313034072
Kelas: 2023 C

Paper ini membahas mengenai kegagalan proyek perumahan publik Pruitt-Igoe di St. Louis, Missouri, yang sering dijadikan simbol kegagalan modernisme dalam perencanaan kota dan arsitektur. Pruitt-Igoe awalnya dibangun dengan harapan menyediakan hunian yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah, namun kompleks ini mengalami kemunduran drastis hingga akhirnya dihancurkan pada tahun 1972. Penelitian ini menyoroti berbagai faktor yang berkontribusi terhadap kehancurannya, termasuk desain arsitektur yang kurang mendukung interaksi sosial, tata letak yang tidak intuitif, dan kebijakan perumahan yang tidak mempertimbangkan dinamika sosial. Penggunaan pendekatan "spatial archaeology" dan analisis ruang menunjukkan bahwa luasnya area tanpa pengawasan menciptakan kondisi yang mendukung kejahatan, sementara pemisahan fungsi ruang yang terlalu ketat justru memperparah isolasi sosial. Selain itu, ketidakseimbangan antara jumlah anak-anak dan orang dewasa di area publik memperburuk masalah pengawasan dan keamanan. Studi ini menyoroti bagaimana perencanaan yang kurang memperhitungkan aspek sosial dan kebutuhan penghuninya dapat menciptakan lingkungan yang tidak layak huni, yang pada akhirnya berujung pada kegagalan total proyek tersebut.
Nama: Putri Yunita
NPM: 2313034072
Kelas: 2023 C
Mata Kuliah: Geografi Sosial

Interaksi manusia dan lingkungan dalam ruang sosial adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Manusia membentuk lingkungannya melalui norma, nilai, dan keputusan yang mereka buat, baik secara individu maupun kelompok. Di sisi lain, lingkungan juga memengaruhi cara manusia berpikir, berperilaku, dan beradaptasi. Cara manusia memahami dan berinteraksi dengan lingkungan dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pengalaman, dan persepsi masing-masing individu. Ada pandangan yang menyatakan bahwa manusia sepenuhnya dipengaruhi oleh lingkungan (determinisme lingkungan), sementara pandangan lain menekankan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk mengubah lingkungannya (posibilisme lingkungan). Selain itu, konsep biofilia menjelaskan bahwa manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk terhubung dengan alam, yang mendorong perilaku ramah lingkungan. Dalam ruang sosial, kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan kelestarian lingkungan menjadi hal yang krusial. Dengan memahami hubungan ini, manusia dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis, nyaman, dan berkelanjutan.

Referensi: Anisza Ratnasari, Yohanes Basuki Dwisusanto. (2024). Interaksi Manusia dan lingkungan dalam kajian Filosofi. Jurnal Ilmiah Penelitian. 197-206

Doi: https://doi.org/10.33510/marka.2024.7.2.195-208