Kiriman dibuat oleh 2313034079 Isna Eni

Nama: Isna Eni
NPM: 2313034079

Awal Redupnya Ideologi Modernisme dalam Konsep Ruang Sosial: Studi Kasus Pruitt-Igoe

Modernisme, sebagai salah satu pendekatan dalam perencanaan kota dan desain arsitektur, didorong oleh tujuan untuk menciptakan ruang yang lebih efisien dan teratur. Sayangnya, dalam pelaksanaannya, prinsip-prinsip modernisme seringkali mengabaikan aspek sosial yang krusial dari ruang yang dibangun. Kompleks Perumahan Umum Pruitt-Igoe di St. Louis, Missouri, menjadi contoh nyata dari kegagalan yang dihasilkan oleh pendekatan ini. Meskipun dirancang berdasarkan prinsip modernisme seperti bangunan bertingkat tinggi dan pemisahan fungsi ruang, Pruitt-Igoe justru menciptakan lingkungan yang tidak mendukung interaksi sosial yang sehat.

Desain yang menghilangkan interaksi alami di antara penghuni berkontribusi pada kurangnya pengawasan sosial, meningkatnya tingkat kriminalitas, serta memburuknya kondisi hidup di dalam kompleks tersebut. Dengan menurunnya tingkat hunian, interaksi sosial antara orang dewasa dan anak-anak juga terganggu, menciptakan suasana yang semakin tidak ramah bagi penghuninya.

Penelitian terhadap arkeologi spasial Pruitt-Igoe mengungkapkan bahwa desain yang diterapkan gagal mendukung interaksi sosial dan justru memperburuk masalah sosial yang telah ada. Pembagian ruang yang tidak mempertimbangkan kebutuhan penghuni mengakibatkan ketidakseimbangan antara jumlah orang dewasa dan anak-anak di area publik. Desain yang menonjolkan penggunaan pilotis dan lorong-lorong interior menciptakan jalur akses yang sulit diawasi, membuka peluang bagi munculnya aktivitas kriminal. Penghilangan pintu depan yang mengarah ke jalan, digantikan oleh koridor internal bertingkat tinggi, semakin mengisolasi penghuni dan mengurangi kemungkinan terjadinya kontrol sosial yang efektif. Situasi ini diperburuk oleh minimnya pemeliharaan dan pengelolaan yang memadai, yang pada gilirannya mengakibatkan lingkungan yang kian tidak nyaman dan berkontribusi pada persepsi negatif terhadap kompleks tersebut.

Kegagalan Pruitt-Igoe bukan hanya terletak pada desainnya, tetapi juga pada kebijakan perumahan dan regulasi sosial yang diterapkan. Aturan yang melarang keluarga berpenghasilan rendah yang dipimpin oleh pria dewasa untuk menerima bantuan perumahan menyebabkan banyak rumah tangga dipimpin oleh perempuan tanpa kehadiran laki-laki dewasa, menciptakan ketidakseimbangan yang lebih lanjut dalam pengawasan sosial dan meningkatkan risiko kejahatan. Selain itu, keputusan desegregasi perumahan publik yang dikeluarkan oleh pengadilan federal mempercepat eksodus besar-besaran penduduk kulit putih dari Pruitt-Igoe, semakin memperburuk keadaan perumahan tersebut. Dengan semakin rendahnya tingkat hunian, anggaran untuk pemeliharaan pun semakin tergerus, membuat kondisi lingkungan menjadi semakin parah.

Kegagalan Pruitt-Igoe menggarisbawahi betapa modernisme dalam perencanaan kota dan desain arsitektur tidak dapat mengabaikan aspek sosial dan psikologis dari penghuninya. Lingkungan yang dibangun dengan mengabaikan interaksi sosial akhirnya menciptakan keadaan yang berujung pada degradasi. Tata letak yang kaku dan tidak memperhitungkan dinamika sosial penghuni justru menghadirkan ruang yang berfungsi sebagai penghalang, bukan sebagai sarana untuk membangun komunitas.

Dengan belajar dari kegagalan ini, pendekatan dalam desain kota dan perumahan publik mulai bertransformasi menuju konsep yang lebih humanistik dan inklusif. Redupnya ideologi modernisme dalam ruang sosial bukan hanya dipicu oleh kendala teknis dalam desain, tetapi juga oleh kesalahan pemahaman bahwa ruang bukanlah sekadar bangunan fisik, melainkan juga wadah bagi kehidupan sosial yang kompleks dan dinamis.

Menurut pendapat saya, kasus Pruitt-Igoe mengungkapkan bahwa arsitektur dan perencanaan kota modernisme terlalu terfokus pada logika desain yang idealis, tanpa memperhatikan dinamika sosial yang sebenarnya. Konsep-konsep yang terlihat baik di atas kertas sering kali gagal diterapkan secara efektif dalam kehidupan sehari-hari. Kegagalan ini menunjukkan bahwa ruang bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga lingkungan yang perlu dirancang untuk mendukung interaksi sosial, keamanan, dan kesejahteraan para penghuninya. Saya meyakini bahwa pendekatan desain di masa depan harus lebih adaptif dan berorientasi pada kebutuhan manusia, bukan hanya pada aspek estetika dan efisiensi struktur semata.
Nama: Isna Eni
NPM: 2313034079
Kelas: Geografi 2023 c
Mata kuliah: Geografi Sosial

Interaksi yang terjadi antara manusia dengan lingkungan alam dapat dilihat sebagai hubungan antara kualitas kependudukan dengan kualitas lingkungan, dan dapat dipahami lebih baik dengan menjadikan tindakantindakan manusia dan akibat lingkungan yang ditimbulkan sebagai pokok kajian dan penjelasannya (Tjitrajaya dan Vayda, 1990).
Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari alam, manusia setiap tahap dalam kehidupannya dikuasai oleh fenomena dan hukum alam. Sebaliknya prilaku manusia juga mampu mempengaruhi lingkungan alam. Manusia dan lingkungan selalu saling berhubungan dan saling pengaruh mempengaruhi karena menempati suatu ruang (space) yang sama, yang berubah dan berkembang dari waktu ke waktu, dari bagian ruang yang satu ke bagian ruang yang lain yang menghasilkan bentuk kehidupan tetentu.
Ruang interaksi sosial terjadi ketika ada aktivitas interaksi sosial yang terjadi, karena pada dasarnya sebuah ruang akan terjadi apabila ada fungsi sebuah aktivitas (Hantono et al., 2018). Ruang interaksi sosial bisa kita temukan dengan mudahnya di sekeliling tempat kita tinggal, mulai dari ruang yang direncanakan dan tidak direncanakan.
Interaksi manusia dan lingkungan dalam ruang sosial merupakan hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan sekitarnya dalam konteks kehidupan sosial. Hubungan ini bersifat dinamis dan saling memengaruhi, di mana manusia dapat mengubah lingkungan dan lingkungan juga membentuk perilaku manusia.
Interaksi yang terjadi antara manusia dan lingkungan alamnya (interaksi sosio-biogeofisik menurut istilah Otto Sumarwoto) mempunyai pola dan kecenderungan yang berbeda-beda, dan tergantung dari besar pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh masing-masing komponen tersebut. Pengaruh yang ditimbulkan hasil interaksi tersebut lebih cenderung kearah budaya manusianya, walaupun diikuti juga oleh perubahan dalam arti fisik. Kecenderungan pertama dapat terjadi apabila budaya manusia dengan segala kepandaiannya mampu memberikan pengaruh yang kuat terhadap lingkungannya, sehingga memunculkan manusia sebagai aktor yang paling berperan dalam menentukan baik buruknya kondisi lingkungan tersebut. Kecenderungan kedua adalah apabila lingkungan dengan segala kondisinya mampu memberikan pengaruh yang kuat terhadap budaya manusia, sehingga manusia begitu sangat bergantung dengan kondisi lingkungannya, segala upaya dilakukan hanya untuk mempertahankan kondisi lingkungan dari pengaruh yang berasal dari luar. Kecenderungan ketiga adalah apabila budaya manusia dan lingkungan mampu secara mutualistik berkembang searah dengan tingkat pengaruh antara keduanya yang berjalan secara seimbang, sehingga nampak keseimbangan interaksi antara manusia dan lingkungannya. Kelompok pertama dapat dikategorikan menganut paham antroposentrisme atau posibilisme, kelompok kedua dengan paham antropogeografi atau determinisme dan kelompok ketiga dengan paham biosentrisme dan ekosentrisme.
Ruang merupakan sebuah wadah atau tempat bagi manusia atau makhluk hidup lainnya untuk beraktivitas. Kaitannya dengan ruang sosial, Ruang sosial merupakan tempat bagi manusia atau makhluk hidup lainnya untuk saling berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Interaksi ini dapat berupa pemanfaatan potensi lingkungan maupun interaksi antar sesama manusia.Contoh interaksi antara manusia dan lingkungan yang sering kita jumpai adalah pemanfaatan lahan pertanian oleh masyarakat di daerah dataran rendah dan pada dasarnya interaksi ini saling berkaitan dan bertujuan untuk menunjang kelangsungan hidup mereka. Interaksi yang telah terjalin ini juga akan berpengaruh terhadap proses adaptasi antara manusia dengan lingkungan di sekitarnya. Contoh ini merupakan technical learning yg dicetuskan Hubermas, bagaimana beinteraksi baik antara manusia dengan lingkungan, menghargai lingkungan alam sebagai bagian hidup menuju kenyamanan.

Sumber:
Anggiani, M., & Ayudya, R. D. (2024). KARAKTERISTIK SPASIAL RUANG INTERAKSI SOSIAL PENGHUNI di LINGKUNGAN HUNIAN KAMPUNG KOTA TEMATIK TANGERANG. LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, 11(1), 16. https://doi.org/10.26418/lantang.v11i1.69948

Mas, R., Dosen, S., Kehutanan, J., Pertanian, F., Palangka, U., Yos, R. J., Kampus, S., Raya, P., & Tengah, P. K. (2021). INTERAKSI MANUSIA DAN LINGKUNGAN DALAM PERSPEKTIF ANTROPOSENTRISME, ANTROPOGEOGRAFI DAN EKOSENTRISME (Human and Environment Interactive in the Perspective of Antroposentrism, Antropogeography and Ecocentrism) (Vol. 16, Issue 1). https://e-journal.upr.ac.id/index.php/JHT