Posts made by Okta Saputri 2213031011

EKONDUS A2025 -> e-journal

by Okta Saputri 2213031011 -
Nama: Okta Saputri
NPM: 221301011

Jurnal ini memperkuat pemahaman bahwa peran regulator adalah sebuah tindakan penyeimbangan (balancing act) yang sangat politis dan kompleks, yaitu antara kepentingan Konsumen (harga yang adil dan layanan yang berkualitas), Investor (profitabilitas dan kepastian hukum), dan Pemerintah (kebijakan publik dan pendapatan). Jurnal ini secara implisit menantang peneliti untuk tidak hanya mengukur hasil dari keseimbangan tersebut, tetapi juga untuk menyelidiki proses institusional yang memungkinkan keseimbangan itu tercapai, terutama melalui pendekatan lintas industri yang dianjurkan untuk mengatasi keterbatasan studi yang bersifat "silo sektoral."

EKONDUS A2025 -> DISKUSI

by Okta Saputri 2213031011 -
Nama: Okta Saputri
NPM: 2213031011

Tanggapan saya terhadap Video ini, secara tepat menyoroti urgensi tantangan Revolusi Industri 4.0, yang menuntut pergeseran SDM ke arah keterampilan berbasis teknologi, otomatisasi, dan data. Strategi "link and match" antara pendidikan vokasi (SMK) dan industri yang dibahas adalah kunci solusi yang paling logis untuk memastikan lulusan memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar. Namun, penting untuk dicatat bahwa video ini dipublikasikan pada akhir tahun 2020. Artinya, tantangan yang dibahas saat itu kini telah berakselerasi secara eksponensial, jika dulu fokusnya adalah pengenalan pemrograman, kini tuntutannya sudah beralih ke AI, data analytics, dan cybersecurity. Pesan dalam video ini menjadi jauh lebih mendesak hari ini. Tantangan sebenarnya tidak hanya terletak pada konsep, tetapi pada implementasi dan skalabilitasnya, terutama dalam hal peningkatan kualitas guru secara merata dan berkelanjutan, pemerataan fasilitas teknologi di seluruh sekolah, serta kecepatan adaptasi kurikulum untuk mengimbangi industri yang berubah cepat. Pada akhirnya, video ini adalah pengingat kuat tentang bonus demografi 2035, yang merupakan pedang bermata dua: jika persiapan SDM ini berhasil, Indonesia akan melesat, namun jika gagal, kita akan menghadapi masalah sosial yang sangat besa

EKONDUS A2025 -> e-journal

by Okta Saputri 2213031011 -
Nama: Okta Saputri
NPM: 2213031011

Setelah membaca jurnal tersebut dapat disimpulkan bahwa diferensiasi merek (brand differentiation) memainkan peran penting dalam menentukan strategi penetapan harga produk dan keberhasilan perusahaan dalam pasar yang kompetitif.
Jurnal ini menegaskan bahwa ketika produk di pasar semakin homogen, perusahaan perlu membangun keunikan merek melalui citra, kualitas produk, inovasi, dan pengalaman layanan agar mampu menarik perhatian konsumen. Diferensiasi merek yang kuat meningkatkan nilai persepsi konsumen, sehingga mereka bersedia membayar harga lebih tinggi dibanding produk serupa dari pesaing. Hal ini membuat perusahaan tidak harus terjebak dalam perang harga ketika kompetitor menurunkan harga.
Selain itu, di dala jurnal ini menekankan bahwa diferensiasi merek dapat:
a) Mengurangi sensitivitas harga konsumen karena mereka lebih fokus terhadap kualitas, nilai emosional, dan identitas merek daripada sekadar harga.
b) Mendorong perusahaan untuk merancang strategi harga premium bagi segmen konsumen tertentu, sekaligus tetap dapat menarget pasar yang lebih luas dengan strategi harga berbeda.
c) Membantu perusahaan menjaga keberlanjutan bisnis melalui loyalitas konsumen dan citra merek yang kuat.
Contoh yang diangkat seperti Apple dan Hermès menunjukkan bahwa keberhasilan strategi harga tinggi sangat terkait dengan keunikan merek, nilai emosional, dan eksklusivitas yang dibangun.

EKONDUS A2025 -> DISKUSI

by Okta Saputri 2213031011 -
Nama: Okta Saputri
NPM: 2213031011

Menjelaskan 10 strategi penetapan harga yang praktis dengan contoh dunia nyata. Setiap strategi dijelaskan dengan kelebihan, kekurangan, dan aplikasi bisnis. Berikut adalah ringkasan singkat dari masing-masing strategi, berdasarkan konten video

1. Competition-Based Pricing Strategy (Penetapan Harga Berdasarkan Kompetitor): Harga ditetapkan berdasarkan harga pesaing. Contoh: Toko ritel seperti Walmart yang menyesuaikan harga produk sehari-hari agar kompetitif. Kelebihan: Mudah diterapkan; kekurangan: Mengabaikan biaya internal.

2. Cost-Plus Pricing Strategy (Penetapan Harga Berdasarkan Biaya Plus Margin): Harga = biaya produksi + margin keuntungan. Contoh: Perusahaan manufaktur seperti Ford yang menambahkan margin tetap pada biaya mobil. Kelebihan: Sederhana dan memastikan keuntungan; kekurangan: Tidak mempertimbangkan permintaan pasar.

3. Freemium Pricing Strategy (Model Freemium): Produk dasar gratis, fitur premium berbayar. Contoh: Spotify (musik gratis dengan iklan, premium tanpa iklan). Kelebihan: Menarik pengguna baru; kekurangan: Sulit mengkonversi ke pembayaran.

4. Dynamic Pricing Strategy (Penetapan Harga Dinamis): Harga berubah berdasarkan waktu, permintaan, atau data real-time. Contoh: Uber yang menaikkan tarif saat jam sibuk. Kelebihan: Maksimalkan pendapatan; kekurangan: Bisa membuat pelanggan frustrasi.

5. Skimming Pricing Strategy (Penetapan Harga Skimming): Harga tinggi awal untuk segmen premium, lalu turun. Contoh: Apple dengan iPhone baru yang mahal, kemudian diskon. Kelebihan: Maksimalkan keuntungan awal; kekurangan: Risiko penjualan lambat.

6. Penetration Pricing Strategy (Penetapan Harga Penetrasi): Harga rendah untuk masuk pasar, lalu naik. Contoh: Amazon yang menawarkan harga murah untuk menarik pelanggan. Kelebihan: Cepat merebut pangsa pasar; kekurangan: Margin keuntungan rendah awal.

7. Economy Pricing Strategy (Penetapan Harga Ekonomi): Harga rendah dengan fokus efisiensi biaya. Contoh: Aldi yang menawarkan produk murah dengan kemasan sederhana. Kelebihan: Menjangkau konsumen sensitif harga; kekurangan: Persepsi kualitas rendah.

8. Premium Pricing Strategy (Penetapan Harga Premium): Harga tinggi untuk menekankan kualitas eksklusif. Contoh: Rolex yang menjual jam mahal untuk citra mewah. Kelebihan: Meningkatkan nilai merek; kekurangan: Risiko penjualan terbatas.

9. Bundle Pricing Strategy (Penetapan Harga Bundel): Menjual paket produk dengan harga diskon. Contoh: Microsoft Office yang membundel Word, Excel, dll. Kelebihan: Mendorong pembelian lebih banyak; kekurangan: Pelanggan mungkin hanya butuh satu item.

10. Psychological Pricing Strategy (Penetapan Harga Psikologis): Menggunakan taktik seperti harga untuk terlihat lebih murah. Contoh: Toko seperti Target. Kelebihan: Meningkatkan persepsi nilai; kekurangan: Efeknya bisa berkurang jika terlalu jelas.

Video ini menekankan bahwa tidak ada strategi satu ukuran untuk semua; pilihan tergantung pada industri, target pasar, dan tujuan bisnis. Misalnya, perusahaan teknologi seperti Spotify sering menggunakan freemium untuk pertumbuhan cepat, sementara merek mewah seperti Apple memilih skimming untuk membangun eksklusivitas. Kunci sukses adalah menggabungkan strategi (misalnya, dynamic dengan psychological) dan memantau data pasar. Jika menerapkan ini, pertimbangkan etika seperti dynamic pricing yang bisa dianggap tidak adil jika tidak transparan