གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Puan Akeyla Maharani Puan Akeyla Maharani

Nama : Puan Akeyla M
NPM : 2315061070

Jurnal tersebut membahas peran media massa dan pers dalam menggambarkan pengaruh nilai-nilai Pancasila dan upaya penanaman nilai-nilai tersebut di masyarakat Indonesia, terutama dalam konteks menekan kejahatan. Jurnal ini mencatat bahwa media massa dan pers memiliki potensi besar untuk membentuk kesadaran dan perilaku masyarakat sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.

Media massa, dengan segala bentuknya seperti cetak, radio, televisi, dan media online, berfungsi sebagai alat untuk menyebarkan nilai-nilai Pancasila, kampanye sosial, dan pendidikan mengenai norma-norma etika yang sesuai dengan Pancasila. Mereka juga dapat mempromosikan pemberitaan positif yang mencerminkan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat.

Penulis juga mencatat bahwa media massa harus menghadapi tantangan dalam peran mereka, termasuk masalah regulasi, perubahan teknologi, dan berbagai kepentingan yang beragam. Namun, penggunaan media massa untuk mencapai tujuan penanaman nilai-nilai Pancasila dan penekanan terhadap kejahatan adalah bagian penting dari upaya untuk membentuk masyarakat yang lebih etis dan bertanggung jawab, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Nama : Puan Akeyla Maharani
NPM : 2315061070

Inti dari artikel tersebut adalah:

1. Artikel membahas pengertian sistem dalam berbagai konteks, baik yang konkret maupun abstrak. Sistem didefinisikan sebagai sekelompok benda atau bagian yang bekerja sama dalam hubungan teratur.

2. Artikel menjelaskan hubungan antara sistem dan filsafat, di mana filsafat merupakan hasil dari berfikir manusia yang mencoba memahami realitas secara holistik.

3. Artikel menguraikan peran dan posisi ilmu filsafat dalam menghasilkan pandangan dunia yang berdasarkan pemikiran teoritis tentang kenyataan alam semesta dan manusia, yang kemudian digunakan sebagai pandangan hidup.

4. Artikel mencatat perbedaan antara sistem filsafat dan Weltanschauung, di mana yang pertama menekankan aspek teoritis, sementara yang kedua merupakan implementasi praktis dari filsafat dalam kehidupan sehari-hari.

5. Pancasila disebut sebagai sistem kefilsafatan yang mengandung elemen-elemen yang saling melengkapi dan membentuk kesatuan dalam pandangan
Nama : Puan Akeyla Maharani
NPM : 2315061070

Dalam video tersebut menjelaskan tentang filsafat pancasila

Pembahasan pancasila secara filsafat adalah membahas makna dan pengertian yang sedalam-dalamnya.Termasuk memahami apa yang ada dibalik makna Pancasila dan pengetahuan terhadap Pancasila sebagai suatu kesatuan, yang memiliki sistem pemikiran rasional, sistematis, terdalam dan menyeluruh.

Pancasila dalam kajian filsafat dibagi menjadi 3 yaitu :

1. Ontologi: adanya pancasila atau hakikat keberadaanya yang memberi terhadap pertanyaan “ apa “

2. Epistemologi : bagaimana cara pancasila berada, yang memberi terhadap pertanyaan “ bagaimana “

3. Aksiologi : ilmu tentang penerapan, aplikasi, manfaat atau kegunaan


Tentang ontologi Pancasila penelitian Notonagoro menyatakan adanya Pancasila dalam tri prakara atau tiga hal. Tiga hal itu adalah: adat- budaya, religi, dan negara

Prakara pertama, adalah Pancasila adat-budaya, yaitu nilai-nilai Pancasila yang ada, hidup dan berkembang, dalam sosio-budaya bangsa Indonesia

Pancasila religi, yaitu nilai-nilai Pancasila yang terkandung, hidup dan berkembang, dalam kepercayaan dan agama-agama di Indonesia.

Prakara ketiga, yaitu Pancasila negara, dalam hal mana nilai-nilai Pancasila telah diangkat ke permukaan secara nasional, dirumuskan secara sistemik dan sistematis, dimasukkan dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai dasar negara, selanjutnya dikembangkan sebagai filsafat


Kajian epistomologi upaya mencari hakikat pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan

Tiga persoalan yang mendasar dalam epistemologi yaitu :
- sumber tentang pengetahuan manusia;
- tentang teori kebenaran pengetahuan manusia;
- tentang watak pengetahuan manusia.


Kajian aksiologi filsafat Pancasila pada hakikatnya membahas tentang nilai praksis atau manfaat suatu pengetahuan tentang Pancasila.

Aksiologi berasal dari kata Yunani axios yang artinya nilai, manfaat, dan logos yang artinya pikiran, ilmu atau teori , Aksiologi adalah teori nilai, yaitu sesuatu yang diinginkan, disukai atau yang baik.
Nama : Puan Akeyla Maharani
NPM : 2315061070


Jurnal tersebut tentang filsafat pancasila


Pancasila merupakan filsafat karena merupakan acuan intelektual kognitif bagi cara berpikir bangsa, yang dalam usaha-usaha keilmuan dapat terbangun ke dalam sistem

Pancasila sebagai suatu sistem filsafat, memiliki dasar ontologis, dasar epistemologis dan dasar aksiologis tersendiri yang membedakannya dengan sistem filsafat lain. Secara ontologis, kajian Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui hakikat dasar dari sila-sila Pancasila

Prinsip-Prinsip Filsafat Pancasila.

a. Kausa Materialis, sebab yang berhubungan dengan materi/bahan , dalam hal ini Pancasila digali dari nilai-nilai sosial budaya yang ada dalam bangsa Indonesia sendiri.
b. Kausa Formalis, maksudnya sebab yang berhubungan dengan bentuknya, Pancasila yang ada dalam pembukaan UUD '45 memenuhi syarat formal (kebenaran formal). c. Kausa Efisiensi, maksudnya kegiatan BPUPKI dan PPKI dalam menyusun dan merumuskan Pancasila menjadi dasar negara Indonesia merdeka.
d. Kausa Finalis, maksudnya berhubungan dengan tujuannya, tujuan diusulkannya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka.

Inti atau esensi sila-sila Pancasila meliputi:

a. ke-Tuhanan, yaitu sebagai kausa prima;
b. kemanusiaan, yaitu makhluk individu dan makhluk sosial;
c.kesatuan, yaitu kesatuan memiliki kepribadian sendiri;
d. kerakyatan, yaitu unsur mutlak negara, harus bekerja sama dan gotong royong; dan
e. keadilan, yaitu memberikan keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi haknnya

Filsafat Pancasila memiliki peran penting dalam pendidikan di Indonesia.

pendidikan adalah kegiatan yang melibatkan guru, murid, kurikulum, evaluasi, administrasi yang secara simultan memproses peserta didik menjadi lebih lebih bertambah pengetahuan, skill, dan nilai kepribadiannya dalam suatu keteraturan kalender akademi

Pendidikan di Indonesia, dengan panduan Filsafat Pancasila, bertujuan untuk menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga berakhlak mulia, bertanggung jawab sosial, dan memiliki komitmen terhadap persatuan dan keadilan. Prinsip-prinsip Pancasila menjadi panduan moral dalam pendidikan dan menciptakan dasar ideologis yang kuat bagi sistem pendidikan Indonesia.

Filsafat pancasila juga penting untuk membangun bangsa yang berkarakter

Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti "to mark" atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

Dari pengertian di atas dapat dimaknai bahwa pendidikan karakter merupakan suatu proses penanaman perilaku yang didasarkan pada budi pekerti yang baik sesuai dengan kepribadian luhur bangsa Indonesia yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila.

Secara epistemologis berdasarkan sebagai suatu pengetahuan intern struktur logis dan konsisten implementasinya. Secara aksiologis bedasarkan pada yang terkandung di dalamnya, hirarki dan struktur nilai, di dalamnya konsep etika yang terkandung. Dasar ontologis Pancasila sebagai sistem filsafat bisa diinterpretasikan bahwa adanya negara perlu dukungan warga negara. Kualitas negara sangat bergantung pada kualitas warga negara. Kualitas warga negara sangat erat berkaitan dengan pendidikan. Hubungan ini juga menjadi timbal-balik karena landasan pendidikan haruslah mengacu pada landasan negara. Esensi landasan negara harus benarbenar memperkuat landasan pendidikan untuk mencapai tujuan bersama adanya keserasian hubungan antara negara dengan warga negara.
Nama : Puan Akeyla M
NPM : 2315061070

1. Penolakan jenazah korban COVID-19 di Jawa Tengah adalah tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, terutama nilai-nilai kemanusiaan . Kasus ini mencerminkan kurangnya simpati dan empati masyarakat di tengah pandemi yang seharusnya kita saling tolong-menolong dan pengertian satu sama lain.

Korelasinya dengan implementasi nilai Pancasila adalah: tindakan tersebut bertentangan dengan semangat persatuan dan kesatuan yang Pancasila anut (solidaritas masyarkat yang memberi pengertian satu sama lain), serta melanggar nilai kemanusiaan yang menjadi landasan Pancasila.

2. Sebagai mahasiswa, ada beberapa saran dan solusi yang dapat diambil untuk mencegah terulangnya kasus semacam ini:

- Edukasi: Melakukan kampanye edukasi mengenai pentingnya empati, kesetaraan, dan tugas kemanusiaan di tengah pandemi.

- Pelibatan Masyarakat: Mendorong partisipasi masyarakat dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan penanganan jenazah korban COVID-19 untuk mencapai konsensus yang lebih baik.

- Tanggung Jawab Sosial: Membangun kesadaran akan tanggung jawab sosial yang kita miliki sebagai warga negara untuk mendukung sesama dalam situasi darurat seperti pandemi.

3. Penolakan jenazah korban COVID-19 sebenarnya bisa dianggap melanggar Sila ke-2 Pancasila, yaitu "Kemanusiaan yang adil dan beradab." Walaupun jenazah tersebut memang sudah tidak bernyawa, tindakan tersebut menunjukkan kurangnya sikap kemanusiaan dan empati terhadap keluarga korban. Pancasila menekankan pentingnya perlakuan yang adil dan beradab terhadap semua individu, termasuk yang telah meninggal, serta keluarganya. Oleh karena itu, penolakan jenazah seperti ini dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap nilai-nilai Pancasila.