གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ NILUH AYUNING RATIH EP_2311011012

Manajemen B MKU Pancasila -> Forum Analisis Jurnal

NILUH AYUNING RATIH EP_2311011012 གིས-
Nama : Niluh Ayuning Ratih
Npm : 2311011012

berdasarkan analisis jurnal “ PENDIDIKAN PANCASILA, EKSISTENSINYA BAGI MAHASISWA” membahas pentingnya pendidikan Pancasila di perguruan tinggi dan pengamalan nilai-nilai Pancasila oleh mahasiswa. Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi penting untuk menjaga nilai-nilai Pancasila dan membentuk karakter positif pada generasi muda, terutama mahasiswa. Ini penting karena Pancasila adalah dasar negara Indonesia. Mahasiswa diajak untuk mengamalkan Pancasila melalui pendidikan dan keanggotaan organisasi, dengan tujuan menciptakan mahasiswa yang memahami dan menerapkan norma Pancasila. Selain itu, pendidikan Pancasila harus terus dikembangkan sesuai kebutuhan negara dan masyarakat.

Manajemen B MKU Pancasila -> Forum Analisis Video

NILUH AYUNING RATIH EP_2311011012 གིས-
Nama : Niluh Ayuning Ratih
Npm : 2311011012
berikut ini adalah hasil analisis dari video :

pada video ini memperkenalkan nilai-nilai dasar Pancasila Indonesia secara global untuk membangun pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar negara.

Bung Karno membaca Pancasila di luar negeri sebagai langkah diplomasi yang strategis, menggambarkan pemahaman pentingnya hubungan positif dengan negara-negara lain melalui diplomasi. hal ini memperkuat posisi internasional, ini bertujuan untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional, mencapai pengakuan global untuk Pancasila, dan memperkuat hubungan bilateral. video pidato soekarno menekankan sifat simbolis diplomatis yang signifikan, yang memengaruhi persepsi internasional terhadap Indonesia.

Manajemen B MKU Pancasila -> Forum Analisis Video-2

NILUH AYUNING RATIH EP_2311011012 གིས-
Nama : Niluh Ayuning Ratih
Npm : 2311011012

1. Sebagai mahasiswa, saya melihat tragedi Bom Bali 2002 yang menimbulkan banyak korban bertentangan dengan nilai agama dan nilai luhur bangsa. Agama mengajarkan tidak boleh saling menyakiti, dan selalu menebarkan kedamaian, sedangkan nilai luhur bangsa menekankan kebersamaan. tragedi ini menjadi sebuah pelajaran untuk kita semua, yaitu harus berpegang teguh kepada nilai agama dan nilai luhur bangsa serta nilai yang terkandung dalam pancasila.

2. Para pelaku melanggar sila Pancasila 1, 2, dan 3. Sila pertama tentang "Ketuhanan YME" tidak mengajarkan terorisme. Sila kedua, "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab," terancam oleh tragedi ini karena banyak korban yang tidak bersalah. Sila ketiga, "Persatuan Indonesia," terganggu oleh kejadian ini. Pelaku harus dihukum sesuai undang-undang, dan hukum harus ditegakkan.

Manajemen B MKU Pancasila -> Forum Analisis Soal-1

NILUH AYUNING RATIH EP_2311011012 གིས-
Nama : Niluh Ayuning Ratih
Npm : 2311011012
1. Dalam tragedi G30S/PKI, penyimpangan terhadap Pancasila terjadi melalui pembunuhan massal dan penghilangan paksa, yang melanggar sila ke-2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) dan sila ke-3 (Persatuan Indonesia). Hikmah dari tragedi ini adalah pentingnya menjaga persatuan dan pemberdayaan masyarakat dalam politik.

2. Keputusan melalui musyawarah untuk mufakat dicapai melalui diskusi, memungkinkan masukan dari berbagai pihak dan mendorong toleransi serta penghargaan terhadap pendapat orang lain. Kendala umumnya adalah adanya perdebatan akibat perbedaan pendapat.

3. Rendahnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila di masyarakat Indonesia dewasa disebabkan oleh jarak waktu dari pendidikan formal dan pengaruh budaya luar yang populer di Indonesia, yang mengarah pada lupakan nilai-nilai Pancasila.

Manajemen B MKU Pancasila -> Forum Analisis Video-2

NILUH AYUNING RATIH EP_2311011012 གིས-
Nama : Niluh Ayuning Ratih
Npm : 2311011012
Video ini menggambarkan Peristiwa Rengasdengklok yang terjadi pada tanggal 14 Agustus 1945, saat Jepang menyerah kepada sekutu. Ini memicu perdebatan antara golongan muda yang ingin percepatan proklamasi kemerdekaan Indonesia dan golongan tua yang menginginkan proses yang lebih terstruktur. Pemuda, dipimpin oleh Sukarni, Wikana, dan Chaerul Saleh, menculik Soekarno-Hatta untuk menjaga mereka dari pengaruh pemerintah Jepang. Setelah perundingan di Jakarta, kesepakatan dicapai untuk mengumumkan proklamasi kemerdekaan di Jakarta. Soekarno-Hatta kemudian merumuskan proklamasi ini dan menyerahkannya kepada Sayuti Melik. Indonesia akhirnya mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.