Kiriman dibuat oleh Ummu Hafifah

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal

oleh Ummu Hafifah -

Nama: Ummu Hafifah

Kelas: 3F

Npm: 2313053171

HASIL ANALISIS JURNAL "PENDIDIKAN DAN NILAI MORAL DALAM SISTEM KURIKULUM PENDIDIKAN DI ACEH"

ABSTRAK

Peranan pendidikan di Aceh adalah membentuk moral dan budi pekerti peserta didik dengan menyelenggarakan pendidikan yang berlandaskan Islam yang tidak hanya mengikuti standar nasional tetapi juga memuat nilai-nilai Islam sesuai dengan Qanun Aceh. Pendidikan ini menitikberatkan pada keterusterangan, tanggung jawab, keteladanan, dan penerapan kurikulum yang sejalan dengan ajaran Islam sehingga proses pembelajaran di Aceh cenderung ke arah budaya Islam yang berbasis syariah.

PENDAHULUAN

Pendidikan di Aceh berperan penting dalam membentuk moral siswa dan menghadapi perubahan sosial yang cepat dengan mengintegrasikan hukum Islam ke dalam sistem, sesuai dengan UU No.44 tahun 1999 dan UU No.18 tahun 2001. Pemerintah Aceh telah menerapkan peraturan daerah sebagai berikut: Qanun Aceh No. 23 tahun 2002 dan No. 9 tahun 2015 bertujuan untuk melahirkan generasi muda yang mempunyai kemampuan akademik tinggi dan berakhlak mulia. Di tengah perubahan sosial, lembaga pendidikan  Aceh berperan aktif dalam menjaga moral generasi muda sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya lokal. Dengan melakukan hal tersebut, mereka melatih generasi muda yang siap dengan tantangan global dengan prinsip-prinsip Islam yang kuat.

TINJAUAN LITERATUR

Pendidikan nilai dan moral menitikberatkan pada pengamalan moralitas melalui tindakan nyata dengan nilai-nilai moral yang terlihat (Lickona, 2004). Di Indonesia, nilai-nilai seperti religiusitas dan kejujuran dipadukan ke dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler (Kemendiknas, 2010), dan di Aceh, kurikulum nasional dipadukan dengan pendidikan Islam dan muatan lokal. Pendidikan nilai harus diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran dan kegiatan, dengan komunikasi nilai yang berkesinambungan dan peran penting guru (Sutiyono, 2013). Dalam Islam, moralitas terdiri dari Hikmah, shaja”ah, Iffah, dan Adl, yang memandu hubungan baik dengan Tuhan dan masyarakat serta mendorong perilaku positif.

PEMBAHASAN

Pendidikan di Aceh didasarkan pada Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 yang memadukan kurikulum Islam dengan muatan lokal seperti bahasa daerah dan sejarah Aceh, untuk membentuk generasi  berakhlak mulia, mengedepankan hak asasi manusia dan kearifan local budaya. Kurikulum ini telah diterapkan sejak tahun 2018 dengan fokus memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam pendidikan, namun kendala besar seperti  infrastruktur yang belum berkembang dan kurangnya pemahaman mengakibatkan terbatasnya penerapan kurikulum ini. Pendekatan pendidikan ini mencakup kegiatan ekstrakurikuler budaya Aceh yang memperkuat identitas budaya dengan tetap berpegang pada syariat Islam, serta siswa berdasarkan prinsip transparansi dan adaptasi terhadap teknologi dan Revolusi Industri 4.0. termasuk dukungan pendampingan untuk pengembangan karir. Meski sesuai dengan peraturan pemerintah, namun integrasi nilai-nilai Islam ke dalam muatan pendidikan masih belum konsisten dan seperti kurikulum 2013 seringkali hanya mencakup aspek umum saja. Pendidikan di Aceh terus berupaya untuk menyelaraskan visi sekolah, strategi pembelajaran, dan muatan lokal berbasis syariat Islam guna memperkuat identitas dan keberlanjutan masyarakat.

KESIMPULAN

Pendidikan di Aceh berpatokan pada Qanun Nomor 9 Tahun 2015 dan berpedoman pada ajaran Islam. Sistem pendidikan di Aceh menekankan transparansi, akuntabilitas, keteladanan, budaya Islami, dan kurikulum Islami, serta berfokus pada nilai-nilai dan syariat Islam dalam proses pembelajarannya.

2024/2F/BP -> Diskusi 2

oleh Ummu Hafifah -
Nama: Ummu Hafifah
NPM: 2313053171
Strategi untuk meningkatkan partisipasi siswa yang pasif dalam pembelajaran inkuiri di kelas rendah melibatkan beberapa pendekatan yang terfokus pada pembimbingan, interaksi, penggunaan sumber belajar, dan evaluasi. Pertama, guru dapat mengarahkan siswa pada proses penemuan dengan memberikan bimbingan kepada siswa yang membutuhkan, sambil memastikan bahwa semua siswa merasa didukung dan diperhatikan, sehingga semangat belajar mereka meningkat.

Kedua, menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing memungkinkan guru untuk memberikan bimbingan kepada siswa yang membutuhkan, sementara siswa lainnya tetap dapat aktif dalam mengeksplorasi pengetahuan melalui proses penemuan.

Ketiga, guru dapat meningkatkan partisipasi siswa dengan menggunakan aktivitas yang lebih interaktif seperti diskusi, eksperimen, dan observasi. Ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih menarik tetapi juga merangsang keterlibatan siswa yang pasif.

Keempat, mengarahkan siswa pada penggunaan sumber belajar yang lebih interaktif seperti tabel dan gambar dapat membantu memperkuat partisipasi siswa dan membuat mereka lebih bersemangat untuk belajar.

Terakhir, menggunakan evaluasi yang lebih efektif memungkinkan guru untuk menilai tingkat pemahaman dan kemampuan siswa serta menyesuaikan pembelajaran sesuai kebutuhan individu mereka, sehingga meningkatkan partisipasi siswa secara keseluruhan.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang merangsang partisipasi aktif dari semua siswa, termasuk yang pasif, dan mencapai hasil belajar yang lebih baik dalam pembelajaran inkuiri di kelas rendah.

2024/2F/BP -> Diskusi 1

oleh Ummu Hafifah -
Nama: Ummu Hafifah
NPM: 2313053171

Pembelajaran inkuiri memiliki kelebihan dalam mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif karena melibatkan eksplorasi mandiri. Namun, kekurangannya adalah membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai pemahaman yang mendalam. Sedangkan pembelajaran kooperatif cenderung memperkuat keterampilan sosial siswa dan memungkinkan mereka untuk belajar dari satu sama lain, namun bisa terbatas dalam mengembangkan kemampuan mandiri.