Nama: Wilda Tajkia
NPM: 2313053163
A. Identitas Jurnal
1. Nama Jurnal: Jurnal Humanika
2. Nomor: 1
3. Halaman: 1-11
4. Tahun Terbit: 2017
5. Judul Artikel: Pendidikan Moral di Sekolah
6. Nama Penulis: Rukiyati
B. Abstrak Jurnal
Abstrak jurnal ini menekankan pentingnya pelaksanaan pendidikan moral secara komprehensif di sekolah. Pendidikan moral bertujuan membentuk generasi yang unggul secara intelektual dan bermoral. Tanggung jawab pendidikan moral terletak pada sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Fokus utama adalah menciptakan desain pendidikan moral yang mencakup pendidik, materi, metode, dan evaluasi secara optimal.
C. Pendahuluan Jurnal
Bagian pendahuluan jurnal ini menyoroti pentingnya pendidikan moral di sekolah sebagai bagian dari upaya membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki nilai-nilai moral yang baik. Sekolah, sebagai bagian dari lingkungan mikrosistem individu, memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan siswa, terutama karena peran signifikan guru dan lingkungan sekolah dalam membentuk karakter. Pendidikan moral di sekolah dipandang sebagai kebutuhan yang mendesak, mengingat besarnya harapan orang tua dan masyarakat terhadap institusi pendidikan untuk membimbing anak-anak menjadi pribadi yang pintar dan bermoral. Selain itu, pendidikan moral dianggap sejalan dengan tujuan utama pendidikan menurut pandangan Aristoteles, yaitu membangun manusia yang unggul secara keseluruhan. Untuk itu, diperlukan pendekatan pendidikan moral yang komprehensif, mencakup berbagai aspek seperti pendidik, materi, metode, dan evaluasi agar hasilnya dapat optimal.
D. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan yaitu kajian teori yang disintesis dengan hasil penelitian lapangan. Teori diambil dari pandangan pakar seperti Kirschenbaum, Lickona, dan Darmiyati Zuchdi. Data lapangan didapatkan dari penelitian sebelumnya (2012) di sebuah sekolah dasar Islam di Sleman.
E. Hasil dan Pembahasan
Bagian hasil dan pembahasan jurnal ini menguraikan dengan rinci empat elemen utama yang menjadi kunci keberhasilan pendidikan moral di sekolah: pendidik, materi, metode, dan evaluasi. Pendidik di sekolah, khususnya guru, memainkan peran sentral sebagai pengarah dan teladan moral bagi siswa. Tidak hanya guru, seluruh staf sekolah, termasuk tenaga administrasi dan pengelola fasilitas, juga berkontribusi dalam membangun lingkungan yang mendukung pembentukan karakter siswa. Guru diharapkan memiliki moralitas tinggi untuk menjadi panutan yang baik bagi siswa, karena sikap dan tindakan pendidik sangat memengaruhi internalisasi nilai-nilai moral pada anak didik.
Materi pendidikan moral yang disampaikan meliputi nilai-nilai yang berkaitan dengan hubungan individu dengan dirinya sendiri (seperti kedisiplinan dan tanggung jawab), dengan orang lain (kerjasama, kejujuran, toleransi), dengan alam (kesadaran lingkungan, tidak merusak alam), serta dengan Tuhan (keimanan dan ketakwaan). Nilai-nilai ini dirancang agar siswa tidak hanya memahami pentingnya moralitas, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal metode, jurnal ini menawarkan berbagai pendekatan yang dapat digunakan untuk menanamkan nilai moral. Metode tersebut mencakup inkulkasi nilai atau penanaman nilai melalui bacaan dan cerita, keteladanan melalui perilaku nyata guru dan orang dewasa lainnya, serta klarifikasi nilai yang memberikan ruang bagi siswa untuk memahami dan memilih nilai yang relevan dengan dirinya. Selain itu, fasilitasi nilai dilakukan dengan menyediakan fasilitas yang memungkinkan siswa mempraktikkan nilai moral, seperti tempat ibadah, lingkungan hijau, dan ruang diskusi. Metode lain adalah pengembangan keterampilan moral, di mana siswa dibimbing untuk membiasakan diri melakukan tindakan moral dan menciptakan rencana tindakan moral mereka sendiri, seperti melalui kegiatan sosial dan kantin kejujuran. Evaluasi pendidikan moral dilakukan secara menyeluruh dengan menilai tiga aspek utama: penalaran moral, sikap afektif, dan perilaku moral siswa. Penilaian perilaku moral dianggap paling menantang karena memerlukan observasi jangka panjang dan pemahaman mendalam terhadap konteks siswa. Selain itu, evaluasi juga menggunakan metode seperti skala sikap untuk mengukur karakteristik afektif siswa, serta observasi langsung untuk menilai penerapan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari.
F. Kelebihan dan Kekurangan Jurnal
Kelebihan Jurnal:
1. Membahas isu penting dalam pendidikan, yaitu moralitas, yang sangat relevan dalam konteks pendidikan modern.
2. Penulis berhasil memadukan teori dan hasil penelitian lapangan untuk memberikan panduan yang jelas tentang implementasi pendidikan moral.
3. Penyampaian metode yang beragam memberi fleksibilitas bagi pendidik dalam menerapkan pendidikan moral.
Kelemahan Jurnal:
1. Penelitian lapangan hanya dilakukan di satu sekolah, sehingga mungkin kurang merepresentasikan berbagai kondisi sekolah di Indonesia.
2. Tidak banyak pembahasan terkait tantangan atau hambatan dalam implementasi pendidikan moral di sekolah.
NPM: 2313053163
A. Identitas Jurnal
1. Nama Jurnal: Jurnal Humanika
2. Nomor: 1
3. Halaman: 1-11
4. Tahun Terbit: 2017
5. Judul Artikel: Pendidikan Moral di Sekolah
6. Nama Penulis: Rukiyati
B. Abstrak Jurnal
Abstrak jurnal ini menekankan pentingnya pelaksanaan pendidikan moral secara komprehensif di sekolah. Pendidikan moral bertujuan membentuk generasi yang unggul secara intelektual dan bermoral. Tanggung jawab pendidikan moral terletak pada sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Fokus utama adalah menciptakan desain pendidikan moral yang mencakup pendidik, materi, metode, dan evaluasi secara optimal.
C. Pendahuluan Jurnal
Bagian pendahuluan jurnal ini menyoroti pentingnya pendidikan moral di sekolah sebagai bagian dari upaya membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki nilai-nilai moral yang baik. Sekolah, sebagai bagian dari lingkungan mikrosistem individu, memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan siswa, terutama karena peran signifikan guru dan lingkungan sekolah dalam membentuk karakter. Pendidikan moral di sekolah dipandang sebagai kebutuhan yang mendesak, mengingat besarnya harapan orang tua dan masyarakat terhadap institusi pendidikan untuk membimbing anak-anak menjadi pribadi yang pintar dan bermoral. Selain itu, pendidikan moral dianggap sejalan dengan tujuan utama pendidikan menurut pandangan Aristoteles, yaitu membangun manusia yang unggul secara keseluruhan. Untuk itu, diperlukan pendekatan pendidikan moral yang komprehensif, mencakup berbagai aspek seperti pendidik, materi, metode, dan evaluasi agar hasilnya dapat optimal.
D. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan yaitu kajian teori yang disintesis dengan hasil penelitian lapangan. Teori diambil dari pandangan pakar seperti Kirschenbaum, Lickona, dan Darmiyati Zuchdi. Data lapangan didapatkan dari penelitian sebelumnya (2012) di sebuah sekolah dasar Islam di Sleman.
E. Hasil dan Pembahasan
Bagian hasil dan pembahasan jurnal ini menguraikan dengan rinci empat elemen utama yang menjadi kunci keberhasilan pendidikan moral di sekolah: pendidik, materi, metode, dan evaluasi. Pendidik di sekolah, khususnya guru, memainkan peran sentral sebagai pengarah dan teladan moral bagi siswa. Tidak hanya guru, seluruh staf sekolah, termasuk tenaga administrasi dan pengelola fasilitas, juga berkontribusi dalam membangun lingkungan yang mendukung pembentukan karakter siswa. Guru diharapkan memiliki moralitas tinggi untuk menjadi panutan yang baik bagi siswa, karena sikap dan tindakan pendidik sangat memengaruhi internalisasi nilai-nilai moral pada anak didik.
Materi pendidikan moral yang disampaikan meliputi nilai-nilai yang berkaitan dengan hubungan individu dengan dirinya sendiri (seperti kedisiplinan dan tanggung jawab), dengan orang lain (kerjasama, kejujuran, toleransi), dengan alam (kesadaran lingkungan, tidak merusak alam), serta dengan Tuhan (keimanan dan ketakwaan). Nilai-nilai ini dirancang agar siswa tidak hanya memahami pentingnya moralitas, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal metode, jurnal ini menawarkan berbagai pendekatan yang dapat digunakan untuk menanamkan nilai moral. Metode tersebut mencakup inkulkasi nilai atau penanaman nilai melalui bacaan dan cerita, keteladanan melalui perilaku nyata guru dan orang dewasa lainnya, serta klarifikasi nilai yang memberikan ruang bagi siswa untuk memahami dan memilih nilai yang relevan dengan dirinya. Selain itu, fasilitasi nilai dilakukan dengan menyediakan fasilitas yang memungkinkan siswa mempraktikkan nilai moral, seperti tempat ibadah, lingkungan hijau, dan ruang diskusi. Metode lain adalah pengembangan keterampilan moral, di mana siswa dibimbing untuk membiasakan diri melakukan tindakan moral dan menciptakan rencana tindakan moral mereka sendiri, seperti melalui kegiatan sosial dan kantin kejujuran. Evaluasi pendidikan moral dilakukan secara menyeluruh dengan menilai tiga aspek utama: penalaran moral, sikap afektif, dan perilaku moral siswa. Penilaian perilaku moral dianggap paling menantang karena memerlukan observasi jangka panjang dan pemahaman mendalam terhadap konteks siswa. Selain itu, evaluasi juga menggunakan metode seperti skala sikap untuk mengukur karakteristik afektif siswa, serta observasi langsung untuk menilai penerapan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari.
F. Kelebihan dan Kekurangan Jurnal
Kelebihan Jurnal:
1. Membahas isu penting dalam pendidikan, yaitu moralitas, yang sangat relevan dalam konteks pendidikan modern.
2. Penulis berhasil memadukan teori dan hasil penelitian lapangan untuk memberikan panduan yang jelas tentang implementasi pendidikan moral.
3. Penyampaian metode yang beragam memberi fleksibilitas bagi pendidik dalam menerapkan pendidikan moral.
Kelemahan Jurnal:
1. Penelitian lapangan hanya dilakukan di satu sekolah, sehingga mungkin kurang merepresentasikan berbagai kondisi sekolah di Indonesia.
2. Tidak banyak pembahasan terkait tantangan atau hambatan dalam implementasi pendidikan moral di sekolah.