Nama : Muhammad Faisal
NPM : 2315061111
Kelas : PSTI C
Prodi : Teknik Informatika
A. Artikel tersebut menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi banyak masalah besar dalam penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) sepanjang 2019. Beberapa masalah utama termasuk pelanggaran HAM berat yang masih belum diselesaikan, pembatasan kebebasan sipil, diskriminasi berbasis agama, gender, dan orientasi seksual, serta peningkatan diskriminasi dan pelanggaran kebebasan beragama. Banyak pelanggaran yang dilaporkan oleh Komnas HAM dan LBH Jakarta, termasuk pembatasan kebebasan berekspresi dan beragama, diskriminasi gender, ketidakbertanggungjawaban atas pelanggaran yang dilakukan oleh aparat keamanan, dan pelanggaran hak-hak di Papua. Namun, ada beberapa kemajuan yang menguntungkan, seperti ratifikasi perjanjian internasional yang berkaitan dengan hak asasi manusia dan komitmen untuk meratifikasi konvensi lainnya. Selain itu, gerakan masyarakat sipil dan mahasiswa terus menentang kebijakan yang melanggar hak asasi manusia, memberikan harapan untuk perbaikan di masa depan.
B. Nilai-nilai budaya dan adat istiadat asli Indonesia, seperti musyawarah, mufakat, gotong royong, dan kebersamaan, membentuk karakteristik demokrasi Indonesia yang berbeda. Menurut nilai-nilai ini, diskusi, konsensus, kerja sama, dan solidaritas sosial sangat penting untuk pengambilan keputusan dan kehidupan bersama. Musyawarah dan mufakat, di sisi lain, menunjukkan keinginan kolektif untuk bekerja sama untuk kepentingan bersama. Dengan menggabungkan nilai-nilai dan adat istiadat budaya ini ke dalam praktik demokrasi Indonesia, terbentuk sistem yang berbeda di mana demokrasi dianggap sebagai identitas budaya dan sosial masyarakat selain sebagai sistem politik. Sila pertama Pancasila, prinsip demokrasi yang berke-Tuhanan yang Maha Esa, menekankan betapa pentingnya moralitas dan spiritualitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
C. Praktik demokrasi Indonesia saat ini menunjukkan berbagai upaya untuk menyesuaikan diri dengan Pancasila dan UUD NRI 1945 serta menghormati hak asasi manusia (HAM). Secara umum, Indonesia telah membangun sistem politik berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang menekankan demokrasi, keadilan sosial, dan hak asasi manusia. Dalam kerangka ini, ada beberapa kemajuan yang positif. Ini termasuk pemilihan umum yang bebas dan adil, desentralisasi kekuasaan melalui otonomi daerah, dan adanya lembaga negara yang bertanggung jawab untuk memantau dan melindungi demokrasi dan hak asasi manusia. Tetapi praktiknya masih menghadapi banyak masalah. Seringkali, kasus-kasus pelanggaran HAM, baik baru maupun lama, tidak diselesaikan dengan cara yang adil dan transparan. Kebebasan berpendapat, berkumpul, dan beragama masih dilarang, terkadang dengan alasan keamanan atau ketertiban umum.
D. Suatu keadaan di mana anggota parlemen menggunakan suara rakyat tetapi melakukan agenda politik mereka sendiri yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat sebenarnya adalah pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Anggota legislatif seharusnya bertindak sebagai wakil rakyat yang memperjuangkan kebutuhan dan keinginan konstituen mereka daripada kepentingan pribadi atau kelompok politik tertentu. Salah satu prinsip utama demokrasi adalah bahwa rakyat harus diwakili dan terlibat dalam pemerintahan. Perilaku ini bertentangan dengan prinsip ini. Kebijakan yang dibuat melalui agenda politik yang terbatas seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat, yang dapat menyebabkan kebijakan yang tidak efektif atau merugikan. Transparansi dan akuntabilitas yang lebih baik dalam proses pembuatan kebijakan serta peningkatan partisipasi publik diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Pendidikan politik bagi masyarakat juga penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bagaimana anggota parlemen bekerja.
E. Saya pikir sangat penting bahwa pihak-pihak yang memiliki kekuatan kharismatik yang berasal dari tradisi atau agama dan memanfaatkannya untuk mendorong kesetiaan dan perasaan rakyat, bahkan jika itu berakhir dengan pengorbanan yang tidak jelas, harus mempertimbangkan hal ini dengan sangat hati-hati. Praktik semacam ini sering kali melibatkan manipulasi emosional dan penyalahgunaan kepercayaan rakyat untuk mencapai tujuan yang seringkali bertentangan dengan kepentingan rakyat itu sendiri. Praktik semacam itu menjadi semakin tidak dapat diterima di era demokrasi modern, di mana nilai-nilai demokrasi, termasuk hak asasi manusia, semakin ditekankan. Hak asasi manusia dapat terancam oleh tindakan oknum-oknum yang memiliki kekuatan karismatik yang berakar pada tradisi atau agama yang memanipulasi loyalitas dan emosi masyarakat untuk tujuan yang tidak jelas. Menghormati martabat dan kebebasan setiap orang serta melindungi mereka dari penggunaan kekuasaan adalah penting, menurut konsep hak asasi manusia. Oleh karena itu, mereka yang memiliki kekuasaan kharismatik harus bertanggung jawab dan menghormati hak asasi manusia dalam setiap tindakan dan kebijakan mereka, serta memastikan bahwa kekuasaan mereka tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Karena perilaku ini dapat melibatkan pemaksaan, manipulasi, dan pengabaian terhadap martabat dan otonomi seseorang, maka dapat melanggar prinsip-prinsip hak asasi manusia.