Posts made by Syahrani Harahap

Nama : Syahrani Harahap
NPM : 2313053216
Kelas : 3G
Judul jurnal ini adalah “Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini”
Pada bagian pendahuluan jurnal ini membahas mengenai pendidikan moral yang diberikan di berbagai macam lembaga pendidikan, salah satunya adalah di pendidikan anak usia dini. Pendidikan moral penting untuk ditanamkan pada anak usia dini agar karakter anak dapat berkembang dengan optimal. Pendidikan formal ini fokus terhadap pengembangan karakter, sikap dan perilaku peserta didik.
Jurnal ini membahas mengenai pengertian moral dari beberapa tokoh, salah satunya Menurut Sjarkawi, (2006: 28), mengemukakan bahwa moral merupakan pandangan tentang baik dan buruk, benar dan salah, apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan. Selain itu moral juga merupakan seperangkat keyakinan dalam suatu masyarakat berkenaan dengan karakter atau kelakuan dan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Selanjutnya jurnal ini membahas nilai-nilai moral, di mana nilai-nilai moral memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Nilai moral berkaitan dengan pribadi manusia yang tanggung jawab.
2. Berkaitan dengan hati nurani
3. Mewajibkan, nilai moral mewajibkan kita secara absolute dan tidak bisa ditawar-tawar.
4. Bersifat formal
Berikutnya jurnal ini membahas mengenai anak usia dini, anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Anak usia dini memiliki karakteristik tersendiri, di antaranya:
1. 0-1 tahun, anak mempelajari keterampilan motorik seperti, merangkak
2. 1-3 tahun, anak sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada di sekitarnya, mulai mengembangkan bahasa
3. 4-6 tahun, anak sangat aktif melakukan kegiatan, perkembangan kognitif sangat pesat.
Penanaman nilai moral pada anak usia dini dapat dilakukan dengan berbagai macam metode yaitu:
1. Dengan metode bermain, dengan bermain anak mampu bersosialisasi dengan orang lain.
2. Metode bercerita, melalui cerita dapat menyampaikan pesan-pesan atau informasi moral.
3. Metode pemberian tugas
4. Metode bercakap-cakap
Berikutnya jurnal ini membahas Cara Pelaksanaan Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini, penanaman nilai moral pada anak usia ini bisa dilakukan melalui jalur pendidikan formal seperti TK atau RA. pada jalur pendidikan formal dapat dilakukan melalui kegiatan pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan lingkungan bermain, kegiatan inti dan kegiatan penutup. atau pendidikan non formal seperti kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA). dan juga penanaman nilai moral bisa melalui jalur informal seperti keluarga, dan masyarakat.
Nama : Syahrani Harahap
NPM : 2313053216
Kelas : 3G
Judul jurnal ini adalah “PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL PADA SISWA DI SD NEGERI LAMPEUNEURUT”
Pada bagian pendahuluan, jurnal ini menyoroti moral bangsa Indonesia yang mengalami kemerosotan menyangkut persoalan kejujuran, kebenaran, dan keadilan. Kemerosotan moral ini perlu penanganan yang lebih intensif di mana perlu menanamkan nilai moral sedini mungkin. Pendahuluan ini juga menyoroti peran lingkungan terhadap pembentukan karakter anak. anak yang hidup pada kondisi lingkungan yang membentuk kepribadian baik tentu akan menjadi baik, begitu juga sebaliknya. kemudian jurnal ini menyampaikan hasil pengamatan di SD negeri Lampeuneurut, di SD tersebut penanaman nilai-nilai moral belum dilakukan oleh kebanyakan guru, banyak guru tidak memiliki pandangan yang jelas mengenai apa saja nilai moral yang harus diberikan kepada anak murid.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, subjek penelitian ini adalah 10 orang guru, teknik pengumpulan data dengan cara observasi dan wawancara.

Pada bagian hasil dan pembahasan, jurnal ini membahas mengenai hasil wawancara dan observasi di mana hasil wawancara menunjukkan penanaman nilai-nilai moral siswa, bahwa guru mendorong siswa untuk memperdalam agama di tempat-tempat pengajian seperti TPA dan pesantren, bukan hanya di sekolah saja. Guru menanamkan nilai-nilai moral seperti sopan santun, tanggung jawab, dan kejujuran dalam keseharian siswa, baik di dalam maupun di luar kelas. Cara ini dilakukan dengan memberikan contoh langsung melalui sikap dan tindakan guru. Guru juga menanamkan nilai-nilai moral di setiap mata pelajaran yang diajarkan.
Dan hasil wawancara dan observasi guru sudah menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa Karena secara keseluruhan dari observasi menunjukkan 64% adalah ya. Sedangkan yang tidak menanamkan nilai-nilai moral 36%. Observasi menunjukkan bahwa nilai moral yang cukup efektif ditanamkan meliputi kebiasaan berdoa, menghargai perbedaan pendapat, tanggung jawab piket, dan kejujuran dalam mengerjakan tugas. Praktik-praktik ini memperkuat kedisiplinan, rasa tanggung jawab, dan penghargaan terhadap sesama, yang penting dalam membentuk moral anak secara menyeluruh. Namun ada beberapa nilai moral seperti tata tertib baris-berbaris, kesetaraan gender, dan menjaga lingkungan hidup belum cukup ditanamkan.
Dapat disimpulkan bahwa guru di SD Negeri Lampeuneurut sudah menanaman nilai-nilai moral kepada siswanya, nilai-nilai yang ditanamkan adalah nilai agama (religius), kejujuran, kemandirian, kesetaraan gander, keadilan, tanggung jawab, sosialitas, daya juang, hidup sehat dan sopan santun. Penanaman nilai-nilai moral ini juga harus di lakukan secara berkesinambungan (rumah, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah) agar menjadikan siswa mempunyai moral yang baik.
Nama : Syahrani Harahap
NPM : 2313053216
Kelas : 3G
Pada video ini menjelaskan mengenai pendidikan moral yaitu tanggung jawab diri dalam keluarga.
Contoh-contoh dari tanggung jawab diri dalam keluarga
1. Mendengar nasihat ayah/orang tua, kita sebagai seorang anak harus mendengar nasihat ayah karena ayah tahu yang mana baik dan buruk untuk kehidupan kita.
2. Membantu ibu, kita harus bertanggung jawab dengan membantu ibu seperti membantu mencuci piring, mengelap kaca dan lain-lain.
3. Menemani kakak, kita bisa menemani kakak saat bepergian untuk menjaga keselamatan terhindar dari bahaya.
4. Menjaga keselamatan adik
Pada video ini juga menjelaskan bahwa tanggung jawab itu penting dalam keluarga, karena dengan tanggung jawab hubungan kita dengan keluarga akan menjadi erat, harmonis dan aman.
Contohnya:
1. Pergi berjumpa dengan nenek, dengan cara ini akan membangun hubungan keluarga menjadi erat.
2. Kunci pintu pagar, dengan melakukan tanggung jawab ini keselamatan keluarga terjamin.
3. Menolong nenek di dapur, dengan sikap seperti ini kita akan meringankan tugas keluarga.
4. Membanggakan keluarga, kita harus bertanggung jawab dengan belajar yang rajin sehingga dapat membanggakan keluarga
Dan dengan melaksanakan tanggung jawab, kita akan merasa senang, bangga, dan bahagia.
Nama : Syahrani Harahap
NPM : 2313053216
Kelas : 3G
Judul jurnal ini adalah “Penerapan Model Moral Reasoning Untuk Meningkatkan Keberanian Mengemukakan Pendapat Dan Mengambil Keputusan Pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kelas VIII Smp Nu Nurul Huda Pakis Kabupaten Malang”
Pada bagian pendahuluan jurnal ini mengungkapkan pentingnya peran guru dalam proses pembelajaran, khususnya dalam kurikulum berbasis kompetensi. Guru tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan berperan sebagai motivator, fasilitator, dan mediator. Pada bagian pendahuluan jurnal ini juga mengkritik metode ceramah yang umum digunakan karena dengan metode ini cenderung membuat siswa pasif. Karena pembelajaran didominasi oleh guru dan siswa hanya sekedar mendengarkan dan mencatat tanpa adanya interaksi yang aktif. Pendahuluan ini menekankan perlunya perubahan pendekatan pembelajaran yang lebih partisipatif dan interaktif. Model moral reasoning diusulkan sebagai solusi untuk meningkatkan keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat serta keterampilan guru dalam mengelola kelas.
Pada bagian metode penelitian, dalam pengumpulan data penulis menggunakan beberapa teknik yaitu: teknik observasi, teknik wawancara, teknik dokumentasi, dan teknik tes. Prosedur dalam penelitian tindakan kelas ini juga menggunakan 3 siklus dan masing-masing siklus melalui 4 tahapan, meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan dan refleksi tindakan.
Pada bagian hasil penelitian, disini penulis mengungkapkan hasil penelitian dari siklus pertama sampai siklus ketiga. Pada siklus pertama, guru dan siswa belum terbiasa dengan model moral reasoning. Akibatnya, aktivitas siswa masih rendah, terutama dalam mengemukakan pendapat (23%) dan mengambil keputusan (20%). Namun, kemampuan menghargai orang lain (43%) dan bekerjasama (50%) cukup baik. Guru juga masih kesulitan menggunakan model ini, sehingga perlu perbaikan dalam motivasi dan penguasaan model. Siklus kedua, setelah diberi motivasi lebih, aktivitas siswa meningkat. Kemampuan mengemukakan pendapat naik jadi 57%, mengambil keputusan 43%, menghargai orang lain 73%, dan bekerjasama 77%. Guru juga lebih baik dalam mengelola kelas dan menggunakan model moral reasoning. Hasilnya, pembelajaran berjalan lebih lancar. Pada siklus ketiga, aktivitas siswa dalam semua aspek meningkat pesat. Siswa sudah lebih terbiasa dengan model moral reasoning dan mampu bekerja sama serta menghargai pendapat orang lain dengan sangat baik. mengemukakan pendapat (80%) dan mengambil keputusan (73%). kemampuan menghargai orang lain (93%) dan bekerjasama (100%).
Kesimpulannya bahwa ada peningkatan aktivitas siswa melalui penerapan model moral reasoning pada mata pelajaran PPKn siswa kelas VIII SMP NU Nurul Huda Pakis Kabupaten Malang Penerapan model moral reasoning berhasil meningkatkan keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat, mengambil keputusan, bekerjasama, dan menghargai orang lain. Meskipun pada awalnya guru dan siswa mengalami kesulitan, melalui perbaikan pada siklus kedua dan ketiga, hasil pembelajaran semakin baik.
Nama : Syahrani Harahap
NPM : 2313053216
Kelas : 3G
Judul jurnal ini adalah “Pengembangan Moral Anak Di Lingkungan Lokalisasi Pasar Kembang TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta”
Jurnal ini tujuannya adalah untuk mengungkapkan pengembangan dan perkembangan moral anak TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta.
Bagian pendahuluan jurnal ini menjelaskan pentingnya pendidikan anak usia dini dalam membentuk karakter dan moral anak. Pada usia ini, anak-anak peka dan mudah menyerap informasi, sehingga pendidik berperan sebagai filter dalam mengajarkan nilai-nilai baik dan buruk. Pendidikan anak usia dini mendukung perkembangan jasmani dan rohani anak untuk persiapan pendidikan selanjutnya, mencakup aspek intelektual, sosial, emosional, bahasa, dan fisik. Pengembangan moral dianggap krusial dan dilakukan melalui metode bercerita, bernyanyi, pembiasaan, dan keteladanan. Evaluasi pendidikan karakter mengukur perkembangan moral anak di sekolah dan rumah, melibatkan guru, orang tua, dan teman sebaya.
Penelitian yang dilakukan penulis jurnal ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, data yang dikumpulakan melalui tiga cara yaitu: observasi, wawancara dan dokumentasi.
Pada bagian Hasil pembahasan jurnal ini menunjukkan bahwa pendidikan moral di TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta dijalankan secara formal dan terintegrasi dengan kegiatan harian, tetapi kurang optimal karena tidak adanya ruang khusus untuk pengembangan moral. Fokus utama sekolah adalah pengembangan intelektual, dengan tambahan jam calistung, sehingga orang tua lebih memilih sekolah ini untuk kemampuan akademis anak. Lingkungan sekitar yang tidak ideal berpotensi memberikan dampak negatif, meskipun interaksi dengan hal tersebut diminimalkan. Metode yang digunakan meliputi pembiasaan, keteladanan, bercerita, dan bernyanyi. Pembiasaan dilakukan melalui doa, salam, dan berbagi saat makan. Evaluasi dilakukan melalui observasi dan melibatkan orang tua, tetapi evaluasi lebih fokus pada hasil daripada proses belajar. Dilihat dari ketidak sabaran guru dalam memberikan bantuan, dapat mengurangi kesempatan anak untuk belajar mandiri. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih seimbang antara hasil dan proses untuk mencapai pengembangan moral yang optimal.
Kesimpulannya jurnal ini menunjukkan bahwa meskipun pendidikan moral diterapkan melalui metode pembiasaan, keteladanan, dan kegiatan lainnya, pengembangannya masih kurang optimal. Fokus utama TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta pada aspek akademis dan lingkungan yang tidak ideal menghambat perkembangan moral anak. Evaluasi lebih berorientasi pada hasil ketimbang proses, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih seimbang untuk mencapai pengembangan moral yang optimal bagi anak.