Assalamualaikum wr wb
Izin memperkenalkan diri pak,
Nama : Amanda Crescentyas Ghaitsadini Kusumawarhani
NPM : 2313053034
Izin menjawab diskusi,
1. Menurut saya, biar satu skenario masalah bisa dipakai di dua tingkat kelas sekaligus, guru harus bikin masalah yang dekat dengan keseharian mereka tapi beda bobot berpikirnya. Contohnya pakai tema kebersihan sekolah; anak kelas bawah fokusnya cukup ke ciri-ciri lingkungan kotor dan kebiasaan bersih-bersih, sedangkan anak kelas atas diajak mikir lebih dalam soal dampak kesehatan dan tanggung jawab bersamanya. Lewat cara ini, topiknya tetap sama tapi tingkat kesulitannya pas, jadi anak kelas atas tetap tertantang dan anak kelas bawah tidak kemandekan.
2. Menurut saya, waktu menerapkan PBL, guru perlu modal awal yang kuat buat siswa biar kelompok tetap jalan pas guru lagi megang kelompok lain. Caranya, guru harus siapin lembar kerja yang jelas, pertanyaan pemicu, dan contoh simpel supaya siswa tidak kehilangan arah pas mentok. Guru juga harus membiasakan siswa buat diskusi dan cari solusi bareng temannya dulu sebelum langsung panggil guru. Jadi, mereka tetap sibuk mikir dan tidak gampang pecah fokus atau malah mengganggu kelompok sebelah karena gabut nungguin guru.
3. Menurut saya, supaya tutor sebaya tidak cuma mendikte atau sekadar kasih hafalan, guru harus ngajarin mereka cara memancing logika temannya. Caranya, modalin si tutor dengan pertanyaan pancingan seperti "kenapa bisa dapat jawaban ini?" atau "kalau pakai cara lain hasilnya gimana?". Jadi, si tutor tidak langsung kasih tahu jawabannya, tapi menuntun temannya buat mikir. Selain itu, guru juga tetap harus keliling buat memantau dan meluruskan kalau ada penjelasan tutor yang kurang tepat, biar tujuan belajarnya tetap sejalan.
Terimakasih, wassalamualaikum wr wb
Izin memperkenalkan diri pak,
Nama : Amanda Crescentyas Ghaitsadini Kusumawarhani
NPM : 2313053034
Izin menjawab diskusi,
1. Menurut saya, biar satu skenario masalah bisa dipakai di dua tingkat kelas sekaligus, guru harus bikin masalah yang dekat dengan keseharian mereka tapi beda bobot berpikirnya. Contohnya pakai tema kebersihan sekolah; anak kelas bawah fokusnya cukup ke ciri-ciri lingkungan kotor dan kebiasaan bersih-bersih, sedangkan anak kelas atas diajak mikir lebih dalam soal dampak kesehatan dan tanggung jawab bersamanya. Lewat cara ini, topiknya tetap sama tapi tingkat kesulitannya pas, jadi anak kelas atas tetap tertantang dan anak kelas bawah tidak kemandekan.
2. Menurut saya, waktu menerapkan PBL, guru perlu modal awal yang kuat buat siswa biar kelompok tetap jalan pas guru lagi megang kelompok lain. Caranya, guru harus siapin lembar kerja yang jelas, pertanyaan pemicu, dan contoh simpel supaya siswa tidak kehilangan arah pas mentok. Guru juga harus membiasakan siswa buat diskusi dan cari solusi bareng temannya dulu sebelum langsung panggil guru. Jadi, mereka tetap sibuk mikir dan tidak gampang pecah fokus atau malah mengganggu kelompok sebelah karena gabut nungguin guru.
3. Menurut saya, supaya tutor sebaya tidak cuma mendikte atau sekadar kasih hafalan, guru harus ngajarin mereka cara memancing logika temannya. Caranya, modalin si tutor dengan pertanyaan pancingan seperti "kenapa bisa dapat jawaban ini?" atau "kalau pakai cara lain hasilnya gimana?". Jadi, si tutor tidak langsung kasih tahu jawabannya, tapi menuntun temannya buat mikir. Selain itu, guru juga tetap harus keliling buat memantau dan meluruskan kalau ada penjelasan tutor yang kurang tepat, biar tujuan belajarnya tetap sejalan.
Terimakasih, wassalamualaikum wr wb