Kiriman dibuat oleh Hesti Badria

PGSD_PIPSSD_G_2024/2025 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 7

oleh Hesti Badria -
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama : Hesti Badria
Npm : 2313053206
Dari kelompok 5 izin bertanya menurut anda Apakah penerapan model pencapaian konsep lebih efektif dalam mengajarkan topik-topik seperti keragaman budaya dibandingkan dengan model pembelajaran langsung? Jelaskan implikasi penerapan model ini terhadap kemampuan siswa dalam mengaitkan konsep-konsep tersebut dengan kehidupan sehari-hari.

PGSD_PIPSSD_G_2024/2025 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 8

oleh Hesti Badria -
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Nama : Hesti Badria
NPM : 2313053206
Dari kelompok 5 izin bertanya Bagaimana integrasi sumber pembelajaran dari berbagai media (digital, cetak, visual) dapat mengubah cara siswa memahami konsep-konsep abstrak dalam IPS, seperti globalisasi atau demokrasi? Berikan argumen berdasarkan teori pembelajaran.

PGSD_PIPSSD_G_2024/2025 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 5

oleh Hesti Badria -
Tujuan utama dari pembelajaran IPS di Sekolah Dasar dalam kurikulum terbaru adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar mereka menjadi warga negara yang mampu bersosial dengan baik dan memiliki keyakinan akan kehidupannya di masyarakat. Tujuan ini mencakup beberapa aspek, yaitu:

1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya
2. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial
3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
4. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan berkompetensi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global

Pembelajaran IPS juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa sadar akan tanggung jawab dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta melatih keterampilan peserta didik dalam mengidentifikasi dan menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi.
Nama : Hesti Badria
NPM : 2313053206

Kekerasan di lingkungan sekolah, terutama yang melibatkan penganiayaan antar siswa, merupakan masalah serius yang memerlukan perhatian mendalam dari pihak sekolah, orang tua, serta masyarakat luas. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus tragis telah mencuat, di mana anak-anak meninggal dunia akibat konflik fisik dengan teman sebayanya di sekolah.
Pada September 2015, seorang siswa kelas 2 Sekolah Dasar (SD) di Kebayoran Lama, Jakarta, meninggal dunia setelah berkelahi dengan teman sekelasnya. Awalnya, peristiwa ini diduga dimulai dari perkelahian mulut yang kemudian berlanjut ke kekerasan fisik di lingkungan sekolah. Kasus ini menunjukkan bagaimana konflik kecil antar siswa bisa berkembang menjadi tragedi serius bila tidak segera dicegah atau diintervensi.
Pada Agustus 2017, kasus serupa terjadi di Sukabumi, Jawa Barat, di mana seorang siswa kelas 2 SD meninggal dunia setelah mengalami perkelahian di halaman sekolah. Dugaan awal menyebutkan bahwa korban telah dirundung dan bahkan dilempar dengan minuman beku oleh pelaku. Kasus ini semakin mempertegas urgensi penanganan kasus bullying di sekolah.
Pada bulan November 2017 di Bandung, Jawa Barat, terjadi duel antara siswa kelas 2 SD dengan siswa kelas 5 SD saat perlombaan senam dalam rangka Hari Guru. Insiden ini dipicu oleh gangguan dari korban yang diduga menyalakan motor bising, yang mengganggu pelaku. Akibatnya, perkelahian ini berujung pada kematian salah satu siswa.

Kasus-kasus tersebut menyoroti betapa pentingnya peran pengawasan dari pihak guru dan orang tua. Ketiadaan pengawasan yang memadai di lingkungan sekolah bisa menyebabkan siswa merasa bebas melakukan apa saja, termasuk tindakan kekerasan. Tanpa arahan dan kontrol yang cukup, perilaku agresif atau tindak kekerasan antar siswa bisa saja bereskalasi hingga menyebabkan hilangnya nyawa. Pengawasan yang ketat, baik dari pihak sekolah maupun orang tua, serta pendidikan karakter yang menanamkan empati, sikap saling menghargai, dan pengendalian diri sangat dibutuhkan untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.
Nama : Hesti Badria
NPM : 2313053206

Pada jurnal "Pentingnya Pendidikan Nilai di Era Globalisasi" mengkaji fenomena globalisasi yang berdampak signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan sehari-hari, khususnya di bidang sosial, agama, dan ekonomi. Globalisasi telah menyebabkan munculnya sekularisme dan fundamentalisme yang dapat berdampak pada lunturnya nilai-nilai tradisional dalam masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.
Dalam konteks ini, jurnal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama menjadi semakin penting untuk dimulai sedini mungkin. Pendidikan nilai berfungsi sebagai kompas moral yang membantu individu mengembangkan karakter moral, kesadaran sosial, dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma masyarakat. Hal ini terutama penting dalam periode globalisasi, karena pengaruh asing, seperti agama asing dan gaya hidup modern, dapat memengaruhi cara generasi muda hidup dan bekerja.
Globalisasi sering kali merusak keyakinan individualistis dan materialistis. Karena itu,Globalisasi sering kali meruntuhkan keyakinan individualistis dan materialistis. Oleh karena itu, jurnal ini bertujuan untuk memajukan pendidikan dengan memperkuat nilai-nilai seperti empati, empatia, kejujuran, dan gotong royong, yang dianggap sebagai dampak negatif globalisasi. Pendidikan nonformal tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu mengembangkan karakter dan nilai-nilai yang kuat sehingga generasi mendatang dapat dengan mudah beradaptasi dengan perubahan global dengan prinsip-prinsip moral yang baik.