Kiriman dibuat oleh Syahrani Harahap

Nama : Syahrani Harahap
NPM : 2313053216
Kelas : 3G
Pada video ini menjelaskan mengenai model pembelajaran Market place. Terdapat beberapa tahapan dalam proses pembelajaran menggunakan model ini, berikut tahapannya:
1. Tahap pembagian kelompok, pada tahap ini siswa di bagi menjadi beberapa kelompok.
2. Tahap pembuatan produk, pada tahap ini siswa di ajak untuk membuat poster yang isinya tidak lebih dari 15 kata atau simbol. Tujuannya agar siswa mampu menyederhanakan dan mengkomunikasikan informasi secara efektif.
3. Proses jual beli informasi, pada tahap ini siswa bertindak sebagai penjual dan pembeli informasi, di mana salah satu anggota kelompok sebagai penjual/penjaga stan dan sisanya sebagai pembeli informasi dari kelompok lain.
4. Tahap berbagi informasi, setelah setiap perwakilan kelompok melakukan pembelian/berbelanja informasi dari kelompok lain, informasi itu di bagikan dengan penjaga stan. Tahap ini memastikan bahwa semua anggota kelompok mendapatkan informasi.
5. Tahap konfirmasi, pada tahap ini guru melakukan konfirmasi dengan cara menanyakan informasi apa yang sudah didapat dari kelompok lain, lalu guru juga memberikan penguatan dan kesimpulan.
Model pembelajaran market place ini merupakan model yang baik digunakan dalam proses pembelajaran karena dengan model ini meningkatkan kolaborasi antar siswa untuk berkeja sama berbagi informasi dan meningkatkan keterampilan komunikasi siswa, juga membuat suasana kelas menjadi asyik dan aktif
Nama : Syahrani Harahap
NPM : 2313053216
Kelas : 3G
Pada video ini menjelaskan mengenai metode pengembangan moral dan nilai-nilai agama. video ini menyoroti pentingnya pembinaan moral dan keagamaan pada anak usia dini, karena pada saat itu anak berada pada fase perkembangan peka terhadap segala pengaruh dari luar. Dalam hal ini Guru memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pengaruh positif melalui kegiatan bermain dan kegiatan lain yang bermanfaat. Dalam mengembangkan nilai moral guru membantu anak membentuk karakter, kepribadian dan perkembangan sosial.
Berdasarkan video ada beberapa program yang bisa dilakukan yaitu, Pengembangan konsep diri, kesopanan, dan kerapihan. Konsep diri anak dibentuk dengan cara menanamkan rasa percaya diri, kemandirian, dan keberanian dalam berpendapat. Ini bisa dilakukan dengan cara kegiatan tanya jawab dan aktivitas bersama seperti makan bersama sehingga memupuk rasa kebersamaan. Selanjutnya kerapihan adalah bagaimana cara makan, berpakaian, dan berperilaku. Sedangkan kesopanan yaitu, bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain, cara bersikap terhadap orang lain dan lain-lain. Dengan program ini melatih nilai moral untuk diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Pada video ini juga menjelaskan bagaimana anak diajarkan untuk mengembangkan sosial dan empati misalnya, ketika ada konflik, guru memberikan panduan bagaimana menyelesaikan masalah secara adil dan memberikan penguatan moral tentang bagaimana perbuatan seseorang dapat mempengaruhi orang lain. Anak dilatih untuk tidak hanya meminta pengertian dari orang lain, tetapi juga belajar untuk memahami orang lain.
video ini juga menyoroti pentingnya penerapan nilai-nilai agama seperti mengajarkan doa sebelum makan dan beribadah, menjadi bagian integral dari pembelajaran moral. Ini membantu anak memahami hubungan mereka dengan Tuhan dan menghargai ciptaan-Nya. Kegiatan/metode seperti bernyanyi dan membaca, bercerita bertema keagamaan membuat anak meresapi nilai-nilai spiritual sejak dini.
Untuk mengembangkan pemahaman anak terhadap nilai-nilai moral dan sosial. Metode yang mungkin akan efektif adalah dengan bermain peran, anak-anak memerankan tokoh atau situasi tertentu yang meniru kehidupan nyata, memungkinkan mereka untuk belajar tentang empati, sosialisasi, dan menghadapi emosi mereka. Atau bisa seperti bermain dengan boneka atau mainan tiruan, mendorong anak untuk beralih dari bermain sendiri ke bermain bersama dalam kelompok, meningkatkan kemampuan sosial dan kerja sama.
Video ini juga membahas pentingnya memberikan pengalaman langsung kepada anak-anak melalui kegiatan di luar sekolah, seperti karya wisata, yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan sosial mereka, kesadaran terhadap lingkungan, dan pemahaman tentang budaya serta ciptaan Tuhan. Apabila karya wisata tidak memungkinkan, alternatif yang diberikan adalah dengan mengajak anak beraktivitas di sekitar lingkungan sekolah. Tujuannya tetap sama, yaitu mengenalkan anak pada lingkungan sekitar dan mendiskusikan apa yang mereka amati. Pengalaman ini dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran di dalam kelas, khususnya dalam kegiatan pra-membaca, yang menghubungkan pengalaman luar kelas dengan pembelajaran formal. Pendidik berperan penting dalam memberikan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak, dan harus diingat bahwa anak belajar paling efektif adalah melalui permainan.

PGSD_PIPSSD_G_2024/2025 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 7

oleh Syahrani Harahap -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
nama: syahrani harahap
npm: 2313053216

izin bertanya, dimakalah dijelaskan terdapat 4 jenis model pembelajaran ips. pertanyaan saya dari 4 jenis model tersebut model manakah yang cocok digunakan untuk anak SD di kelas menengah, terutama jika di dalam kelas terdapat anak spesial seperti tunagrahita?
Nama: Syahrani Harahap
NPM: 2313053216
Kelas: 3G
Analisis jurnal “Membina Nilai Moral Sosial Budaya Indonesia di Kalangan Remaja”
Jurnal ini membahas mengenai fenomena kenakalan remaja, seperti tawuran dan penyalahgunaan narkoba. Ini mencerminkan kegagalan pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai luhur dan moral kepada generasi muda. Jurnal ini mengutip ayat Al-Qur’an untuk menekankan pentingnya peran agama dalam pendidikan moral. Generasi yang bertanggung jawab dapat terbentuk dengan menanamkan nilai-nilai keimanan dan akhlak mulia sejak dini melalui pendidikan agama yang konsisten dan berkelanjutan. Kegiatan ibadah dan muamallah yang di praktikan secara terus- menerus dalam keluarga dan masyarakat akan membantu membentuk karakter yang luhur.
Jurnal ini menjelaskan bahwa pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai tri pusat pendidikan. Pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan sosial. Orang tua, guru, dan tokoh masyarakat harus berperan aktif dalam membentuk karakter anak-anak dan remaja. Dengan pendidikan yang menyeluruh generasi muda dapat tumbuh dengan jati diri yang kuat dan karakter yang luhur.
Jurnal ini juga menekankan bahwa suasana pendidikan yang kondusif didasari dengan komunikasi yang penuh nilai. Hubungan antara guru dan siswa, orang tua dan anak, atau atasan dan bawahan, harus didasarkan pada kesetaraan dan saling menghargai. dalam kontekas Indonesia yang pluralis dan multikultural, pendidikan nilai dan moral memperhatikan kebudayaan yang beragam. Multikulturalisme diakui sebagai ideologi yang menghargai perbedaan dan kesetaraan budaya.
Pada jurnal ini juga dijelaskan faktor-faktor personal yang mempengaruhi tindakan manusia, di mana terdapat faktor yang timbul dari dalam individu (faktor personal) dan faktor yang datang dari luar individu (faktor eviromental).
Kesimpulannya, jurnal ini menyoroti pentingnya pendidikan nilai moral, sosial, dan budaya dalam bentuk generasi muda yang bertanggung jawab, berakhlak mulia, dan memiliki jati diri yang kuat. Peran keluarga, sekolah, masyarakat dan agama sangat krusial dalam proses pendidikan ini. Melalui komunikasi yang setara dan multikulturalisme sebagai landasan untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan sejahtera.
Nama: Syahrani Harahap
NPM: 2313053216
Kelas: 3G
Judul jurnal ini “Pentingnya Pendidikan Nilai di Era Globalisasi”
Pada jurnal ini menguraikan permasalahan terkait krisis multidimensi di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan, yang gagal dalam mengembangkan nilai-nilai luhur dalam diri peserta didik. Tujuan utama pendidikan adalah menanamkan dan mengembangkan tata nilai dan moral, namun yang terjadi saat ini fokus pendidikan malah lebih condong pada aspek kognitif.
Globalisasi dan perkembangan teknologi membawa dampak yang besar terhadap perubahan budaya, nilai dan agama dalam masyarakat. Fenomena ini menyebabkan nilai-nilai yang sebelumnya dipegang erat, menjadi kalah dengan nilai-nilai baru, sehingga terjadi penyimpangan nilai. Nilai berfungsi untuk mengarahkan sikap dan perilaku, yang jika dihayati dapat menciptakan pribadi dengan budi pekerti luhur.
Jurnal ini menjelaskan bahwa globalisasi yang muncul saat ini tidak hanya berdampak negatif saja tetapi terdapat dampak positifnya, seperti terjadi transparansi dalam pemerintahan, terbukanya pasar internasional, dan peningkatan kesempatan kerja. Namun pengaruh negatifnya sangat terasa, seperti hilangnya cinta produk dalam negeri, pergeseran identitas nasional di kalangan anak muda, serta meningkatnya sifat individualisme dan kesenjangan sosial.
Jurnal ini menyoroti kegagalan pendidikan nilai di mana fenomena kekerasan masih marak terjadi di masyarakat, meskipun sudah ada pendidikan nilai di sekolah, menandakan kegagalan dalam sistem pendidikan tersebut. Faktor penyebab kegagalan pendidikan nilai antara lain: pendidikan di sekolah yang terlalu fokus pada proses formal, minim melibatkan aktifitas yang mendorong pemikiran kritis, refklektif dan kreatif, materi yang disampaikan juga masih secara masif tanpa memberikan peserta didik untuk benar-benar mendalami dan memahami nilai yang terkandung, dan anak-anak juga jarang terlibat dalam pengalaman nyang nyata.
Untuk mengatasi hal ini, pendidikan nilai perlu melibatkan pengalaman nyata agar peserta didik bisa menghayati dan menerapkan nilai-nilai dalam kehidupan mereka. Pengalaman langsung bisa dilakukan baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Pendidikan nilai juga bisa disampaikan melalui berbagai sarana, seperti cerita, lagu, nasihat, suasana doa, dan pertunjukan audio-visual. Serta pendidikan nilai juga harus di tanamkan sedari dini.
Kesimpulannya jurnal ini menekankan pentingnya pendidikan nilai yang holistik dan menyentuh aspek emosional, spiritual, serta moral peserta didik untuk menciptakan pribadi yang berkarakter di tengah tantangan globalisasi.