Kiriman dibuat oleh Hesti Badria

Nama : Hesti Badria
NPM : 2313053206

Dari vidio tanggung jawab diri dalam keluarga di katakan bahwa, di dalam keluarga kita bisa menjadi anak yang bertanggung jawab dengan, menuruti nasihat ayah,membantu ibu, menemani kakak, dan menjaga keselamatan adik.
dari vidio tersebut juga menjelaskan mengapa tanggung jawab dalam keluarga itu penting yaitu agar hubungan keluarga menjadi lebih erat, keselamatan keluarga terjamin, meringankan tugas keluarga dan kita dapat membanggakan keluarga.
Nama : Hesti Badria
NPM : 2313053206

Pendekatan pengembangan nilai moral dan keagamaan di taman kanak-kanak sangat penting karena masa ini merupakan periode kritis dalam perkembangan karakter anak. Menanamkan nilai-nilai ini sejak dini dapat memengaruhi sikap dan perilaku mereka hingga dewasa. Dalam konteks ini, peran pendidik sangat vital untuk memberikan pengaruh positif melalui berbagai kegiatan, terutama yang bersifat bermain.

Pendidik dapat melakukan berbagai program untuk mengembangkan konsep diri anak, seperti menanamkan kepercayaan diri, kerapihan dalam perilaku sehari-hari, dan kesopanan dalam berkomunikasi. Selain itu, pendidikan agama juga perlu ditekankan, misalnya melalui kebiasaan berdoa sebelum makan, yang membantu anak mengingat dan menghargai pemberian Tuhan.

Metode pengajaran yang efektif termasuk bercerita dengan tema yang relevan dan menyenangkan, serta kegiatan seni yang dapat memperkenalkan nilai-nilai moral dan keagamaan. Kegiatan bermain peran juga sangat bermanfaat, karena memungkinkan anak untuk menghayati dan memahami perilaku positif serta belajar berempati.

Kegiatan di luar kelas, seperti kunjungan ke lingkungan sekitar, memberikan pengalaman langsung yang memperkaya pembelajaran mereka. Melalui diskusi dan integrasi pengalaman tersebut dalam kelas, anak dapat belajar bersosialisasi dan mengenal budaya setempat.

Artinya dengan memberikan lingkungan yang mendukung dan menyenangkan, pendidik dapat membantu anak mengembangkan potensi mereka dan membentuk dasar karakter yang baik untuk masa depan.
Nama : Hesti Badria
NPM : 2313053206

Model pembelajaran Market Place Activity merupakan dalah model pembelajaran yang isinya jual beli informasi di dalam kelas seperti di sebuah pasar yang membuat sebuah prodak lalu di perjual belikan.
Ada 5 tahap pada proses penerapan model pembelajaran ini :
1. Tahap Pembagian Kelompok
2. Tahap Pembuatan Produk
- Di sini, siswa ditugaskan untuk membuat poster yang mencakup materi tentang rukun jual beli.Dengan tidak lebih dari lima kata atau simbol, untuk memudahkan komunikasi saat menjelaskan kepada kelompok lain. Siswa menggunakan bahan seperti karton untuk membuat poster tersebut.
- Selama proses ini, guru memberikan bimbingan dan pengawasan, memastikan bahwa siswa memahami materi dan cara menyampaikannya.
3. Proses Jual Beli
- Dalam tahap ini, siswa berperan sebagai penjaga stand yang menjelaskan isi poster kepada kelompok lain. Anggota kelompok lain berkeliling untuk membeli poster dan mendapatkan informasi dari stand yang berbeda.
- Dan menurut saya aktivitas ini mendorong siswa untuk berlatih komunikasi dan presentasi serta memperdalam pemahaman mereka tentang materi yang dipelajari.
4. Berbagi Informasi
- Setelah membeli informasi dari kelompok lain, siswa kembali ke kelompok mereka. Mereka berbagi informasi yang telah diperoleh dengan anggota kelompok yang bertugas sebagai penjaga stand.
- Tahap ini penting untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok mendapatkan informasi yang sama dan dapat mendiskusikannya lebih lanjut.
5. Tahap Konfirmasi
- Di tahap akhir, guru melakukan konfirmasi untuk memastikan bahwa informasi telah tersampaikan dengan baik dari satu kelompok ke kelompok lain. Guru juga memberikan umpan balik, penguatan, dan kesimpulan mengenai materi yang telah diajarkan.
- Hal ini membantu siswa merefleksikan apa yang telah mereka pelajari dan memastikan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi.

Sehingga dapat saya simpulkan manfaat Model Pembelajaran Market Place Activity ini yaitu :
- Keterlibatan Siswa : Siswa lebih aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
- Pengembangan Keterampilan Komunikasi : Siswa belajar cara menyampaikan informasi secara jelas dan efektif.
- Pembelajaran Kolaboratif : Siswa belajar bekerja sama dalam kelompok dan menghargai kontribusi masing-masing.
- Penerapan Materi : Siswa dapat menerapkan konsep teoritis dalam situasi praktis, memperkuat pemahaman mereka.

Dan model pembelajaran ini sangat efektif untuk materi yang melibatkan interaksi sosial dan pemahaman konsep, seperti rukun jual beli. Dengan melibatkan siswa dalam aktivitas yang menarik dan interaktif, diharapkan mereka dapat lebih mudah memahami dan mengingat materi yang diajarkan.
Nama : Hesti Badria
NPM : 2313053206

Jurnal tersebut membahas cara meningkatkan keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan di kelas melalui metode moral reasoning atau penalaran moral. Tujuan utama dari penelitian ini adalah membuat siswa lebih aktif, terutama dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Dengan metode ini, siswa diajak untuk berdiskusi tentang masalah-masalah moral yang rumit, yang disebut dilema moral. Mereka harus memberikan pendapat dan mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai moral yang mereka pelajari.

Dan pada hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah metode ini diterapkan dalam tiga siklus pembelajaran, keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan meningkat secara signifikan. Di awal penelitian, hanya sedikit siswa yang berani berbicara di kelas. Namun, setelah metode moral reasoning diterapkan, lebih banyak siswa yang mulai berani menyampaikan pendapatnya. Pada siklus ketiga, sekitar 80% siswa sudah aktif berbicara, sementara kemampuan mengambil keputusan juga meningkat menjadi 73%.
Keberhasilan metode ini sangat bergantung pada peran guru. Guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendorong dan pendukung siswa dalam proses belajar. Guru perlu memotivasi siswa, memberikan ruang bagi mereka untuk berbicara, serta memastikan suasana diskusi yang kondusif. Setelah beberapa siklus, guru semakin mahir dalam menggunakan metode ini, sehingga suasana kelas menjadi lebih hidup dan interaktif.

Setelah setiap siklus, guru dan peneliti melakukan evaluasi untuk melihat kekurangan yang perlu diperbaiki. Pada awalnya, ada beberapa tantangan seperti siswa yang masih malu-malu dan guru yang belum terbiasa dengan metode ini. Namun, dengan refleksi dan perbaikan di setiap siklus, partisipasi siswa meningkat dan guru lebih efektif dalam mengelola kelas.

Sehingga pada keseluruhan, menunjukkan bahwa metode moral reasoning sangat membantu dalam mengembangkan keberanian siswa untuk berbicara dan berpikir kritis. Selain itu, siswa juga belajar untuk bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, dan membuat keputusan yang baik. Metode ini menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif, di mana siswa aktif berpikir dan berdiskusi.
Nama : Hesti Badria
NPM : 2313053206

Pada jurnal tersebut membahas tentang bagaimana TK PKK Sosrowijayan di Yogyakarta mengembangkan moral anak-anak, meskipun lokasinya berada di area lokalisasi Pasar Kembang yang tidak ideal untuk pendidikan anak. Meskipun begitu, sekolah telah berhasil mengajarkan nilai-nilai moral yang penting, meski menghadapi tantangan dari lingkungan sekitar.
Pengembangan moral di sekolah dilakukan dengan cara-cara seperti memberikan contoh perilaku baik, membiasakan anak untuk berbuat hal positif, bercerita, dan bernyanyi lagu-lagu yang mengandung pesan moral. Nilai-nilai yang diajarkan meliputi hal-hal seperti cinta kepada Tuhan, kejujuran, tolong menolong, tanggung jawab, dan sikap hormat. Semua ini disesuaikan dengan tahap perkembangan anak usia dini.
Evaluasi perkembangan moral anak dilakukan setiap hari melalui observasi langsung oleh guru, tanpa menggunakan lembar penilaian formal. Orang tua juga dilibatkan untuk mendukung perkembangan moral ini di rumah, sehingga ada kesinambungan antara pendidikan di sekolah dan di rumah.

Tetapi salah satu masalah utama yang dihadapi adalah lingkungan sekitar sekolah yang terletak di area lokalisasi, yang bisa memberikan pengaruh negatif bagi anak-anak. Meskipun anak-anak tidak berinteraksi langsung dengan lingkungan tersebut, mereka tetap bisa melihat hal-hal yang tidak pantas, seperti tulisan-tulisan dewasa atau orang-orang yang berperilaku tidak baik. Sekolah mencoba menjelaskan fenomena-fenomena ini kepada anak dengan cara yang sederhana, tetapi tetap saja ini menjadi tantangan.
Dan pada kesimpulannya, sekolah sudah melakukan banyak hal baik dalam mengajarkan moral kepada anak-anak, tetapi lingkungan sekitar yang tidak mendukung menjadi hambatan. Oleh karena itu, penulis artikel menyarankan agar sekolah dipindahkan ke tempat yang lebih baik untuk mendukung perkembangan moral anak yang lebih optimal.