Pongo tapanuliensis merupakan spesies orangutan yang baru dideskripsikan pada tahun 2017 dan menjadi spesies kera besar paling langka di dunia, dengan jumlah individu liar yang diperkirakan hanya sekitar 767 ekor. Spesies ini terbatas pada tiga wilayah yang sebagian besar merupakan hutan dataran tinggi di kawasan Batang Toru, Sumatera Utara. Fragmentasi habitat menjadi ancaman utama karena aktivitas manusia seperti pertanian, pembukaan lahan, pembangunan infrastruktur, penambangan emas, serta proyek energi panas bumi dan hidro telah memecah habitat menjadi bagian-bagian kecil yang terisolasi. Dampaknya sangat serius, yaitu menurunnya konektivitas antar subpopulasi, berkurangnya peluang penyebaran (dispersal), meningkatnya risiko perkawinan sedarah, serta tingginya angka kematian akibat konflik dengan manusia. Kondisi ini menyebabkan populasi semakin kecil, terisolasi, dan sangat rentan terhadap kepunahan dalam beberapa generasi apabila tidak ada upaya konservasi yang efektif (Meijaard et al., 2021).
Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan aksi konservasi yang komprehensif dengan pelindungan penuh terhadap seluruh habitat yang tersisa. Selain itu, penting untuk menjaga dan memulihkan konektivitas habitat melalui pembangunan koridor hutan agar aliran antar subpopulasi tetap berlangsung (Meijaard et al., 2021). Selanjutnya Riset terbaru juga menunjukkan bahwa pendekatan jangka panjang harus melibatkan masyarakat, karena kesadaran publik membantu perlindungan orangutan Tapanuli, sedangkan translocation (pemindahan satwa) sebaiknya hanya dipakai dalam keadaan penting. Serta mayoritas individu justru perlu dipantau dan dilindungi langsung di habitatnya. Dengan demikian solusi terbaik bukan memindahkan orangutannya, tetapi menyelamatkan dan menyambungkan kembali hutan tempat mereka hidup (Athoriez et al., 2024).
Sumber:
Athoriez, A. P. M., Purwoko, A., & Rauf, A. (2024). Population and Habitat Management Development Strategy in The Tapanuli Orangutan (Pongo tapanuliensis) Conservation Area. Journal of Sylva Indonesiana, 7(02), 148-160.
Meijaard, E., Ni’matullah, S., Dennis, R., Sherman, J., Onrizal, & Wich, S. A. (2021). The historical range and drivers of decline of the Tapanuli orangutan. PLoS One, 16(1), e0238087.
Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan aksi konservasi yang komprehensif dengan pelindungan penuh terhadap seluruh habitat yang tersisa. Selain itu, penting untuk menjaga dan memulihkan konektivitas habitat melalui pembangunan koridor hutan agar aliran antar subpopulasi tetap berlangsung (Meijaard et al., 2021). Selanjutnya Riset terbaru juga menunjukkan bahwa pendekatan jangka panjang harus melibatkan masyarakat, karena kesadaran publik membantu perlindungan orangutan Tapanuli, sedangkan translocation (pemindahan satwa) sebaiknya hanya dipakai dalam keadaan penting. Serta mayoritas individu justru perlu dipantau dan dilindungi langsung di habitatnya. Dengan demikian solusi terbaik bukan memindahkan orangutannya, tetapi menyelamatkan dan menyambungkan kembali hutan tempat mereka hidup (Athoriez et al., 2024).
Sumber:
Athoriez, A. P. M., Purwoko, A., & Rauf, A. (2024). Population and Habitat Management Development Strategy in The Tapanuli Orangutan (Pongo tapanuliensis) Conservation Area. Journal of Sylva Indonesiana, 7(02), 148-160.
Meijaard, E., Ni’matullah, S., Dennis, R., Sherman, J., Onrizal, & Wich, S. A. (2021). The historical range and drivers of decline of the Tapanuli orangutan. PLoS One, 16(1), e0238087.